Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

25 Oktober 2014

Tukul Menghilang Setelah Menghina Jendral

Tukul Menghilang Setelah Menghina Jendral

Jujur sebelumnya nggak terbesit untuk mengkomentari sosok katrok, ndeso yang memiliki nama secara dialek disebut Tukul namun dalam penulisannya disebut Thukul. Yang membuat saya penasaran dan ingin menelusuri seorang yang memiliki nama lengkap Wiji Thukul, walau simpang siur nama yang sebenarnya, namun semakin membuat saya penasaran tentang siapa dia? Mengapa dia sebegitu pentingnya menjadi buah bibir, hingga kini namanya diangkat oleh media. Bukan media cetak ecek-ecek pula, yang sehabis baca dijadikan pembungkus gorengan. Mari kita telusuri siapa sosok Wiji Thukul itu....


Ia mulai dikenal sebagai penyair dan aktivis, tak banyak yang tahu Wiji Thukul bukanlah nama yang sebenarnya. Pria ini dilahirkan dengan nama Wiji Widodo. Selepas lulus dari SMP Negeri 8 Solo, Thukul masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo, jurusan tari. Tak banyak orang tahu bahwa Wiji mampu menari dengan luwesnya. Sampai bersekolah di SMKI itu, Thukul masih aktif di kapel. Suatu ketika, menjelang Natal, anak-anak kapel hendak mementaskan teater bertema kelahiran Kristus. Oleh seorang pemain teater, Thukul diperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater yang diasuh penyair W.S. Rendra. Thukul kemudian masuk menjadi anggota Teater Jagat.


Di situlah Lawu kemudian mentabalkan nama Thukul. Nama asli Thukul sesungguhnya adalah Wiji Widodo. Namun, Lawu menghilangkan nama Widodo dan diganti dengan Thukul. Wiji Thukul artinya Biji Tumbuh. Lawu agaknya mengikuti tradisi di Bengkel Teater. Rendra sering memberi nama parapan kepada anggota bengkel teaternya. Sawung Jabo, misalnya, adalah bukan nama asli. Nama aslinya Mochamad Johansyah. Juga Udin Mandarin, kata Mandarin ditambahkan Rendra. Atau Kodok Ibnu Sukodok, yang nama aslinya Prawoto Mangun Baskoro. Nama Lawu Warta sendiri adalah pemberian Rendra. Adapun Cempe (artinya anak kambing) adalah nama panggilannya di kampung.

Setelah bernama Wiji Thukul, Thukul sempat menambahkan nama Wijaya di belakangnya menjadi Wiji Thukul Wijaya. Tapi kemudian ia membuangnya karena sering diledek teman-temannya sebagai nama borjuis.

Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Serangkaian catatan sosok Wiji Thukul...

Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal.

Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.
Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker)

Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.

Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.

April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul "Thukul, Pulanglah" yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Dalam pelariannya, Wiji Thukul bahkan masih bisa bercanda. Ketika hujan turun, ia pun menulis syair: hujan malam ini turun/ untuk melindungiku/ intel-intel yang bergaji kecil/ pasti jengkel....

Tentu saja, ada kegetiran di balik lirik yang terkesan bergurau itu. Wiji pun melanjutkan: malam yang gelap ini untukku/ malam yang gelap ini selimutku/ selamat tidur tanah airku/ selamat tidur anak istriku/ saatnya akan tiba/ bagi merdeka/ untuk semua

Itulah salah satu puisi yang terhimpun dalam buklet kumpulan puisi berjudul 'Para Jendral Marah-marah' yang diterbitkan sebagai bonus Majalah Tempo edisi khusus memperingati 15 tahun reformasi, dengan judul sampul 'Teka-teki Wiji Thukul'. Kumpulan tersebut memuat 49 puisi, termasuk puisi-puisi Wiji dalam bahasa Jawa.

Sebagian besar dari puisi dalam buklet setebal 37 halaman itu ditulis Wiji dalam pelariannya sebagai buron politik pemerintah Orde Baru. Wiji adalah penyair yang belakangan terjun ke politik praktis lewat Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, bagian dari Partai Rakyat Demokratik yang muncul pada 1996. Puisi-puisinya menyuarakan penderitaan rakyat, dan mengandung jargon-jargon perjuangan yang menggetarkan para jenderal di Jakarta kala itu.

Judul buklet tersebut diambil dari salah satu puisi Wiji yang berjudul sama. Layaknya kebanyakan karya Wiji, puisi tersebut walau menyimpan kepedihan tetap ditulis dalam gaya yang santai, dibungkus dengan hal-hal rutinitas keseharian dalam kehidupan rumah tangga rakyat kecil. Berikut petikan puisi 'Para Jenderal Marah-marah':

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jenderal menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tarik. Dengan mata masih lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: "Namamu di televisi...."

Puisi Wiji tak pernah bertele-tele dengan metafora. Bahkan, salah satu puisinya yang terhimpun dalam kumpulan ini terang-terangan mengungkapkan bahwa dirinya tak memerlukan metafora untuk mengatakan pikiran dan isi hatinya. Seperti tampak pada puisi berjudul 'Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?'

Waktu aku jadi buronan politik karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik namaku diumumkan di koran-koran rumahku digrebek --biniku diteror dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi (anakku --4 th-- melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA


Ternyata sosok Wiji Thukul yang baru tadi pagi saya lihat di perempatan lampu merah Tugu Tani, aktivis yang bersuara lantang dan kini ia hilang, dibungkam.....

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

albana__

Penulis

hasan albana

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login