Mira Lesmana

Dilihat: 384 kali             Jumlah Review: 10

Mira LesmanaMira Lesmana
Lihat Foto Lainnya
Berita & Cerita Terkini

Mira Lesmana dan Riri RIza dan kembali berkolaborasi dalam sebuah film drama berdurasi 80 menit, Atambua 39° C. Film yang sepenuhnya syuting di Timor, NTT ini pada awalnya datang dari ide Mira Lesmana yang ingin menceritakan keindahan alam NTT, Di penghujung tahun 2011 yang lalu, kami berkesempatan membuat film dokumenter di Atambua, Timor. Tidak hanya saya menikmati proses syuting dengan crew kecil kami, kisah kisah kehidupan di sana melekat di hati saya: Alamnya yang keras namun juga indah, kemiskinan, keterpisahan keluarga, suara tawa anak-anak Timor bersekolah atau bermain bola semua menyiratkan harapan untuk hidup yang lebih baik," ungkap Mira.

Muncul keinginan untuk menceritakannya ke layar lebar dengan crew yang sama. Dan kami semua sepakat untuk mewujudkannya.

Menurut Mira, Atambua 39° C adalah film yang akan menggunakan aktor lokal dan hampir sepenuhnya berbahasa Tetun & Porto, bahasa asli orang Timor, Ini bukan film yang mudah untuk saya presentasikan ke para investor bisnis, tapi kami merasa perlu memotret sepenggal kehidupan di Timur Indonesia yang kerap terlupakan.

Berikut ini adalah sinopsis lengkapnya:

Joao telah terpisah dari ibunya sejak berusia tujuh tahun. Ia dibawa eksodus ayahnya pindah ke Atambua setelah referendum 1999, sementara ibu dan dua adiknya yang masih bayi tinggal di Liquica, Timor Leste. Ronaldo, ayahnya, kini bekerja sebagai supir bis antar kota. Ia sering mabuk sampai akhirnya dipecat dari pekerjaan.

Satu hari gadis Nikia kembali ke Atambua untuk menyelesaikan ritual duka kematian kakeknya. Joao yang biasa menghabiskan waktu menjadi tukang ojek dan bermalasan bersama teman-teman remajanya berganti ritual mengikuti Nikia. Joao tidak terlalu paham mengapa. Perlahan Nikia mulai membuka hati pada Joao, sampai suatu hari Joao menunjukkan perasaannya dengan cara yang memaksa. Nikia pun pergi meninggalkan Atambua.

Sementara, Ronaldo berkelahi di sebuah tempat bilyar hingga ia ditahan di kantor Polisi. Joao menebus ayahnya keluar dari tahanan, kemudian pergi untuk mencari Nikia. Ronaldo pulang ke rumah yang kosong dan menemukan kumpulan surat dalam bentuk kaset-kaset rekaman suara istrinya. Joao mencoba menebus kesalahannya akankah Ronaldo mengikuti?

Info Tambahan

Hobi nonton rupanya Hoki buat Mira Lesmana, setelah tinggal di Australia Mira sama adiknya ini hobi banget sama nonton dan ada dua hal yang berubah pada Mira dan Indra setelah tinggal di Australia.

Pertama, entah kenapa, keduanya tiba-tiba risi pada nama belakang mereka. Kalau Mira semula bernama Mira Lesmanawati, maka sejak di Australia nama ‘Wati’ itu dia hilangkan sehingga ijazah SMA-nya menjadi Mira Lesmana saja. Begitu juga Indra, yang semula bernama Indra Lesmana Jaya, menjadi Indra Lesmana.

Kedua, menyangkut hubungan Mira dan Indra. Sebagai keluarga berdarah Jawa, sejak kecil Indra selalu memanggil Mira dengan ‘Mbak’. Tapi, bagi teman-teman Australia-nya, hal itu selalu menjadi pertanyaan. Dan akhirnya jadilan Indra manggil Mira nama doang

Dari semua kebiasaan Mira, yang paling mengherankan Nien ibu Mira Lesmana adalah kesukaan anaknya menonton film. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, dia nonton film. Dan, itu tidak hanya satu film. Dia bisa nonton di tiga gedung bioskop. Kalau kemalaman, ia menelepon ayahnya minta dijemput di stasiun kereta api.

