Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

23 Oktober 2014

Perbedaan di Hari Kemerdekaan

Perbedaan di Hari Kemerdekaan Tidak terasa sebulan telah berlalu sejak Jinki memutuskan untuk mengikuti student exchange ke Indonesia. Kebetulan ia terpilih sebagai delegasi dari negeri ginseng, Korea, yang akan melakukan proyek sosial dengan teman-teman dari negara lain. Program ini diadakan oleh organisasi yang menyediakan jasa bagi para mahasiswa yang ingin melakukan bakti sosial di negara lain. Begitu pun dengan Indonesia, para siswa yang lolos seleksi akan mengikuti serangkaian kegiatan di negara yang mereka pilih. Lee Jinki, mahasiswa dari Seoul University memilih negara Indonesia sebagai negara tujuan karena keindahan alam dan keramahan penduduk Indonesia. Penduduk Indonesia memang dikenal ramah dan sosialis, oleh sebab itu tak heran jika wanita maupun pria Indonesia banyak yang berjodoh dengan para ‘bule’ (orang luar negeri). Sejak kedatangannya sebulan lalu, Lee Jinki atau yang akrab dipanggil Jinki ini merasa sangat betah tinggal di Indonesia. Cuaca ekstrem di Indonesia pun ia bisa tahan. Para exchanger ini akan didampingi oleh para buddy atau pendamping mereka selama di Indonesia. Karena memilih bidang kemanusiaan sebagai proyek exchangenya, Jinki akan mengikuti kegiatan 17 Agustus atau hari kemerdekaan yang diadakan di salah satu desa di Mojokerto, Jawa Timur.
“ Wow it’s so hot here, I’m sweated “, kata Jinki
“ Absolutely it is. Jinki I think you should learn Indonesian language. You’re about to blend with the villagers here. Though you can’t speak Indonesian fully, at least you must know the daily words “, kata Ficky, buddy yang mendampingi Jinki selama Indonesia
“ I’m gonna do that. Please teach me well, dude “, jawab Jinki
Duduk di atas rumput hijau ditemani angin sepoi-sepoi dan suara kambing yang sedang asyik berebut makan, membuat Jinki dan Ficky mengantuk. Untuk menghilangkan rasa kantuk, mereka mengambil MP3 player dan memilih memainkan musik rock dari band asal Amerika, Avenged Sevenfold. Keduanya asyik mendengarkan musik dan sesekali menirukan gaya The Rev, drummer Avenged Sevenfold, dalam memukul-mukul drum. Terlihat dua bocah kecil memandangi mereka berdua yang asyik bermain drum dalam khayalan. Karena penasaran, bocah yang bernama Asrul dan Harmin ini mendekati Jinki dan Ficky.
“ Onok opo iki kok yo gerak-gerak gak jelas. Woiiiii, onok wong ndek kene “, kata Asrul dengan logat jawa super fasih
Ficky dan Jinki tiba-tiba kembali dari lamunan setelah Asrul menggertak mereka.
“ Apa, Dek ? Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Bisa pakai bahasa Indonesia ? “, kata Ficky
Jinki hanya mengangguk-angguk tanpa mengerti apa yang mereka semua katakan. Ia tidak tahu bahwa buddynya, si Ficky juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dua bocah tersebut. Percakapan pun semakin tidak nyambung.
“ Aku bocah Jowo asli mas, makane yo ngomonge jowo “, kata Asrul
“ Kene berdua ngerti sing samean maksud tapi bingung njawabe. Ngerti ora biji pelajaran bahasa Indonesia kita lho 65. Hahahahah “, kata Harmin
Suasana semakin tidak jelas sampai akhirnya seorang bule tampan bercelana jeans coklat datang memecahkan suasana tidak jelas yang sedang terjadi.
“ Ono opo tho iki adek-adek ? “, kata George, si bule bercelana jeans coklat
“ Iki lho mas Geor, aku ora ngerti mas-mas iki ngomong opo “, kata Harmin
“ Ada apa ya ini ? “, tanya George dengan logat bahasa Indonesia yang dipaksakan
“ Wow, kamu bisa bahasa Indonesia dan Jawa ? Keren ! Oh ya, aku Ficky dan ini Jinki dari Korea “, kata Ficky
“ You’re from Korea ? South Korea you mean ? “, tanya George
“ Yes “, jawab Jinki dengan singkat
