Laras Susanti: Pendidikan Orang Tua Rendah, Menjadi Motivasi Meraih IPK 4,00

Abimanyu  , Bandung
22/02/12

dilihat: 210 kali           Komentar: 3

Laras Susanti: Pendidikan Orang Tua Rendah, Menjadi Motivasi Meraih IPK 4,00
Foto: facebook Laras Susanti

Congratulation !! Bersama dua rekannya yang lain Laras Susanti berhasil meraih IPK 4,00, kedua rekannya tersebut adalah Donna Ardelia dan Fani Phisca P yang sama-sama dari Fakultas Hukum UGM angkatan 2008, sedangkan Laras sendiri merupakan angkatan 2007.

Mahasiswi kelahiran Tegal, 27 Juli 1988 ini memang tinggal dengan pakdenya karena kedua orangtuanya bercerai. Sebelum masuk Fakultas Hukum waktu itu ibunya sempat menyarankan agar bekerja setelah lulus SMA. Namun untunglah pakdenya saat itu tidak setuju dan menyarankan Laras untuk kuliah. Kala itu Laras harus menggadaikan rumah terlebih dahulu untuk bisa memperoleh pinjaman uang dari bank setelah dinyatakan diterima di UGM.

“Waktu itu saran pakde kalau dengan studi nanti rejeki itu akan ada,”kenang Laras. Diakui Laras, kecintaannya pada ilmu hukum sudah tertanam ketika SMA. Penegakan hukum di Indonesia yang tebang pilih dan tidak adil membuatnya tergugah untuk tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan hukum kita saat itu.

Hal ini dipertegas lagi dengan pengalaman pribadinya ketika mengurus surat kelengkapan beasiswa yang harus mendapat pungutan liar mulai dari Kelurahan hingga Kepolisian. Untuk itulah ketika dinyatakan diterima di Fakultas Hukum UGM, Laras mengaku tidak menyia-nyiakannya. Selama studi, Laras mengungkapkan beberapa kunci suksesnya.

Apa saja kunci suksesnya? Manajemen waktu, rajin membaca berita, dan sering berdiskusi. “Kita harus bisa membagi waktu, rajin baca berita dan berdiskusi. Tapi dari ketiga hal itu menurut saya kunci sukses yang lebih penting yaitu cinta dengan ilmu yang kita tekuni,”jelas mahasiswi yang sempat menjadi juara 1 tingkat nasional pada Debat Mahkamah Konstitusi tahun 2011 itu.

Pengalaman pendidikan kedua orang tuanya yang kurang menguntungkan nampaknya juga menjadi penyemangat bagi Laras untuk tidak menyia-nyiakan waktu studinya di Fakultas Hukum. Maklum, bapak Laras hanya tamat SMP, sedangkan ibunya tidak tamat SD.

Selain kuliah, Laras aktif di beberapa organisasi. Ia adalah Kepala Departemen Kajian Strategis Dema Justicia Fakultas Hukum, Menteri Kajian Strategis BEM KM UGM (2010), dan peneliti PUKAT FH UGM. Tidak menyerah dengan kondisi keluarganya yang miskin, Laras pun rajin mencari beasiswa selama studi. Hasilnya tidak sia-sia. Ia mendapatkan beberapa beasiswa yang menyediakan bantuan biaya pendidikan hingga uang jajan.

Sama halnya dengan Donna, Laras mengaku dengan nilai IPK 4,00 tidak serta-merta membuat dirinya berpuas diri. Bahkan, dia sudah siap mencari beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Menjadi dosen di Fakultas Hukum rupanya kini menjadi angan-angannya. “Dari Fakultas Hukum inilah lahir para penegak hukum yang kiprahnya dinanti masyarakat luas,”tegas pengarang buku Belajar Merawat Indonesia tersebut. 

Berbagi cerita?Kirim ceritamu ke kirim.ceritamu.com

3 total komentar

Jangan sampai kelewatan hadiah baru! Yuk lihat terus kebawah!

Close