Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

A Soldier's Tale (Bag I)

A Soldier's Tale (Bag I)

Pada suatu malam di sebuah padang rumput, terlihat beberapa orang tentara sedang mengendap-endap. Suara ledakan terdengar menggelegar tak jauh dari posisi pasukan itu berada. Untuk sesaat, mereka diam sambil memasang telinga. Setelah yakin tak ada musuh di sekitarnya, mereka-pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba terdengar suara senapan, dan dua orang tentara yang berdiri paling depan terjatuh. Tentara yang lain segera tiarap, dan melepaskan tembakan balasan ke arah yang diperkirakan sebagai tempat pasukan musuh bersembunyi. Beberapa saat lamanya suara senapan terus terdengar, hingga akhirnya pemimpin mereka memerintahkan untuk menghentikan tembakan. Semua kembali pada posisi berjaga-jaga. Tiba-tiba dari balik semak, muncul seseorang. Hampir saja mereka melepaskan tembakan ke arah orang tersebut, ketika orang itu berkata, “Jangan tembak ! Ini aku.”

Pemimpin mereka menghela nafas lega.

“Rupanya kamu, Fox. Sepertinya kamu telah menghabisi musuh yang mengepung kita.”

Fox, seorang gadis belia anggota pasukan itu, menjawab dengan nada datar, “Itu sudah tugasku.”

Teman-temannya menyambutnya sambil memujinya, tetapi Fox terlihat cuek; Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

“Ayo, kita harus melanjutkan perjalanan kita !”

Mendengar komando pemimpinnya, mereka kembali mengendap-endap di kegelapan malam untuk menyelesaikan tugasnya.

Fox sedang berdiri tak jauh dari pos penjagaan tempatnya bermarkas, mengamati medan tempur. Suara ledakan terdengar dari kejauhan, diiringi asap yang membumbung tinggi. Ia mengambil sebatang rokok dari sakunya, lalu menyelipkannya di bibirnya. Baru saja ia hendak menyalakan pemantik api otomatis, ketika tiba-tiba seseorang mengambil rokok dari bibirnya.

“Tidak baik gadis di bawah umur sepertimu merokok, Fox !”

Fox menengok; Ternyata yang menegurnya adalah pimpinan pasukannya.

“Lalu Kapten Alec sendiri, mengambil rokok dari seorang gadis di bawah umur, apakah termasuk perbuatan baik ?”

Alec tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Fox.

“Wahahahaha... Ternyata bisa juga kamu membalas kata-kataku.”, lalu ia mengembalikan rokok yang diambilnya kepada Fox, “Jangan terlalu sering merokok, Fox, tidak baik untuk kesehatan. Kamu bisa mati dalam usia masih sangat muda.”

Fox tersenyum sinis, “Bukankah di peperangan ini, kita semua akan mati muda, kapten ?”

“Kamu ini, apakah tidak punya harapan untuk hidup dalam dunia yang damai ?”

“Kapten tentunya tahu, alasanku untuk tetap bertahan hidup.”

Alec memandang wajah Fox yang tanpa ekspresi, lalu menghela nafas panjang.

“Aku selalu kehabisan kata-kata kalau bicara denganmu. Sudahlah, aku hanya ingin berterima-kasih, tadi kamu telah menolong kita semua ketika dikepung.”

“Sudah kukatakan, itu sudah tugasku.”

“Fox, beristirahatlah. Tugas tadi menguras seluruh tenaga kita, kamu tentunya kelelahan. Biar aku yang melanjutkan tugas jagamu.”

“Tidak perlu, aku...”

“Fox, ini perintah !”, dengan tegas, Alec memotong kata-kata Fox, “Aku memerlukanmu untuk tugas-tugas yang lebih penting, jadi kamu harus beristirahat untuk memulihkan tenagamu !”

Fox tertegun melihat ketegasan kaptennya. Akhirnya ia mengangguk lalu berjalan pergi, tetapi baru beberapa langkah ia kembali berhenti.

“Kapten, kedamaian itu seperti apa ?”

