Mohammad Nuh
| Dilihat: 383 kali Jumlah Review: 17 |
Berita & Cerita TerkiniIndonesia menargetkan sektor pendidikan jadi lima besar di dunia pada 2045 mendatang. Hal itu diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhammad Nuh seusai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri membahas Rancangan Undang-Udang Perguruan Tinggi di Kantor Kemendikbud Jakarta.
Hadir dalam rakor tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu, serta sejumlah kementerian lain.
Menjadi lima besar di dunia menurut Mendikbud bukanlah hal yang mustahil. Hal ini menyusul bonus demografi yang dialami Indonesia selama tiga dekade, hingga 2030 mendatang. Indonesia diprediksi Bank Dunia akan diuntungkan secara demografis, karena akan memiliki 70 persen penduduk usia produktif.
Keberadaan UU PT nantinya diharapkan memberikan payung hukum yang lebih jelas. "Selama ini kan cuma berdasarkan peraturan pemerintah," jelasnya. Pada Juni atau Juli 2012 mendatang, RUU PT ditargetkan bisa mulai berlaku.
(Sumber Kutipan: Mediaindonesia.com)
Info TambahanDi balik sukses Nuh, tentu saja peran dan andil Laily amat besar. Sudah 22 tahun ini ia setia mendampingi sang suami dalam segala suka dan duka. Meski untuk soal pekerjaan, seperti diceritakannya, dia jarang bicara soal pekerjaan.
Meski tak suka buka mulut soal pekerjaan, Nuh adalah ayah dan suami yang hangat. Dia selalu memberi teladan bagi keluarga, juga masyarakat. Orangnya penyabar. Sampai-sampai Seumur-umur, istrinya tak pernah dimarahi. Kalau salah, paling dinasihati. Kesederhanaan Nuh, juga dipuji Laily dan Rizqi.
Kehangatan keluarga ini juga tercermin dari kebiasaan mereka melakukan "wisata kuliner", keliling Surabaya mencari makanan muriah, meriah, dan enak. M Nuh suka sekali kuliner, Yang disukai bukan yang mahal dan di tempat mewah, tapi yang penting enak. Lontong balap, lontong kupang, gado-gado, sebagai makanan favoritnya.
Biografi SingkatMohammad Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Ia melanjutkan studi di Jurusan Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan lulus tahun 1983.
Mohammad Nuh mengawali kariernya sebagai dosen Teknik Elektro ITS pada tahun 1984. Ia kemudian mendapat beasiswa menempuh magister di Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Perancis. Mohammad Nuh juga melanjutkan studi S3 di universitas tersebut.
Nuh menikah dengan drg. Layly Rahmawati, dan ia dikaruniai seorang puteri bernama Rachma Rizqina Mardhotillah, yang lahir di Perancis.
Pada tahun 1997, Mohammad Nuh diangkat menjadi direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Berkat lobi dan kepemimpinannya, PENS menjadi rekanan tepercaya Japan Industrial Cooperation Agency (JICA) sejak tahun 1990.
Pada tanggal 15 Februari 2003, Mohammad Nuh dikukuhkan sebagai rektor ITS. Pada tahun yang sama, Nuh dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) bidang ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika. Ia adalah rektor termuda dalam sejarah ITS, yakni berusia 42 tahun saat menjabat. Semasa menjabat sebagai rektor, ia menulis buku berjudul Startegi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (disingkat Indonesia-SAKTI).
Selain sebagai rektor, Mohammad Nuh juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Pengurus PCNU Surabaya, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya. Muhammad Nuh juga dikenal sebagai seorang Kiayi, sering memberi ceramah dan khutbah jumat di berbagai masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Ulama.
Penghargaan
- Doktor Honoris Causa dalam bid. Education Management dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
- Ganesa Prajamanggala Bakti Adiutama yang diberikan oleh ITB