“ I do love Girls Generation. I love Tiffany the most. She was such as pretty woman “, kata George yang langsung berjoget “Gee” ala SNSD tersebut
“ K-popers ada yang cowok juga ternyata. What are you doing in this place ? “, tanya Ficky
Mereka bertiga berkenalan dan saling berbincang. George Town adalah pemuda asal Inggris yang sedang berlibur di Indonesia. Kebetulan ia tidak sendiri namun dengan teman-teman dari berbagai negara seperti China, Spanyol, Singapura, dan Amerika. Mereka memilih untuk mengisi liburan mereka di desa Mojokumpul, Mojokerto.
“ Kenapa memilih desa kecil di kota Mojokerto ini ? Lagipula kota ini kan tidak terlalu dikenal. Oh iya, bahasa Indonesia kamu lancar banget kayak jalan tol ? “ tanya Ficky penasaran
“ Karena tidak terlalu terkenal itu, aku and my friends lebih ingin merasakan nuance of Indonesia. Kami itu teman satu community in my International High School. Community itu concern ke all about Indonesia. So, kami cukup bisa bahasa Indonesia dan Jawa “, jawab George
Si dua bocah desa itu menampakkan wajah lucu karena bingung dengan apa yang dikatakan mas-mas ganteng bertiga itu. Karena memang kurang bisa berbahasa Inggris, Asrul dan Harmin memanggil George (baca : Jorge) dengan mas Geor (baca : Geyor), tidak hanya mereka berdua tapi seluruh penduduk desa. Ficky meminta George dan kawan-kawannya untuk membantu menyiapkan serangkaian acara dan lomba yang akan digelar di desa ini. Dengan senang hati, George mau membantu mereka berdua.
Hari yang ditunggu telah tiba, hari kemerdekaan Republik Indonesia, hari di mana negara Indonesia akhirnya bisa terlepas dari penjajahan selama beratus-ratus tahun, hari di mana seluruh warga Indonesia termasuk yang menetap di luar negeri memperingatinya dengan suka ria. Para panitia pun sibuk mempersiapkan segala kebutuhan serangkaian lomba. Kegiatan yang diadakan adalah lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, debat bahasa Jawa (khusus para bule), dan drama bahasa Jawa. Seumur umur hidup Ficky mungkin inilah hal terseru dan tergila yang ia alami dalam merayakan hari kemerdekaan bersama penduduk desa dan bule. Perbedaan di antara warga dan bule ini seakan tidak terlihat karena di hari kemerdekaan ini semuanya bersatu dan bersama-sama. Lomba pertama dimulai, yaitu makan krupuk. Pesertanya adalah anak-anak melawan bule-bule itu. Riuh suara penonton menyaksikan kelucuan perlombaan ini.
“ Aku kate win iki guys “, kata Chen yang berasal dari China dengan logat jawa super berantakan
“ Krupuk yo rasane good man. Remen aku “, kata Jessie yang berasal dari Singapura
“ Mbak- mbak, mas-mas bule ojok rame yo. Kooncccentrratioun (konsentrasi) “, kata Asrul dengan sok kebule-bulean
Tawa penonton makin keras ketika bocah-bocah desa itu menginjak satu sama lain agar bisa menang. Francesc dan Chen lari terbirit-birit karena dikejar si Harmin yang akan menginjak kakinya. Para peserta yang lain bukan meneruskan perlombaan, malah ikut berlari ke arah mereka dan saling menindih. Hal itu pun menggambarkan suasana keakraban dan kelucuan tersendiri bagi penonton.
“ Hehehehe, pancen bocah enom. Senengane dolan ae “, kata seorang nenek sambil tersenyum menunjukkan lima gigi ompong dan satu gigi emas berkilaunya
Lomba pertama telah usai. Lomba kedua adalah balap karung. Di lomba ini, Jinki dan Ficky ikut turut serta. Para kakek dan nenek yang masih fresh juga tak mau melewatkan lomba ini. Agar lombanya lebih menarik dan lucu, para panitia menyiapkan karung yang baunya luar biasa busuk.
“ Smell opo iki ? Kok gak nice ngunu lho “, kata George dengan menahan setengah tertawa
“ Huuuuuuuu, the smell is so gak nice. Smell opo iki ? “, teriak Jessy
“ Heee, shut up lambemu. Iki lomba ‘belaep keryung’ ? “, kata Chen
“ Mas mbak bule, ayo mulai. Ojok kakean speaking “, kata Manda