“Eh ?”, Alec terkejut mendengar pertanyaan Fox, “A.. aku tidak bisa menjelaskannya. Kalau menurutku, kita bisa mengetahui arti kedamaian jika kita sudah merasakannya.”

“Begitu.”, nada suara Fox tetap datar seperti biasa, “Terima kasih atas penjelasannya.”

Lalu Fox berlalu. Alec sambil memandang kegelapan langit, menggelengkan kepalanya.

“... Andai aku bisa memperlihatkan indahnya kedamaian padamu ...”

Teringat pada pertanyaan Fox, ‘Kapten tentunya tahu, alasanku untuk tetap bertahan hidup.’, Alec kembali menghela nafas panjang.

“... Kamu bertahan karena rasa benci yang mendalam.

Tetapi, api kebencian yang sama bisa menghancurkan dirimu, Fox ...”

Alec menutup wajahnya.

“... Jika saat itu tiba, apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu ? ...”



“Pasukan musuh menyerang !”

Sirine tanda bahaya meraung-raung di seluruh penjuru kota, sementara banyak orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Seorang anak perempuan, dengan usia sekitar tujuh – delapan tahun, berdiri kebingungan di tengah-tengah kekacauan tersebut.

“Karin, cepatlah kemari ! Kita harus segera bersembunyi.”

Gadis kecil bernama Karin itu menengok ke arah datangnya suara. Di pojok jalan, ada seorang wanita muda didampingi seorang laki-laki bertubuh tegap sedang menunggunya.

“... Itu papa dan mama ...”

Tanpa menunggu lagi, Karin segera berlari menghampiri kedua orang tuanya. Bersama-sama, mereka lalu berlindung di ruang bawah tanah sebuah rumah kosong. Mereka, bersama dengan ratusan warga kota lainnya, menunggu dengan tegang. Di luar, terdengar pertempuran antara pasukan yang menjaga kota dengan pasukan musuh. Suara senapan yang diselingi oleh ledakan terus terdengar selama sekitar satu jam, hingga akhirnya suasana di luar begitu sunyi. Perlahan-lahan penduduk mulai keluar dari tempat persembunyiannya; Demikian pula Karin dan kedua orang tuanya. Tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan keluar, ketika tiba-tiba muncul pasukan musuh.

“Gawat, rupanya pasukan kita kalah ! Segera berpencar !”

Tanpa memperdulikan bahwa orang yang berlarian hanyalah warga sipil yang tidak bersenjata, tentara musuh melepaskan tembakan membabi buta. Korban berjatuhan, mayat bergelimpangan di mana-mana, dan darah berceceran baik di jalan maupun di dinding-dinding bangunan. Karin dan kedua orang tuanya terus berlari, hingga sebuah peluru menembus tubuh Sang ayah.

“ALVIN !”, wanita itu langsung memeluk tubuh suaminya yang sudah bersimbah darah.

Beberapa tentara berjalan mendekat. Melihat situasi semakin tidak menguntungkan, Sang ibu mendorong Karin kecil hingga masuk ke dalam saluran pembuangan.

“Maafkan mama, sayang. Semoga kamu bisa bertahan hidup.”

“MAMA !”

Fox terbangun. Air mata mengalir di pipinya, dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.

“... Mengapa aku kembali teringat akan masa laluku ? Papa meninggal, dan mayatnya bersama dengan mayat penduduk lainnya, dipajang sebagai tontonan mengerikan, sementara mama...

Ia melihat keluar jendela dengan pandangan penuh kebencian.

“... Aku takkan memaafkan perbuatan mereka ! ...”

Beberapa hari kemudian, di ruang rapat sedang diadakan briefing tugas berikutnya.

“Tentara yang ditawan berada di daerah tenggara perkampungan itu. Jackal dan Rex bersiaga di sekitar gerbang barat. Ingat, tugas kalian berdua sangat penting, sebab kita akan melarikan diri dari gerbang tersebut. Karl dan Stieger akan mengalihkan perhatian musuh di arah utara setelah mendapat tanda dariku. Lalu aku, Fox dan Phyton masuk dari tenggara dan bertemu dengan informan serta membebaskan para tawanan. Apakah kalian sudah paham ?”

