Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

22 November 2014

R.A Kartini Bukan Pelopor Bagi Emansipasi Wanita Indonesia

R.A Kartini Bukan Pelopor Bagi Emansipasi Wanita Indonesia

Mari mengingat kembali lagu yang begitu apik dibuat dari sang maestro WR SUPRATMAN, lagu yang begitu sering kita dengar di bangku Taman Kanak-Kanak, dan sebagai lagu wajib sebagai dasar untuk belajar recorder saat kita masih memakai seragam putih-merah, apa lagi kalau bukan lagu IBU KITA KARTINI :

Ibu kita Kartini//Putri sejati//Putri Indonesia//Harum namanya
Ibu kita Kartini//Pendekar bangsa//Pendekar kaumnya Untuk merdeka

Reff
Wahai ibu kita Kartini // Putri yang mulia//Sungguh besar cita-citanya//Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini//Putri jauhari//Putri yang berjasa//Se Indonesia
Ibu kita Kartini//Putri yang suci//Putri yang merdeka//Cita-citanya
Back to Reff
Ibu kita Kartini//Pendekar bangsa//Pendekar kaum ibu//Se Indonesia
Ibu kita Kartini//Penyuluh budi//Penyuluh bangsanya//Karena cintanya


Begitu digembar-gemborkannya sosok wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 setelah aksinya menolak kebijakan dari lingkungan keluarga besarnya yang notabenenya kaum priayi atau sebagai orang yang termasuk lapisan masyarakat dengan kedudukannya dianggap terhormat. RA Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di hati RA Kartini karena terbentur pada aturan adat dari lingkungannya, terlebih bagi kaum ningrat bahwa wanita seperti dia harus menjalani pingitan. Semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepada tradisi ia harus berpisah pada dunia luar dan terkurung oleh tembok Kabupaten.

Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa RA Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan ada hasilnya, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.

Putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara ini mulai dikenal saat mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dan mulai mengadopsi pemikiran wanita eropa dan ia berusaha menerapkan pemikirannya tersebut bagi wanita pribumi. Dari korenspodensinya inilah dianggap R.A Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita di negeri ini.

Disaat R.A Kartini bernyanyi tentang emansipasi wanita dalam memperjuangkan hak-hak wanita Indonesia, Rohana Kudus lebih getir menghadapi stigma dan diskriminasi kaum hawa saat itu. perempuan kelahiran Sumatra Barat 20 Desember 1884 ini mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Di saat R.A Kartini baru menulis artikel dan surat-suratnya, Rohana Kudus justru wanita pertama yang berhasil mendirikan surat kabar perempuan Indonesia pertama. Dari surat kabar yang dimilikinya inilah ia mampu menyulutkan kobaran api perjuangan tatkala Belanda mulai melakukan penindasan dan berbuat tidak adil terhadap pribumi. Perempuan yang memperoleh anugrah perintis jurnalis di Indonesia pertama ini, ia pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api. Selain pandai berbahasa Belanda, mak tuo ( Bibi ) dari si Binatang Jalang Chairil Anwar ini juga begitu fasih berbahasa Arab, latin dan Arab-Melayu, tanpa mengecap pendidikan formal, ia berhasil juga menyetarakan wanita dan mengembalikan hak wanita untuk dapat mengecap jenjang pendidikan dan karir yang sama dengan kaum pria, sepupu H. Agus Salim ini lebih lama dibandingkan R.A Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Sampai ia menutup usia-nya di Jakarta disaat usianya 87 Tahun.

Nah, kalau ada peringatan hari lahirnya R.A Kartini di setiap tanggal 21 April, apakah perlu juga ada peringatan hari kelahiran Rohana Kudus dan dijadikan hari libur nasional serta dijadikan hari pemerkasa emansipasi wanita setiap tanggal 20 Desember?

Cerita lainnya:

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
1 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

akualbana

Penulis

Hasan Al Bana

Simple dan anti basa-basi

Komentar

(1 Komentar)
  1. Stig Ditulis pada tanggal 22 April 2013 16:14

    Nice story! doesn't matter RA Kartini or Rohana Kudus, yang penting perempuan Indonesia harus maju!

Post Into Facebook Wall
login