Shanty memang 'suka' dengan Rama, keduanya bak Dewa dan Dewi dari kahayangan hanya sayangnya Rama sudah mempunyai kekasih. Kebetulan pula mereka berdua kuliah di kampus yang sama, jadi hampir setiap hari mereka berjumpa, bahkan setiap makan siang di kantin tidak pernah terlewatkan oleh mereka.
Atensi Shanty sangat besar terhadap Rama, segala keperluan Rama kalau bisa selalu disiapkan oleh Shanty, jadi tidak aneh kalau beberapa teman mereka telah menganggap bahwa Shanty dan Rama adalah dua sejoli yang sedang menjalin cinta. Ternyata itu hanya 'ilusi' dari Shanty, isi hati dan cintanya sudah terlanjur diberikan kepada Rama dan nyaris hati Shanty 'tertutup', celakanya Rama masih berhubungan kekasihnya yang kuliah di kota sejuk di Jawa Barat. Shanty hidup bagaikan 'mimpi' dan setiap hendak tidur dia baru menyadari 'kenyataan', untuk 'melepas' Rama dia sudah kadung mencintai, jadi setiap hari Shanty menjalani kehidupan cintanya seperti diawang-awang. Sampai kapan keadaan ini akan berakhir ? Shanty sendiri yang harus memutuskannya. Cinta memang bukan logika tapi bagaimanapun logika tetap harus digunakan.