DR. Ing. H. Fauzi Bowo
| Dilihat: 913 kali Jumlah Review: 26 |
Berita & Cerita TerkiniMenjelang pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) DKI Jakarta, diskusi calon gubernur dan wakil gubernur banyak digelar. Namun dalam beberapa kali kesempatan, pasangan Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli (Nara) jarang hadir.
Foke sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan sebagai Gubernur DKI. Sedangkan Nara tidak diperbolehkan sering ikut debat cagub.
"Pak Fauzi sibuk, sedangkan saat saya mau mewakili selalu tidak diberi izin sama beliau," ujar Nara usai acara pembukaan diklat divisi tanggap darurat DPP Partai Demokrat di Bumi Perkemahan dan Wisata Cibubur, Bogor, Jawa Barat.
Foke enggan mengomentari perihal ketidakhadirannya dalam acara debat dengan kandidat lainnya. Ia akan muncul bila saatnya tiba. "Sudah rindu sama bang kumis, biarlah mereka rindu, nanti kalau sudah waktunya juga bertemu," ujar kader SBY itu.
(Sumber : Inilah.com)
Info TambahanFauzi Bowo adalah Gubernur DKI Jakarta pertama yang dipilih secara demokratis. Ia mampu mengalahkan pesaingnya yakni Adang Daradjatun dalam pemilikada tahun 2007 lalu. Dengan dukungan hampir seluruh parpol, Fauzi Bowo atau yang sering disapa dengan Bang Foke, mampu meraih suara terbanyak dan berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta.
Kini Fauzi Bowo kembali mencalonkan diri menjadi gubernur, ia berdampingan dengan Nachrowi Ramli. Pasangan ini diusung oleh Partai Demokrat pimpinan
Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa partai lainnya.
Biografi SingkatFauzi Bowo adalah putra betawi yang lahir dari pasangan H Djohari Bowo bin Adipoetro dengan Hj Nuraini binti Abdul Manaf. Fauzi lahir di Jakarta 10 April 1948 dan darah Betawi berasal dari garis keturunan sang Ibu. Kakek dari Fauzi Bowo yaitu KH Abdul Manaf bin Achmad Jabar, adalah seorang Tokoh Nahdlatul Ulama di Jakarta yang berprofesi sebagai pengusaha. Sementara sang Ayah yaitu H Djohari Bowo bin Adipoetro berasal dari Malang, Jawa Timur.
Sejak kecil, ia terbiasa dengan kehidupan yang islami. Sang kakek kerap mengajaknya mengunjungi para ulama kala itu. Untuk memperdalam aqidah islam kepada cucu kesayangannya itu, Fauzi pun dikirim ke tokoh ulama terkemuka seperti KH Syafei Al Hadzami dan Habib Sami Alatas. Bahkan, dalam usia 10 tahun, dirinya telah menunaikan ibadah Haji ke Mekkah bersama keluarganya.
Meski sosoknya kental dengan ajaran islam, namun Fauzi Bowo menyelesaikan pendidikan sejak SD hingga SMA di sekolah khatolik. Dari TK dan SD ia bersekolah di St Bellarminus, SLTP dan SLTA di Kanisius. Lulus SMA, Fauzi pernah kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 1966/1967. Kemudian pada usia 19 tahun, Fauzi kuliah di Technische Universitat Braunschweig, Jerman. Saat lulus sarjana muda, Fauzi belajar ilmu politik di Berlin, lalu belajar sosiologi di Zurich. Setelah itu ia kembali melanjutkan kuliah arsitekturnya dan mendapat gelar master untuk Teknik Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari Universitat Braunschweig tahun 1976.
Setelah mendapatkan gelar Master, ia kembali ke Indonesia dan mulai berkarir di Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta tahun 1978. Sewaktu berkarir di Pemprov DKI, Fauzi Bowo mendapat kesempatan kembali untuk belajar dan akhirnya pada tahun 2000, Fauzi Bowo mendapat gelar Doktor Ingenieur (DR Ing) dari Fachberiech Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman, dengan disertasi berjudul Prinsip dan Panduan Dasar untuk Pengembangan Ruang Metropolitan dan Ruang Megapolitan Jakarta dan lulus dengan predikat cum laude.
Usai menyelesaikan pendidikannya, Fauzi Bowo kembali berkarir di bidang birokrasi. Tahun 1978, ia menjadi staf ahli Gubernur DKI Jakarta, kemudian tahun 1979 dirinya mendapat mandat untuk mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Biro Daerah DKI Jakarta. Meski telah menjadi birokrat, karir di bidang akademis tidak ia tinggalkan. Ia sempat mengajar sebagai dosen di Universitas Indonesia, namun tidak lama. Tahun 1982 ia dianggkat menjadi Kepala Biro Kepala Daerah DKI Jakarta dan karirnya di akademis pun ditinggalkannya.
Selama 13 tahun ternyata prestasi kerja Fauzi Bowo terus meningkat. Oleh karena itu, pada masa kepemimpinan Gubernur Surjadi Soedirdja (1992-1997), ia dipercaya untuk menduduki jabatan Kepala Dinas Pariwisata. Karena pretasinya yang terus gemilang, pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso (1997-2002), ia diserahi jabatan sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda). Sebenarnya Fauzi Bowo memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai gubernur periode 2002-2007.
Mantan dosen Universitas Indonesia periode 1977-1984 ini sempat didaulat pendukungnya menjadi calon gubernur 2002. Namun karena kebijaksanaannya dalam mengikuti proses yang begulir, akhirnya dia memilih berpasangan dengan Sutiyoso yang dicalonkan Fraksi PDI-P dan Golkar. Keputusan pria yang akrab disapa Bang Fauzi itu sempat membuat Fraksi PAN dan beberapa partai kecil lainnya yang mengajukan dia sebagai calon gubernur kecewa. Namun saat mencalonkan diri pada Pilkada 2007, dukungan terhadap Fauzi malah semakin bertambah. Sebanyak 20 partai politik yang tergabung dalam Koalisi Bersama mendukung pria yang mahir berbahasa Inggiris, Belanda, dan Jerman itu.
Slogan Jakarta untuk Semua ternyata mampu menarik simpatik masyarakat ibu kota. “Untuk membangun Jakarta, serahkan kepada ahlinya dan kepada yang sudah berpengalaman. Jika tidak, kehancuran tinggal menunggu waktu.” Kalimat tersebut diucapkan berulang-ulang oleh Fauzi saat kampanye dan terbukti mampu mendulang suara sekaligus memenangkan pilkada 8 Agustus 2007 lalu. Alhasil, Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto terpilih sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012.
Begitu ditetapkan sebagai pemenang pilkada, pria yang memiliki kegemaran mengoleksi motor gede ini berjanji akan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Bahkan ia berjanji tidak akan melakukan diskriminasi dalam pelayanan publik kepada seluruh warga ibu kota. Semua warga ibu kota berhak atas semua pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Oleh karena itu, apabila terjadi perlakukan istimewa kepada salah satu golongan saja, maka sistem pemerintahan ke depan tidak akan berjalan dengan baik.
(Sumber : beritajakarta.com)