Fox dan tentara lainnya mengangguk.

“Ingat, tugas kali ini sangat berat, karena kita harus dapat membedakan antara pasukan musuh dengan penduduk sipil yang tidak bersenjata. Juga ada kemungkinan tentara musuh menyamar menjadi penduduk sipil. Jadi, kalian harus sangat waspada, jangan lengah sedikit-pun !”

Lalu mereka segera bersiap-siap. Sekitar pukul empat sore, mereka sampai di daerah yang dituju; Sebuah perkampungan padat penduduk di daerah Yukon, negara musuh mereka. Tugas mereka adalah membebaskan beberapa tawanan yang ditahan di antara rumah penduduk.

“Kita akan masuk ke dalam perkampungan dengan menyamar sebagai pengembara. Berhati-hatilah, jangan sampai penyamaran kalian ketahuan !”

“Siap !”

Lalu operasi pembebasan dimulai. Fox bersama dengan Phyton mengikuti kapten mereka menuju gerbang perkampungan bagian tenggara. Pemeriksaan yang dilakukan tentara musuh sangat ketat; Mereka tidak hanya memeriksa surat-surat, tetapi juga dilakukan penggeledahan.

“Kapten, apa Anda yakin kita bisa melewati pos pemeriksaan dengan lancar ?”, Phyton tampak ragu.

“Tenang saja. Biar aku yang menanganinya.”

Ketika sampai pada giliran mereka akan diperiksa, tiba-tiba Alec meninju Phyton hingga terjatuh.

“Kurang ajar ! Jika kau berani menyentuh adikku lagi, akan kubunuh kamu !”

Phyton yang masih terkejut akibat ulah kaptennya, hanya terdiam kebingungan.

“Apa lagi ?! Masih nggak mau ngaku, kamu sudah memegang-megang pinggul adikku ini ?!”, Alec menarik Fox mendekat ke dirinya, “Dasar Khalaist sial !”

(Khalaist: suku pengembara Khala yang berasal dari dataran tinggi Rhien, daerah di utara Podinc, negara asal mereka).

Mendengar kata-kata Alec, penjaga gerbang langsung menatap tajam ke arah Phyton.

“Khalaist katamu ? Jangan-jangan, orang ini mata-mata Podinc !”

“Mungkin saja ! Saat ini banyak orang keluar masuk daerah perbatasan, mungkin saja hal itu dimanfaatkan oleh pasukan Podinc untuk menyusupkan mata-matanya.”

Dalam waktu singkat, Phyton yang tidak mengerti apa-apa segera ditangkap sementara Alec dan Fox bisa melewati pos pemeriksaan dengan mudah.

“Kapten, mengapa Anda tega mengorbankan Phyton agar kita bisa masuk ?”

“Mengorbankan ? Tidak juga kok. Orang yang tadi membawa Phyton pergi, dialah informan kita. Sekarang kita akan menunggunya di pasar.”

Pasar yang terletak tidak terlalu jauh dari gerbang tenggara itu, ramai sekali dipenuhi oleh para pedagang dan pembeli; Banyak di antara mereka merupakan pengelana yang berkunjung ke perkampungan tersebut. Mereka pergi ke toko yang menjual cinderamata khas daerah itu, dan berpura-pura sebagai calon pembeli. Tak lama kemudian, informan tadi juga masuk ke dalam toko dan memberi kode pada Alec. Ia keluar dari toko, diikuti oleh Alec dan Fox. Mereka pergi ke sebuah rumah kecil yang terletak di pinggir perkampungan. Phyton yang sedang menunggu mereka di sana, langsung menyerang Alec.

“Kapten, mengapa tidak mengatakan padaku mengenai rencana ini ?! Tadi aku benar-benar bingung dan takut ! Dan tadi juga, mengapa kapten sungguh-sungguh meninjuku ? Gusiku sampai berdarah !”

