Dunia terasa gelap sewaktu aku melihat dengan mata-kepala sendiri, Andre tengah bercengkrama dengan Wanita Lain. Aku dan Andre telah melampaui kehidupan bersama hingga memiliki 2 orang putra yang lucu2, riak2 gelombang pasang-surut rumah tangga pernah aku jalani dan relatif semua berjalan lancar. Rasanya kebahagiaan selalu berada di titik puncak kehidupan perkawinanku.
Dada terasa sesak, ingin aku memprotes Yang Maha Kuasa, mengapa ini terjadi padaku ?, apa salahku ?, lama aku bermenung, kehidupanku menjadi agak 'hambar' meskipun Andre biasa-biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa2. Waktu aku 'interogasi' Andre tentang WIL-nya itu, dia hanya menjawab klise, si dia adalah teman rekan kerjanya titik. Mau berpisah ? 2 anak2ku masih butuh figur ayah kendati secara pribadi aku sudah siap secara ekonomi untuk hidup sebagai single parent.
Pada sessi akhir konseling, aku terhenyak, aku baru menyadari bahwa kekuatan EGO-ku teryata sangat mengganggu Andre, aku selalu 'mengatur' peri kehidupannya, mulai dari warna baju hingga suksesi di kantornya. Aku memang dekat dengan ibu-ibu atasan Andre. Sekarang aku baru sadar bahwa Andre perlu 'ruang' untuk mengaktualisasi dirinya, tidak perlu bantuanku, supportku cukup hanya ucapan "semoga sukses", seperti ucapan WIL-nya tempo hari.