Herlina Christine Natalia Hakim

Dilihat: 175 kali             Jumlah Review: 2

Herlina Christine Natalia HakimHerlina Christine Natalia Hakim
Lihat Foto Lainnya
Berita & Cerita Terkini

Sebuah topik sensitif, emosional, dan rasanya masih banyak yang menghindar dari penyakit mutasi genetik seperti Down Syndrom dan Autisme. Stigma negatif inilah yang menjadi plot dari film terbaru artis senior Christine Hakim yang berjudul Love Me As I Am (Cintailah Diriku Apa Adanya).

Tersentuh akan ingatannya mata Christine pun berkaca-kaca. Film yang bercerita dunia anak-anak penyandang Autisme dari kacamata mereka itu meninggalkan gelombang emosi. Perjalanan menemui anak-anak yang "berbeda" beserta orangtua, guru, pengasuh, dan tenaga kesehatan yang menangani autisme telah memberinya pengalaman spiritual yang menakjubkan.

lalu bagimana cara beliau mendekati anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut? Duta Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk Asia Tenggara cerita sebuah cinta yang tulus merupakan kuncinya.

Rangkulan cinta yang tulus maka cakaran demi cakaran, dan jambakan yang bertubi tubi di dalam proses pendekatan tidak akan terasa setelah sebuah pelukan yang memberikan ketenangan di terima oleh anak-anak tersebut ungkap artis yang membintangi film Eat, Pray, Love and Love dan Merantau di 2009 kemarin.

Dengan rangkulan tulus, anak-anak yang tak mampu mengendalikan perilakunya itu pun akhirnya menjadi tenang. "Ini kunci, betapa pentingnya cinta kasih tulus kita kepada mereka," ungkapnya. Oleh karena itu, Christine Hakim sangat menyayangkan masih adanya orangtua yang menolak keberadaan darah daging mereka yang kebetulan menyandang Autisme.

Info Tambahan

Christine Hakim dan Mood

Nampaknya artis senior pemilik nama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim ini dalam beracting sering kehilangan mood. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab Ia tampil dilayar lebar satu tahun hanya satu film, bahkan terkadang dua tahun sekali Ia bermain film.

Selain Mood, Ia adalah artis yang sangat memperhatikan esensi dari film yang akan dia perankan. Tak mau sembarangan menerima peran, walau tak melulu terambisi dengan peran utama, karena Ia sangat menganggap semua peran sangatlah penting dalam sebuah karya film layar lebar.

Seperti pada karya Sutradara Arswendo Atmowiloto berjudul “Anak-anak Borobudur” yang mengangkat tema sosial dan tidak komersil. Ketika Ia merasa tertarik dan mengandung unsur social yang kental dengan budaya Indonesia, Ia mau bermain.

Dalam film "Anak-Anak Borobudur", Christine Hakim berperan sebagai Suryani Zaini selaku Gubernur Jawa Tengah. Film ini menceritakan mengenai kehidupan social masyarakat sekitar Candi Bororbudur, Jawa Tengah. Khususnya, anak-anaknya. Film yang Ia bintangi ditayangkan dalam rangka meramaikan masa liburan sekolah.

Biografi Singkat

Herlina Christine Natalia Hakim atau lebih banyak dikenal Christine Hakim, lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956. Meski dilahirkan di Jambi, namun orang tuanya bukan orang Jambi, melainkan memiliki darah campuran Minangkabau, Aceh, Banten, Jawa, dan Lebanon. Christine kecil sering mempertanyakan identitas dirinya berdarah apa sebetulnya karena terlalu banyak. Ayahnya bernama Syarif Hakim Tahar.

Sejak kecil Ia sudah erat dengan dunia seni, utamanya seni tradisional. Karena sejak kecil Mboknya atau ibunya selalu memperdengarkan pada Christine keleningan Jawa dan ngajak nonton opera Cina.

Ia menempuh Sekolah Dasar tahun 1968 di Pejompongan Jakarta, sejak kecil Ia tergolong anak yang cukup pintar. Setelah lulus SD Ia melanjutkan ke SLTP St. Theresia Jakarta tahun 1971, lalu SMA Ia lanjutkan di SMAN VI Jakarta tahun 1974.

