CEBLANG-CEBLUNG Akhir Minggu, Mari Merusak Harga Artis

29/01/12

dilihat: 34 kali           Komentar: 0

CEBLANG-CEBLUNG Akhir Minggu, Mari Merusak Harga Artis

CERITAMU.COM - Saya dan ribuan [mungkin jutaan malah] termasuk orang yang senang menonton konser musik. Apalagi musisi yang tampil adalah idola dan hapal banyak lagunya. Bisa sepanjang konser ikut koar-koar berteriak menyanyikan lagu yang kita bisa. Dan saya termasuk beruntung, ketika Indonesia menjadi destinasi banyak musisi hebat kelas dunia, sebagai tempat menggelar konser atau sekadar promo album.

Bayangkan, musisi yang selama ini berseliweran di televisi dengan semua pernak-pernik sukses dan gosipnya, tiba-tiba hadir di depan mata kita. Beruntungnya saya, karena saya punya akses sebagai media [musik]. Memudahkan saya untuk nonton konser, tanpa harus pusing memikirkan bujet tiket.

Bagaimana tidak pusing, kalau harga tiket konser di Indonesia sudah menembus angka jutaan rupiah. Mengandalkan gaji wartawan, tentu harus pandai-pandai memilih konser mana yang wajib tonton. Tapi hal itu tidak saya rasakan sebelum saya masuk ke ranah industri media musik. Dan saya bisa merasakan juga, bagaimana rasanya berjuang mendapatkan tiket, sampai harus antri berpanjang-panjang.

Diluar itu semua, saya dan mungkin Anda, pasti terbelalak melihat angka-angka harga tiket yang terpampang. Tiket termahal yang pernah saya lihat adalah 27.5 juta rupiah. Percaya atau tidak, justru harga termahal itulah yang paling cepat ludes. Paling tidak, demikian pengakuan promotornya.

Salahkah kalau saya bilang, penonton konser di Indonesia benar-benar kaya raya? Industri hiburan di Indonesia memang paling menggairahkan. Tidak peduli ada krisis ekonomi, politik atau sosial, antusiasme menonton konser musik tetap saja tinggi. Yang paling menggiurkan tentu saja perputaran bisnisnya. Tak heran, kalau selama ini hanya mengenal beberapa nama besar di bisnis promotor, kini seabrek nama-nama baru bermunculan, dengan kekuatan modal yang tidak bisa diremehkan.

Memang bukan pekerjaan mudah mengurus konser, banyak hal yang kudu dipelajari dan dimengerti. Tapi bukan berarti “bocah-bocah kaya” tak punya nyali menjadi promotor. Satu sisi bagus, karena akan banyak pilihan artis-artis yang didatangkan. Bahkan artis yang sedang ngetop-ngetopnya pun bisa dengan cepat menggelar konser di Jakarta atau Indonesia. Semisal Katty Perry atau Justin Bieber atau mungkin Lady Gaga.

Tinggal tunggu waktu saja, kapan musisi-musisi kelas dunia berdatangan. Apalagi kalau artis A sukses kemudian berpromosi kepada kawannya di undang untuk konser di Jakarta. Mereka akan saling memberi informasi. Dan itu adalah promosi gratis yang paling mahal. Kepercayaan. Tapi persoalan tak cuma itu. Kasak-kusuk di dunia promotor mengatakan, sudah banyak pemain baru yang merusak harga. Apa artinya?

Seorang lingkaran dalam promotor kondang mengatakan, memilih wait n see untuk menggelar konser lagi. Pasalnya ada beberapa pemain baru dengan kekuatan modal yang [tampaknya] tak terbatas itu, merusak aturan main yang tidak fair. Lazim kita dengar, promotor A melakukan pendekatan kepada artis. Ditengah-tengah, tiba “diserobot” promotor lain yang berani menawar dengan harga lebih tinggi.

Bayangkan, ada promotor yang berani mendatangkan Lady Gaga dengan kisaran harga 20 milyar,” celetuk Sentilun –sebut saja begitu, melempar isu. Mengapa merusak? Kisaran harga artis-artis itu di negaranya sana, tidak ada yang menembus angka gila-gilaan, kecuali untuk nama-nama tertentu yang benar-benar sudah besar.

Alhasil, ketika tahu ada promotor di Indonesia “royal membayar” mereka akan pasang tarif tinggi. Akibatnya? Biaya produksi membengkak dan yang jadi korban adalah penonton, terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Masih mending kalau penonton sesuai harapan, kalau tidak? Promotor juga yang rugi.

Memang kalau untung, dapatnya juga tidak sedikit. Menurut beberapa nama yang sempat ngobrol “omong-kosong” sebenarnya ada kesepakatan tidak resmi mengenai kisaran harga untuk mendatangkan artis. Kemudian beberapa promotor juga menolak kalau disebut bersaing.

Mereka sebenarnya sudah tahu pangsa masing-masing, jadi tidak akan merusak ceruk dengan saling bermain-main tidak fair,” tambah Sentilun. Sayangnya, belum ada asosiasi resmi promotor di Indonesia yang punya aturan jelas tentang hal itu. Jadi kalau sekarang masih “saling silang” dalam mendatangkan artis, tergantung “keberadaban” dan “nurani” untuk saling berkompromi saja. Sayangnya, hal terakhir ini pun sudah semakin hilang. Keuntungan adalah “Tuhan”. Siapa senang, siapa telentang? Ah, saya terbangun dari mimpi………[Kaisar]




foto: istimewa

total komentar

(ex: Jane Doe)

(tidak akan dipublikasikan)