Menolak jadi Korban Nasib

Doni  , Jakarta
22/02/12

dilihat: 111 kali           Komentar: 1

Menolak jadi Korban Nasib

Barangkali Anda pernah mempunyai dua orang teman yg mereka adalah bersaudara, diasuh oleh orang yg sama dg pola yg sama, namun memiliki nasib yg berbeda. Saya mempercayai bahwa bagaimanapun kita ini merupakan bentukan dari masa lalu kita, yakni akibat kejadian baik maupun buruk yg kita alami. 

 
Secara normal, kita menemui orang2 menjadi kriminal sebagai hasil dari pola didikan yg salah dari orang tua dan juga lingkungan pergaulan yg menjerumuskan. Saya katakan secara normal karena kebanyakan orang cenderung ‘membiarkan dirinya’ dibentuk oleh pengalaman masa lalunya, ke arah yg baik ataupun buruk. Itulah kenapa masyarakat kita masih amat memperhatikan latar belakang keluarga dan lingkungan pergaulan seseorang, karena dari situlah kita membentuk prediksi awal tentang perilaku dan bahkan potensi sukses dari seseorang.
 
Apakah itu salah? Tidak juga. Cuman rasanya kok tidak sreg ya kalo kita memposisikan diri sebagai ‘korban’ bentukan lingkungan & pergaulan. Kalo itu semua mengarahkan kita pada kebaikan dan potensi sukses yg lebih besar, maka ya tidak masalah. Namun bagaimana halnya bila kita inginkan yg terbaik dari diri kita, sementara kita ‘kebetulan’ dibesarkan di lingkungan keluarga yg berantakan dan terlanjur miliki lingkungan pergaulan yg salah? 
 
Yang banyak terjadi adalah kita dengan tanpa disadari telah menjadi orang yang kurang percaya diri, mudah berburuk sangka, suka mengumpat, impulsif tak karuan dalam berbelanja, tidak ragu untuk berbohong dan berbuat curang, tak berdaya untuk bangkit dari kegagalan, dst, …. yg ternyata semua mentalitas penghambat sukses itu adalah bentukan dari lingkungan pergaulan dan cara kita dididik semasa kecil.
 
Bob Sutton, penulis buku The No Asshole Rule menjawab pertanyaan “Are assholes born or made?”dengan:
 
“I am sure that there are some people who are genetically pre-disposed to be nasty and there are some people who — perhaps as a result of emotional and/or physical abuse during childhood — turn into assholes. But there is also strong evidence that, no matter what our “personality” is, we all can turn into assholes under the wrong conditions.”
 
Pertanyaannya: jika kita sudah kadung dibesarkan di lingkungan yg kurang kondusif untuk sukses, apa yg bisa kita lakukan utk mengentas dan mencerahkan diri kita ini?
 
Oprah Winfrey, salah seorang dari 100 orang paling berpengaruh di abad 20, memiliki masa kecil yg miskin dan penuh dg ketidakberuntungan, mulai dari pemerkosaan oleh sepupu di usia sembilan tahun hingga seterusnya berkali-kali mendapatkan pelecehan seksual oleh teman keluarga dan paman. Ketika itu yg dia terus jalani dan tidak tahu alternatif yg lain, maka dia pun berkeyakinan bahwa yg namanya hidup itu ya seperti itu; wajar, “This is the way life is.”
 
Namun dia akhirnya menyadari bahwa yg membentuk kita ini sebenarnya bukanlah kejadian atau pengalaman yg kita alami, melainkan bagaimana cara pandang dan keyakinan diri yg terbentuk terkait dg itu semua. Atas semua pengalaman yg kita alami, Oprah mengatakan, “not only do you have the right to do whatever you want, you have the right to change your mind.” Dan dia baru menyadari itu di usianya ke-37.
 
It doesn’t matter who you are, where you come from. The ability to triumph begins with you. Always.
 
Kondisi sekeliling kita memang memprovokasi diri ini untuk membentuk keyakinan tertentu. Namun sesungguhnya kita bisa memilih terkait keyakinan dan cara pandang semacam apa yg hendak kita bentuk dari pengalaman dan lingkungan yg kita punya.
 
Cara pandang dan keyakinan adalah pembeda antara hidup yg penuh guna dan bahagia dan hidup yg merana dan tak punya makna. Keyakinan pada gilirannya akan menjadi pembeda pada ragam tindakan dan ekspektasi seseorang.
 
Bagi mereka yang patuh pada agama, dunia ini bagaikan penjara karena beragam jalan kesenangan dibatasi. Namun jangan salah, tidak lantas dia jadi sengsara. Keyakinan bahwa segala sesuatu ada balasan, dan bahwa kampung akhirat itu jauuh lebih baik ketimbang metropolitan dunia membuat seseorang yang taat pada Tuhan memiliki kemantapan hati dan kebahagiaan dalam dirinya. Bagaimana tidak, dia tau bahwa kemampuan menunda kesenangan akan dibalas dengan apa2 yg bahkan lebih baik dari imajinasi terliar dia tentang apa itu kesenangan. Tidak hanya itu, dia pun menemukan dan merasakan bahwa menjalani takwa ternyata mendatangkan kebahagiaan, bahwa mencintai Tuhan dan beribadah kepada-Nya ternyata mendatangkan kenikmatan yg tak terbeli dalam hati.
 
Manusia memang bukanlah makhluk yg acak, segala tindakannya didasarkan atas bentuk cara pandang dan keyakinannya. Sayangnya, banyak yang kemudian enggak kepikir untuk mengubah keyakinan penghambat sukses yg dimiliki. Dan bahkan sejak awal, seseorang bisa jadi tak menyadari bagaimana keyakinan penghambat sukses itu bisa terbentuk, saking otomatis dan terjadi begitu saja.
 

Berbagi cerita?Kirim ceritamu ke kirim.ceritamu.com

1 total komentar

Jangan sampai kelewatan hadiah baru! Yuk lihat terus kebawah!

Close