Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

21 Agustus 2014

Perbudakan di Tanggerang, Buruh Tidak Mandi 3 Bulan, Rambut Kutuan Sampai Penyakit kulit

Perbudakan di Tanggerang, Buruh Tidak Mandi 3 Bulan, Rambut Kutuan Sampai Penyakit kulit

Kepolisian Resor Tangerang akhirnya menetapkan lima tersangka dalam kasus buruh yang diperlakukan layaknya budak oleh pimpinan CV Cahaya Logam, sebuah pabrik panci alumunium dan alat-alat dapur, di Kampung Bayur Opak RT03/06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang. Pabrik itu digerebek polisi pada Jumat lalu, 3 Mei 2013, setelah dua orang buruh berhasil melarikan diri dari lokasi pabrik.

Kelima tersangka itu adalah Yuki Irawan, 41 tahun, pemilik pabrik, dan empat anak buahnya: Tedi Sukarno (35), Sudirman (34), Nurdin alias Umar (25), dan Jaya (30). Mereka dikenakan tuduhan penganiayaan dan kekerasan terhadap para buruh pabrik tersebut. Selain itu mereka juga telah menyekap dan memaksa mereka bekerja secara tidak wajar selama empat bulan.

Para buruh yang disekap kondisinya sangat memprihatinkan, mulai pakaian kumal compang camping, tubuh tidak terawat, rambut cokelat, kelopak mata gelap, dan berpenyakit kulit sampai rambut penuh kutu. Itu karena mereka rata-rata tiga bulan tidak mandi dan tidak ganti baju. Semua uang, telepon genggam dan pakaian dari kampung yang dibawa buruh sudah disita pemilik pabrik saat mereka mulai bekerja di sana.

Polisi menjerat para tersangka dengan pasal berlapis Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yakni Pasal 33 tentang Perampasan Kemerdekaan Orang, Pasal 351 tentang Penganiayaan, dan Pasal 372 tentang Penggelapan. Mereka juga dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak karena ada empat buruh dengan usia masih di bawah 18 tahun. Tersangka juga menyekap enam buruh di dalam ruangan terkunci. Ancaman hukuman terhadap tersangka adalah 8 tahun penjara.

Dalam rekonstruksi di halaman kantor Satuan lalu-lintas Polresta Tangerang, hari ini, digelar ada 83 adegan penganiayaan. Tedi misalnya, telah melakukan kekerasan fisik terhadap 16 buruh dengan cara memukul dengan tangan, menampar, menendang, menyundutkan rokok, dan siram air panas. Adapun Yuki, si pemilik pabrik, telah melakukan kekerasan fisik terhadap 13 buruh dengan cara menampar dan memukul.

Salah seorang buruh yang berhasil diselamatkan, Arifudin, sudah bisa tersenyum seperti yang dilaporkan dalam halaman Tempo. Betapa tidak bahagia setelah tiga bulan tidak mandi, sehari setelah dibebaskan, akhirnya polisi menyuruhnya mandi, gosok gigi dan keramas. Secara bergiliran, ke-25 buruh termasuk Arif bergantian mandi di kantor polisi. Setelah mandi, buruh juga mengganti baju kumal mereka dengan pakaian layak pakai. Sebagian pakaian rombeng mereka dijadikan barang bukti dan lainnya dibuang.

Arifudin bercerita selama tiga bulan dia dan kawan-kawannya baik dari Lampung dan Cianjur, Jawa Barat hampir tidak mengguyur badannya dengan air selama tiga bulan. Kalau toh bersentuhan dengan air, hanya membersihkan diri saat buang hajat. Yang menarik, polisi atas perintah Kapolres juga mengundang tukang cukur. Mereka pun bercukur setelah mandi. Hasilnya, wajah hitam, dekil dan kotor menjadi bersih.

Mereka mengaku cukup lega bisa lepas dari sekapan empat hingga enam bulan di lokasi pabrik panci alumunium di Desa Lebak Wangi, Sepatan Tangerang. Pencukurnya juga membenarkan kalau para buruh itu berkutu di rambutnya. Ditambah lagi dengan rambut yang sangat lengket, gunting cukurnya beberapa kali macet saat mencukur.

Cerita lainnya:

Parah Banget, Masih Ada Perbudakan di Tanggerang

Cristiano Ronaldo Akui Dirinya Sudah Hafal Al Fatihah dan Tertarik Jadi Muallaf

Heboh, Foto ‘Tak Biasa’ Amanda di Twitter

Tujuh Istri Eyang Subur, Yang Manakah Mantan ‘Wanita Malam’?

Foto: Tempo.co

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
1 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

donzurai

Penulis

Doni

"Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis"

Komentar

(1 Komentar)
  1. clen Ditulis pada tanggal 06 Mei 2013 10:03

    parah banget di indonesia tak ada ya yang mau mengerti nasib buruh ke depannya

Post Into Facebook Wall
login