Alec tersenyum, “Maaf, Phyton. Kalau aku beritahu kamu dulu, tentunya penyamaran kita akan dengan mudah diketahui mereka, karena kamu tidak pandai berpura-pura. Dan itu pula sebabnya aku benar-benar meninjumu.”

Mendengar jawaban kaptennya, Phyton hanya mendengus dengan kesal.

“Sudahlah. Bukankah yang terpenting kalian sudah melewati pos penjagaan ? Lebih baik, kita sekarang memusatkan perhatian pada usaha penyelamatan.”

Mereka mengangguk, lalu informan itu memberikan rincian yang berhubungan dengan tempat para tawanan ditahan.

Rencana yang disusun sebagai berikut : Pertama-tama Fox akan menghabisi semua penjaga yang menjaga bangunan tempat para tahanan berada. Lalu Alec dan Sang informan akan menyusup ke dalam bangunan sementara Phyton dan Fox berjaga-jaga.

Bangunan tempat para tahanan disekap terletak tepat di pusat kota, dan tepat di antara rumah penduduk. Bentuk bangunan itu seperti sebuah benteng kecil dengan tiga menara jaga; Di bagian depan terdapat satu menara, dan bagian belakang terdapat dua menara lainnya. Fox, dengan hanya berbekal sebilah pisau tentara, membunuh satu per satu penjaga, baik yang sedang berpatroli di sekitar bangunan maupun yang ada di puncak menara jaga. Setelah mendapat tanda, Alec dan informan itu segera mendatangi Fox untuk menyamar dengan seragam tentara yang telah dibunuh oleh Fox. Lalu Alec dan informan itu menyusup melalui pintu belakang, sementara Phyton dan Fox berjaga-jaga di menara; Phyton menara di bagian depan, sedangkan Fox di belakang.

“Di manakah para tawanan itu ditahan ?”

“Di ruang bawah tanah. Mengenai penjaga pintunya, biarlah aku yang mengurusnya.”

Alec menunggu di dekat tangga ruang bawah tanah, sementara informan itu berbincang-bincang dengan penjaga pintu penjara. Setelah beberapa lama, penjaga itu mempersilahkan mereka masuk ke lorong penjara, lalu ia pergi.

“Tenang saja. Disini dengan menggunakan uang, segalanya pasti beres.”

Alec tersenyum. Mereka mengambil senter dan berjalan menuju sel tahanan paling ujung. Alec sangat terkejut, melihat keadaan para tawanan yang berada dalam keadaan sangat menyedihkan; Tubuh mereka begitu kurus, sampai tulang-tulang tubuhnya terlihat. Wajah mereka tampak pasrah menunggu nasib. Ruang penjara begitu pengap dan gelap, bahkan tidak sedikit kecoak dan belatung di sana.

“Keterlaluan ! Beginikah mereka memperlakukan para tawanan perang ?! Apa ini perbuatan manusia ?!”

Informan itu menghela nafas panjang, “Tuan Alec, sekarang Anda mengerti, mengapa saya rela mengkhianati bangsa dan negara saya sendiri ? Karena apa yang Anda rasakan, juga dirasakan oleh saya. Melihat mereka yang diperlakukan seperti sampah, hati saya menjerit.”

“Aku sangat berterima kasih, ternyata masih ada orang yang memiliki nurani di negara ini. Ayo, kita harus segera menolong mereka !”

Mereka membuka pintu sel tahanan, lalu Alec berkata dengan pelan, “Kalian jangan ribut, kita akan segera pulang.”

Mendengar kata-kata Alec, wajah para tawanan langsung menjadi cerah; Ternyata mereka masih memiliki harapan ! Walau tubuh mereka sangat lemah, tetapi mereka berusaha bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih. Tiba-tiba…

“Hey, apa-apaan ini ?!”

Beberapa tentara musuh berdiri di depan pintu lorong penjara. Alec melepaskan tembakan, dan dua di antaranya tepat sasaran. Dua orang musuh jatuh bersimbah darah. Mereka melepaskan tembakan balasan. Alec dan para tawanan segera berlindung di dalam sel. Tetapi rupanya informan itu terkena tembakan.

