Gareth Huw Evans
| Dilihat: 848 kali Jumlah Review: 15 |

Gareth Evans
Berita & Cerita TerkiniTernyata tidak hanya di dalam negeri saja yang ramai dengan pembajakan. Diluar negeri pun ramai cerita pembajakannya. Wajar memang, di era serba canggih dan mudah seperti sekarang ini, pembajakan bisa mudah dilakukan, dimanapun, kapanpun.
Jika di dalam negeri film-film Hollywood adalah sasaran para pembajak, maka di luar negeri film Indonesia The Raid lah korbannya. Maklum saja film arahan Gareth Evans itu memang menjadi perbincangan para penikmat film di luar negeri.
"Kebanyakan itu situs luar yang membajak, meskipun kualitasnya tidak bagus. Kita sudah minta tutup 1-2 website, tapi muncul yang lain," jelas Ario Sagantaro selaku produser The Raid.
Bahkan langkah studio untuk melindungi
The Raid adalah meminta bantuan pada Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kemenkum HAM. Ario mengaku saat ini mereka sedang bekerja sama untuk menanggulangi pembajakan itu.
"Sekarang Dirjen HAKI Kemenkum HAM dan Menkominfo sedang berkoordinasi supaya bisa melakukan aksi dan menanggulangi masalah ini," tambah Ario.
Sampai kapan pun pembajakan tetaplah salah, tidak dibenarkan. Tapi lucu juga ya Criters, jika kita melihat Mal Ambassador dan mall-mall lain diseluruh Jakarta. Hampir film-film Hollywood pun dibajak dan di jadikan industri. Lalu bagaimana jika seandainya pihak luar menyatakan urus saja dulu itu pembajakan karya-karya kami.
Biografi SingkatGareth Huw Evans atau Gareth Evans ini, sutradara film dari Wales yang aktif di perfilman Indonesia. Dia paling dikenal karena menemukan aktor laga
Iko Uwais dan melambungkan nama Iko di film
Merantau (2009) dan Serbuan Maut (
The Raid) (2011).
Gareth pertama kali tahun 2003 jadi sutradara film pendek "Samurai Monogatari" menceritakan tentang kisah seorang samurai yang menunggu untuk dieksekusi. Dalam film itu menggunakan bahasa Jepang dan ditampilkan oleh murid-murid dari Tokyo yang sedang belajar di Universitas Cardiff pada saat itu.
Di tahun 2003 juga, Gareth lulus dengan gelar MA pada jurusan penulisan skenario untuk film dan televisi di Universitas Glamorgan.
Tahun 2006 produksi pertamanya "Footsteps" dipertunjukkan di festival film Swansea Bay dan mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik.
Karier filmnya di Indonesia dimulai ketika Ia menyutradarai film dokumenter untuk Christine Hakim, "Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat". Film dokumenter yang disutradarainya ini adalah salah satu dari lima episode yang memunculkan budaya warisan Indonesia dan dirilis pada tahun 2008.
Gareth memiliki istri Indo Indonesia-Jepang. dan kini berdomisili di Jakarta.
KaryaFilmografi