Sosok Sineas Mira Lesmana dikenal sangat anti pemerintah. Produser Film Laskar Pelangi ini mengatakan tidak akan pernah mendukung program pemerintah. Termasuk dengan tidak mengikutkan film-film karyanya dalam Festival Film Indonsia atau FFI yang digagas Pemerintah.

Tapi entah kenapa kabarnya semenjak Kementerian Pariwisata di pegang Mari Elka Pangestu, sikap keras sahabat Riri Riza ini mulai mencair. Bahkan Mira mengaku akan mendukung program Pemerintah. Hmmm, apakah filmnya akan diikut sertakan? Kita tunggu.

Biografi Singkat

Mira Lesmana atau Mira Lesmanawati lahir di Jakarta 8 Agustus 1964 dari pasangan musisi jazz legendaries almarhum Jack dan Nien Lesmana. Kakak kandung dari penyanyi Indra Lesmana. Saat mengandung Mira, Nien merasa tidak ada sesuatu yang istimewa. Bahkan, ngidam yang aneh-aneh pun tidak.

Sebagai seniman yang dekat dengan Presiden Soekarno saat itu, Jack maupun Nien sering diundang ke Istana Negara atau diutus menjadi duta seni ke negara-negara sahabat, baik Asia maupun Eropa. Saat usia kandungannya sudah lebih 6 bulan, Nien tetap energik dan sangat bergairah untuk naik panggung bersama para artis papan atas saat itu, seperti Bing Slamet, Titiek Puspa, dan Bubby Chen. Selain itu, ia juga sangat senang nonton film. Jack sampai mengkhawatirkan istrinya yang sangat aktif itu.

Syukurlah, bayi seberat 3,2 kilogram yang dikandung Nien lahir dengan selamat. Proses kelahirannya gampang sekali, hanya dengan pertolongan seorang perawat. “Ketika dokter datang, bayi saya sudah lahir,” kenang Nien.

Bayi itu oleh Nien diberi nama Mira Lesmana. Tapi, suaminya mengusulkan untuk menambah nama ‘wati’ di belakangnya sehingga menjadi Mira Lesmanawati. Bayi itu tumbuh sehat dan tidak gampang sakit, walaupun fisiknya tampak kerempeng. Lucunya, saat memasuki usia 2 tahun, Mira kecil tidak mau dielus-elus saat mau tidur.

Mira masuk sekolah TK Perguruan Islam Cikini ketika usianya genap lima tahun, dan dua tahun kemudian masuk ke SD di tempat yang sama. Awalnya, dari rumahnya di Tebet, Mira selalu diantar ayah atau ibunya. Ketika Indra juga mulai masuk di sekolah itu, keduanya pun naik kendaraan umum, seperti bajaj, helicak, atau bahkan bus kota.

Sejak kecil Mira suka dunia seni. Mira kecil pun sangat ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang musisi, handal bermain musik. Hingga akhirnya Ia pun sejak kecil getol mengikuti les piano, walau perkembangannya tidak signifikan setelah bertahun-tahun belajar tapi gak pinter-pinter. Dan Mira pun sadar kalau ternyata Ia tak berbakat main musik dan Ia menyerah bermain piano setelah melihat Indra Lesmana sang adik pintar main piano tanpa belajar.

Mira pun mulai mencoba dunia lain untuk mengeksplorasi bakatnya. Ketika Ia tumbuh menjadi remaja, Ia sering di minta Indra Lesmana untuk membuat lirik lagu, pasalnya Mira hobi banget berpuisi. Kerjasama mereka terbangun ketika mereka remaja, Mira pembuat lirik dan Indra membuat melodinya.

Mira kecil tak terlalu suka makan. Yang aneh, dia suka sekali makan tembok! Ini bukan isapan jempol belaka. Jari-jari mungilnya suka mengorek-ngorek dinding rumah dan kemudian melahap serpihan-serpihan tembok yang rontok. Ibunya yang khawatir melihat kebiasaan ini segera membawa putrinya ke dokter. Tapi, dokter mengatakan kepada Nien untuk tak merisaukan hal ini selama Mira tak mengonsumsinya secara berlebihan.