Suara tertawa penonton pun malah lebih keras karena kelakukan anak-anak dan para bule ini. Ekspresi menahan bau dan berlari dengan karung adalah tontonan yang lebih lucu daripada Opera Van Java maupun Running Man. Karena terlalu bersemangat, Jinki tersandung batu. Karena ia terdepan, para peserta di belakangnya pun ikut jatuh semua. Hanya tawa keras penuh keakraban yang para peserta lomba rasakan. Seperti lomba pertama, mereka masih sering menghalangi peserta lain dengan cara menubruk dan menarik baju. Karena terlalu konsentrasi mengganggu lawan masing-masing, para peserta tak sadar bahwa ada seorang nenek yang bebas gangguan melejit cepat bagai Valentino Rossi di arena balap. Dan benar, si nenek manis berkulit kecoklatan itu pun menang. Itu membuat para penonton tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka sakit.
“ Kita kalah dari grandma. What a njengkelno. Grandma come here, tak gendong “, kata James
James pun menggendong nenek si pemenang itu berkeliling lapangan yang menyebabkan semua orang tertawa terbahak-bahak. Lomba ini sangat lucu dan menyenangkan. Tidak menunjukkan jika ada perbedaan di antara mereka. Lomba-lomba selanjutnya pun dipenuhi gelak tawa penonton. Bahkan ada yang sampai menangis melihat tingkah pola bocah-bocah dan bule-bule itu.
Lomba selanjutnya adalah debat bahasa Jawa khusus untuk para bule. Tema debat ini membahas masalah kemerdekaan Indonesia. Sejujurnya Ficky sangat senang dan bangga karena tidak sedikit orang non-Indonesia yang sangat mencintai negaranya ini. Sampai-sampai mereka datang langsung ke desa untuk merasakan suasana Indonesia. Sedangkan pemuda asli Indonesia sekarang malah banyak yang tidak menghargai kebudayaan Indonesia. Banyak para remaja yang terlalu sibuk mengurusi urusan mereka masing-masing dan kurang peduli terhadap orang lain maupun negara sendiri. Bukankah mereka menuntut ilmu untuk memajukan negara Indonesia ? Tidak hanya memikirkan bekerja di perusahaan Internasional dan dapat gaji tinggi.
Lomba debat dimulai, para penonton sudah tidak sabar mendengar perdebatan para bule tentang Indonesia. Lebih tepatnya mereka ingin menertawakan kocaknya si bule yang berbicara bilingual (bahasa Jawa dan Inggris).
“ Yo opo tho guys, kito iku must help wong-wong this ndek bidang education “, kata Frances
“ What is the corone ? “, tanya George
“ Nah, that’s I ora ngertos “, kata Frances dengan logat Jawa yang lumayan
Gelak penonton yang tertawa karena tak mengerti apa yang dibicarakan oleh para bule tersebut. Begitu pun Ficky yang menyaksikan, sedangkan Jinki hanya diam tanpa ekspresi sambil sesekali tersenyum manis bagaikan Siwon Super Junior. Debat pun usai setelah kelompok Jinki menang mengalahkan kelompok George. Debat usai dilanjutkan dengan drama. Drama ini diikuti oleh beberapa bule dan remaja asli desa. Mereka akan bermain drama berjudul “ Parjo dan Surti “, versi jawa dari drama garapan William Shakespare “Romeo and Juliet”.
“ Surti, bapakmu iku tukang nyolong yo ? “, goda George
“ Kok ngerti tho mas ? “, tanya Surti
“ Soale kowe wes nyolong atiku “, jawab George dengan gaya guiltynya
“ Surti, aku iku wani ambek lions, tigers. Aku iku bocah sing wani. Tapi sithok sing aku wedi, yoiku wedi kowe ninggale aku “, goda George
“ Mas Geor, ojo ngunu tho mas. Surti iki suwe-suwe tresna temenan iki karo samean lho mas “, kata Surti malu-malu
Drama yang berujung bersatunya Parjo dan Surti ini mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari penduduk desa. Kepala desa sangat berterima kasih kepada Ficky, Jinki, para panitia, dan bule yang telah membantu terselenggaranya kegiatan 17 Agustus ini. Beliau berkata bahwa sesukses atau sepintar-pintarnya anak bangsa, itu bodoh jika melupakan kebudayaan atau hari besar negaranya sendiri. Keberlangsungan negara Indonesia terletak pada para generasi penerus. Ficky sangat terharu sekaligus terlalu bangga dengan negaranya ini. Kebudayaan dan keunikan Indonesia telah membius banyak orang luar negeri untuk berbondong-bondong ke Indonesia. Tak sedikit juga orang luar yang menguasai gamelan, wayang, dan lain-lain. Maka dari itu sebagai warga asli Indonesia jangan pernah mengolok-olok ataupun melupakan semua yang berhubungan dengan Indonesia. Semua rangkaian kegiatan 17 Agustus di desa Mojokumpul telah usai. Para warga, panitia, dan peserta saling bersalaman dan bergurau. Akhirnya acara ini bisa sukses. Dengan berakhirnya proyek sosial ini, saatnya Jinki pulang ke Korea dengan sejuta kenangan tak terlupakan.

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

rosa_liinna

Penulis

Rosalina Dewi Novitasari

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login