“Tuan Alec, saya.. akan membuka jalan keluar. Tolong.. berjanjilah pada saya, selamatkanlah.. mereka !”

“Eh ? A.. apa yang… ?”

Belum sempat Alec bertanya lebih lanjut, orang itu berlari menuju tempat para tentara musuh berada. Peluru yang dilepaskan tentara musuh dalam sekejap bersarang di tubuhnya. Orang itu menarik pin geranat tangan dari sakunya, dan terdengarlah suara ledakan dahsyat. Bagian depan bangunan itu rubuh hampir separuh. Alec terbengong melihat kenekatan orang itu.

“Kau.. mengorbankan diri bagi kami ? Padahal kami.. sebenarnya musuhmu ?”

Alec menarik nafas dalam-dalam, lalu memberi komando, “Ayo, kita harus pergi dari sini ! Jangan sia-siakan pengorbanan teman kita !”

Phyton dengan cepat membantu para tawanan, sementara Alec melepaskan tembakan dan Fox, dengan kelincahannya menyerang tentara musuh dengan pisaunya. Dengan menggunakan sebuah truk yang sudah disiapkan, mereka pergi menuju gerbang barat sambil melepaskan tanda agar Karl dan Stieger mengalihkan perhatian musuh dari utara. Tetapi, apa yang menunggu di gerbang barat, membuat semua orang terkejut. Pasukan musuh bersenjata lengkap berdiri dalam posisi siap menyerang, bahkan ada dukungan tank dan jeep tempur.

“A.. apa-apaan ini ?! Me.. mengapa mereka bisa mengetahui… ?”, kata-kata Alec terputus ketika melihat seseorang yang sedang berdiri sambil tersenyum di antara pasukan musuh; Dia adalah Jackal !



“Jackal ! Kau.. mengkhianati kami ?!”

Sambil tersenyum mengejek, Jackal berkata, “Daripada disebut pengkhianat, aku lebih suka disebut pembelot. Karena, seorang pembelot berarti orang yang melihat peluang lebih baik untuk memperbaiki hidupnya.”

“Kau... !”, Alec hendak maju, tetapi tembakan tentara musuh yang mengarah tepat ke tanah di depan kakinya menghentikan langkahnya.

“Kapten Alec, aku bukanlah orang yang tidak tahu berterima kasih. Kuberi kesempatan pada kalian; Apabila kalian bersedia bersumpah untuk membela negara Yukon, maka kalian bukan hanya akan dibebaskan, tetapi juga hidup kalian akan dijamin oleh pemerintah Yukon. Apa Anda setuju dengan ideaku ini, Kapten Alec ?”

“Hanya orang gila yang tidak punya hati nurani yang dapat berpikir seperti itu. Dan kamu adalah salah satunya, Jackal !”

Mendengar jawaban Alec, Jackal menggelengkan kepalanya.

“Mudah saja bagiku untuk menghabisi kalian di sini, tetapi aku bukanlah orang yang tidak punya nurani seperti yang Anda katakan. Ok, aku akan mencoba membantu Anda berpikir lagi, kapten.”, ia mengangkat tangannya, dan beberapa orang tentara musuh maju ke depan sambil menyeret Rex dan Karl. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan; Sekujur tubuh mereka penuh luka, tak terkecuali wajahnya, dan lengan serta kaki keduanya terikat.

“Sayang Stieger dapat melarikan diri, tetapi pastilah tak lama lagi ia juga akan tertangkap. Nah, bagaimana kapten, apa Anda bisa berpikir lebih jernih sekarang ?”

Dengan dingin, Jackal mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki kanan Rex.

“ARGH !”, Rex meronta kesakitan.

“He.. HENTIKAN ! Kau.. benar-benar biadab, Jackal. Padahal kita sudah mengalami suka duka bersama. Apa kau masih pantas menyebut dirimu manusia ?!”