Lokasi sekolahnya kebetulan bersebelahan dengan Studio Irama, tempat ayah maupun ibunya bekerja. Sepulang sekolah, Mira maupun Indra tidak harus langsung pulang ke rumah, tapi bisa berlama-lama bermain di sekolah atau di tempat ayah dan ibunya bekerja

Hanya satu orang yang mampu menaklukkan Mira, yaitu Mak Sani. Ia bisa membuat Mira mau membuka mulutnya dengan gembira. Sambil menyuapi, Mak Sani biasanya bercerita dan beradegan sesuai isi cerita itu, hingga Mira terkesima. Hal ini memicu Mira mampu berimajinasi dengan baik.

Prestasi Mira boleh dibilang cemerlang. Saat kelas 1 sampai 3, ia masuk peringkat 5 besar. Ia bahkan bisa menjadi juara kelas saat duduk di kelas 5. Meski demikian, Mira sendiri tidak merasa dirinya cerdas. Semua hanya bermula dari rasa frustrasi! Dulu Ia selalu frustrasi kalau ada tugas yang tidak bisa Ia kerjakan. Sikap ini memicuku untuk bisa berpikir dan bekerja lebih keras lagi. Kalau Ia kemudian berhasil menduduki peringkat 1, itu bukan karena sangat cerdas, tapi karena tekadnya yang besar. Peringkat itu hanya merupakan upaya pembuktian pada diri sendiri bahwa kalau mau, Ia bisa meraihnya.

Dan setamat SMP, Mira dan keluarga hijrah ke Australia menemani adiknya Indra Lesmana karena mendapat beasiswa di Brooksfield Music Academy. Mira pun masuk ke Universitas negeri di Australia yang semua muridnya perempuan. Masuk sekolah tersebut tidak mudah, Mira harus lulus tes bahasa inggris dulu. Karena sejak SD ia sudah terbiasa berbahasa inggris akhirnya Ia dapat dengan mudah melewati tes masuk sekolah tersebut.

Mira bisa lancar berbahasa Inggris tanpa private ternyata, lucunya Ia mulai tertarik bahasa inggris karena rumahnya sering kedatangan tamu-tamu ayahnya yang sering berkomunikasi bahasa inggris, Mira yang memang rajin membaca ini akhirnya belajar dan membiasakan diri sendiri dengan bahasa inggris. Selain baca buku cerita Ia pun di fasilitasi orang tuanya dengan film-film tanpa terjemah bahasa Indonesia, hal ini membuat Mira semakin penasaran dan terus belajar.

Dari sini lah Mira mulai jatuh cinta pada film. Setelah lulus SMA Ia ingin meneruskannya di Australian, namun belum sempat mendaftar, keluarganya memutuskan segera kembali ke Indonesia setelah mengurus legalisasi ijazah. Hingga akhirnya Ia masuk jurusan penyutradaraan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kuliah mampu Ia lewati dengan baik.hingga akhirnya Ia menikah memutuskan menikah dengan Mathias Muchus tahun 14 Februari 1990. Dan di karuniai dua orang anak bernama Galih dan Kafka.

Lulusan Institut Kesenian Jakarta yang dikenal sebagai produser bertangan dingin ini memulai kariernya di perusahaan periklanan. Pada tahun 1996 dia mendirikan Miles Productions, yang kemudian memproduksi beberapa film-film sukses seperti Ada Ada Apa Dengan Cinta? dan Petualangan Sherina serta Laskar Pelangi. Hingga kini Ia terus aktif berkarya dan Riri RIza sebagai sahabat dan partnernya pun bersama terus maju berkarya.

Karya

Filmografi

Penghargaan

  • 2011 Soegeng Sarjadi Award on Good Governace. Kategori Tokoh Masyarakat Sipil
  • 2005 Women Of The Year (WOTY), kategori bidang seni dan budaya, yang diadakan antv. Penghargaan ini diterima Mira langsung dari tangan ibu negara, Ani Bambang Yudhoyono
  • 2002 Best Young Cinema dan Best Critics Cinema di ajang Festival Film Internasional Singapura pada April 2002 dan meraih predikat Special Mention untuk kategori penghargaan Dragons and Tigers for Young Cinemadi ajang Festival Film Internasional Vancouver di Kanada, Oktober 2002 (Film Eliana-Eliana)

10 total review

Jangan sampai kelewatan hadiah baru! Yuk lihat terus kebawah!

Close