Dulu Ia bercita-cita ingin menjadi seorang Arsitek atau Psikolog. Namun ternyata itu kini hanya tinggal kenangan pasalnya, Ia tak melanjutkan keinginannya kejenjang perguruan tinggi.

Tak banyak yang tahu kalau ternyata aktris berbakat ini jadi terkenal by accident mulanya tidak punya kehendak sama sekali menjadi aktris kalau tidak ada Teguh Karya yang mempercayainya ia menjadi pemeran utama pada film “Cinta Pertama” (1973), Ia tidak tahu ada dimana sekarang kenang Chtistine. Meski sebelumnya Ia sempat merintis karir sebagai model namun tak begitu berhasil.

Setelah bertemu dengan sutradara besar itu, cita-citanya menjadi seorang arsitek atau psikolog sirna. Tapi begitulah yang namanya hidup, semua serba tidak terduga. Cita-cita tinggallah angan di masa silam.

Karyanya telah banyak yang Ia bintangi mulai dari Petualang-Petualang (1977), Impian Perawan (1976), Kawin Lari (1975) dan banyak lagi yang Ia bintangi tahun 70an maklum saja Ia adalah artis senior tahun 70an. Film terbarunya setelah Ia tak muda lagi diantaranya adalah film MERANTAU garapan sutradara Gareth Huw Evans dimana Ia beradu acting dengan Iko Uwais.

Karirinya di dunia seni peran membuat artis senior yang menerima penghargaan Nikkei Asia Prizes bidang kebudayaan dari koran Jepang, Nikkei Shimbun dan penghargaan nasional yang diterimanya, delapan kali menerima Piala Citra Pemeran Wanita Terbaik.

Selain itu, Ia pun telah menyandang sejumlah penghargaan tinggi dunia. Istri Edo Eduard Jeroen Lezer ini, berkesempatan menjadi Dewan Juri Festival Film Internasional Cannes (FFIC) ke-55 di Prancis pada 15-26 Mei 2002, bersama bintang film Hollywood Sharon Stone (BASIC INSTINCT).

Selain dalam dunia film, ia juga merupakan duta UNICEF untuk Indonesia bersama Ferry Salim. Selain itu yang menarik dari Christine Hakim, Ia pernah menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi juri dalam Festival Film Cannes dan Christine Hakim menjadi aktris Indonesia pertama yang main film Hollywood Eat Pray Love, bersama Julia Robert di Bali

Kepedulian Christine terhadap warisan bangsa memang tak perlu diragukan. Hal ini terlihat dari usahanya untuk mengangkat olah raga pencak silat ke layar lebar. Seperti pada film MERANTAU yang turut ia bintangi. Bahkan film ini akan diputar pada Festival Film Cannes.

Karya

Filmografi
• Fana : The Forbidden Love (2010)
Merantau (2009)
• Jamila Dan Sang Presiden (2009)
• In the Name of Love (2008)
• Anak-Anak Borobudur (2007)
• Puteri Gunung Ledang (2004)
• Pasir Berbisik (2001)
• Daun di Atas Bantal (1998)
• Gordel Van Smaragd, De (1997)
• Nemuru Otoko (1996)
• Sinyo Salam (1993)
• Tjoet Nja' Dhien (1988) (meraih Citra FFI)
• Bila Saatnya Tiba (1985)
• Kerikil-Kerikil Tajam (1984) (meraih Citra FFI 1985, Bandung)
• Di Balik Kelambu (1982) (meraih Citra FFI 1983, Medan)
• Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1980)
• Pengemis dan Tukang Becak (1978) (meraih Citra FFI 1979, Palembang)
• Petualang-Petualang (1977)
• Impian Perawan (1976)
• Kawin Lari (1975)

Sinetron
• Bukan Perempuan Biasa
• Tiga Orang Perempuan


Penghargaan

1. Aktris Terpuji Festival Film Bandung dalam film Pasir Berbisik (2002)
2. Lifetime Achievement SCTV Awards 2002
3. Best Actrees pada Asia Pasific International Film Festival dalam film Daun diatas bantal (1998)
4. Penghargaan khusus Festival Film Bandung (1999)
5. Aktris Terpuji Festival Film Bandung dalam film Tjoet Nja' Dhien (1989)
6. Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Tjoet Nja' Dhien (1988)
7. Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Di Balik Kelambu (1982)


2 total review

Jangan sampai kelewatan hadiah baru! Yuk lihat terus kebawah!

Close