Firman Utina

Dilihat: 345 kali             Jumlah Review: 2

Firman UtinaFirman Utina
Berita & Cerita Terkini

Cerita tentang Bahan bakar minyak (BBM) yang direncanakan akan mengalami kenaikan mulai awal bulan April 2012 mendatang, tentunya membuat semua elemen masyarakat berkomentar keras tentang hal yang satu ini. Seperti pemain bola pun menentang adanya kenaikan BBM.

Nah kalau yang satu ini, mungkin agak berbeda. Cerita dari seorang atlit, menarik juga kan untuk disimak komentarnya? Ya, kali ini komentar dilontarkan oleh punggawa Tim Nasional Indonesia, Firman Utina. Menurut, gelandang klub Sriwijaya FC ini, dirinya sama sekali tidak setuju dengan kenaikan BBM tersebut.

Dirinya menilai, jika kenaikan itu akan menyulitkan golongan masyarakat ekonomi bawah. “Kalau situ ditanya, situ engga mau kan? Saya juga”, kata Firman yang ditodong pertanyaan seperti itu ketika menghadiri pembukaan Danone Nations Cup Indonesia 2012 hari Selasa (27/3) di PPHUI, Kuningan Jakarta.

Dalam harapannya, Firman mengutarakan keinginannya agar golongan masyarakat yang membutuhkan atau tidak mampu bisa mendapat keringanan dalam bentuk lain jika kenaikan BBM tetap terjadi. Ia memberi contoh seperti diskon-diskon harga.

Firman Utina dihadirkan dalam pembukaan Danone Nations Cup Indonesia 2012, karena statusnya sebagai salah satu pemain sepakbola terbaik Indonesia. Mantan Gelandang Arema Malang itu diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada para pemain muda yang akan berlaga di ajang kompetisi ini.

Selain Firman, turut hadir juga ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husin, Coach Timo Scheunemann, serta perwakilan dari Kemenpora dan Koni. (HI)

Biografi Singkat

Firman lahir tanggal 15 Desember 1981 di sudut sebuah gang di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Tikala, Manado, Sulawesi Utara. Di tempat itulah Firman Utina menghabiskan masa kecilnya dengan bermain bola. Daerah ini terkenal sebagai kawasan banjir. Itulah sebabnya susah mendapatkan dokumentasi masa kecil Firman. Hampir seluruh foto masa kecil Firman tak ada yang tersisa akibat sapuan banjir.

Firman saat berusia 15 tahun selalu bekerja keras dengan membagi waktunya antara bekerja dengan bermain sepakbola.Firman kecil bekerja mencuci mobil dan sore hari bermain sepakbola, uang dari upahnya mencuci mobil ia tabung untuk bekal berlatih sepakbola yang jaraknya agak jauh dari rumahnya.

Firman Utina memulai karir sepakbolanya di klub Sepakbola Indonesia Muda dan kemudian pindah ke klub lain bernama Bina Taruna. Berkat kerja kerasnya untuk terus rajin berlatih membuat dirinya menjadi semakin mahir dalam permainan sepakbolanya. Sehingga dalam kurun waktu tiga tahun bersama klub Bina Taruna.Ulet dan terus giat berlatih membuat dia mampu terus memperbaiki penampilannya. Hanya tiga tahun bersama klub amatir tersebut, ia direkrut Persma Junior, salah satu tim semi-profesional yang ada di daerahnya saat itu.

Proses masuk ke Persma Junior terbilang unik. Hal itu karena ia tidak melalui mekanisme seleksi layaknya pemain lain. Sebab ia direkrut setelah mampu mencetak 12 gol dalam satu pertandingan pada turnamen klub lokal di Manado. Torehan gol yang cukup banyak dalam satu laga itu sampai ke kuping pelatih Persma Manado saat itu, Benny Dollo.

Penasaran dengan sukses salah satu striker lokal yang mampu mencetak gol selusin dalam satu laga, pelatih yang akrab di sapa Bendol tersebut langsung memerintahkan anggotanya menjemput Firman, dan mengajaknya masuk Persma. Pucuk dicinta ulang pun tiba. Tak ragu, ia langsung menerima pinangan untuk bergabung ke Persma.

Terus ditempa pelatih Benny Dollo, ia pun menunjukan progres meningkat. Hal tersebut membuat Bendol tidak ragu mengikutkannya di mana pun ia menjadi arsitek tim, sehingga membuat banyak orang menyebut Firman adalah "anak emas" pelatih timnas Indonesia itu

Tekadnya untuk terus menekuni karir bermain sepakbola rupanya tidak perlu diragukan. Itu bisa dilihat dengan keputusannya meninggalkan status pegawai negeri sipil (PNS) Kabupaten Tangerang saat merumput bersama Pendekar Cisadane, dan memutuskan hengkang ke Arema Malang, mengikuti jejak pelatih Benny Dollo.

Pilihannya meninggalkan Persita Tangerang dan merapat ke Arema Malang serta menanggalkan status PNS rupanya tidak sia-sia. Sebab di klub kebanggaan Aremania itu ia merasakan manisnya mencicipi gelar juara, meski itu hanya turnamen Copa Indonesia. Tidak hanya juara tentunya, ia pun mampu menyabet gelar pemain terbaik di ajang tersebut. Satu penghargaan yang membuat motivasinya untuk terus memperbaiki penampilan. Meski beberapa kali di dera cedera dan mengharuskannya untuk istirahat dari lapangan hijau, penampilannya masih tetap stabil.

Setelah pelatih Beny Dollo memutuskan untuk mundur dari kursi pelatih Persita Tangerang, ia pun diprediksi bakal meninggalkan klub tersebut dan kembali mengikut jejak pelatih yang telah menjadikannya sebagai pemain terkenal itu. Sayang karena Bendol direkrut timnas, ia pun banting setir dan merapat ke Pelita Jaya, padahal sejumlah tim papan atas mengicarnya.

Meski pernah mengecewakan manajemen Persita Tangerang, tapi dia tetap diterima ketika kembali merapat ke tim tersebut pada awal musim kompetisi 2007 silam. Padahal pada musim 2004, pemain yang memulai debutnya di tim "Merah Putih" sejak 2000 bersama timnas pelajar, pernah memilih menanggalkan statusnya sebagai PNS dan meninggalkan Pendekar Cisadane.

Pada tahun 2010 Firman Utina meraih gelar Pemain Terbaik Aff Suzuki Cup 2010 dan menerima hadiah uang tunai sebesar USD10 ribu. Firman terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) alias pemain terbaik turnamen. Firman merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi pemain terbaik di AFF Suzuki Cup 2010.

Kini Firman tergabung dalam skuad laskar wong kito, Sriwijaya FC. Untuk Timnas Indonesia kini Firman tak lagi menjadi bagian, kisruh PSSI membuat dirinya yg biasa menjadi kapten timnas tidak lagi dipanggil masuk timnas karena keputusannya memilih untuk membela sriwijaya fc, klub ISL yang merupakan salah satu klub yang dianggap oleh PSSI bermain di kompetisi ilegal. Dan hasilnya, firman pun dipaksa jd penonton ketika timnas dibantai bahrain 0-10 dalam lanjutan Kualifikasi Pra Piala Dunia 2014.

Firman Utina berencana menggeluti dunia sepakbola hingga akhir hayatnya. Suami dari Marita Yustika ini mengaku ingin berkarir sebagai pelatih bila sudah pensiun kelak. Saat ini ia hanya ingin fokus bermain, dan tidak memiliki kegiatan sampingan sedikitpun.

Karya

  • 2010-sekarang Sriwijaya F.C.
  • 2009-2010 Persija Jakarta
  • 2008-2009 Pelita Jaya
  • 2007-2008 Persita Tangerang
  • 2005-2006 Arema Malang
  • 2000-2004 Persita Tangerang
  • 1998-1999 Persma Junior
  • 1995-1998 Bina Taruna Manado
  • 1993-1994 Klub Indonesia Muda Manado

Penghargaan

  • 2010 Piala AFF 2010
  • 2007 Piala Asia
  • 2004 Piala Tiger
  • 2003 Pra-Olimpiade
  • 2001, 2004 Pra-Piala Asia
  • 2001, 2003 SEA Games
  • 2000 Timnas Piala Pelajar Asia U-19

2 total review

Jangan sampai kelewatan hadiah baru! Yuk lihat terus kebawah!

Close