“Lho, bukankah aku cukup baik, memberi kalian kesempatan ? Kapten saja yang menolak kesempatan yang kuberikan. Jika anak buah Anda sampai menderita dan mati, salahkan saja diri Anda sendiri, kapten.”

Alec hanya dapat menahan geram. Tetapi ia sadar, ia tidak mempunyai banyak pilihan. Tiba-tiba Rex berkata, “Kapten, jangan perdulikan kami ! Pokoknya, jangan mau mengikuti keinginan pengkhianat ini !”

Sebuah tendangan mengenai pelipis Rex hingga berdarah.

“Huh, sok jadi pahlawan ! Kamu tahu Rex, dari dulu aku memang sudah tidak suka padamu. Kamu selalu saja sok baik dan ramah, padahal di dalam hati kau mengejek dan menghina orang yang kemampuannya lebih rendah darimu.”, lalu Jackal menengok kembali ke arah Alec, “Jadi, bagaimana keputusan Anda, kapten ?”

Wajah Alec tegang. Sebenarnya ia masih tetap pada keputusannya, tetapi sebagai seorang atasan, ia bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya.

“Masih belum bisa memutuskan juga ? Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal pada salah seorang anak buah Anda, kapten.”

Sebuah peluru tepat mengenai kepala Rex; Ia mati tanpa sempat menjerit. Dengan senyum dingin tanpa perasaan, Jackal berkata santai, “Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, Rex. Aku memberimu kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit, hahaha...”

Alec meremas tangannya sendiri. Walau melihat anak buahnya mati di depan matanya sekalipun, ia tetap tidak berdaya.

“Ayo cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Apa perlu aku melepaskan tembakan lagi ?”

Akhirnya, dengan menunduk Alec berkata, “Aku memang bukan atasan yang baik bagi kalian. Aku sendiri tidak akan mengikuti keinginan bajingan ini, tetapi jika ada di antara kalian yang mau mengikutinya, aku tidak akan menahan kalian. Siapa yang tetap ingin bersamaku, silahkan tetap di sini, dan siapa yang ingin berpindah pihak, silahkan buang senjata kalian dan jalan ke seberang.”

Mereka semua terdiam mendengar kata-kata Alec. Tiba-tiba salah seorang dari tawanan yang dibebaskan, mulai bergerak menuju posisi pasukan musuh. Beberapa orang temannya juga mengikutinya.

“Bagus, bagus. Kalian memang sudah bisa memilih, mana yang lebih baik bagi kalian.”

Akhirnya, yang tetap berdiri bersama Alec tinggal Fox dan Phyton, serta 3 orang tawanan.

“Rupanya kalian ingin menjadi martir ya ? Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan kalian, dasar orang-orang bodoh !”

Baru saja Jackal mengangkat tangannya, ketika tiba-tiba Fox membuang pisaunya lalu berjalan menuju pasukan musuh. Alec dan Phyton sangat terkejut melihat tindakan Fox.

“Fox, apa kau.. juga akan mengkhianati kami ?!”

Fox hanya menengok sesaat ke arah mereka, sebelum akhirnya ia meneruskan langkahnya.

“Wah wah wah, kasihan sekali Anda, kapten. Bahkan anak kesayanganmu sendiri mengkhianati dirimu, bukankah ini sudah menunjukkan kegagalan Anda menjadi seorang pemimpin ?”

Sementara Jackal tertawa keras-keras, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dahsyat dari arah belakang pasukan musuh. Dalam sekejap, keadaan menjadi kacau. Tentara musuh tidak tahu serangan itu berasal dari mana, jadi mereka hanya dapat menembak ke sembarang tempat. Sementara Alec dan Phyton tidak berdiam diri. Mereka berlindung lalu melepaskan tembakan ke arah tentara musuh yang sedang kebingungan. Tetapi, yang sebenarnya membantai banyak tentara musuh, adalah Fox. Ia terus membunuh musuh dengan tangan kosong. Akhirnya suara tembakan dan ledakan tidak lagi terdengar. Alec, Phyton dan para tawanan yang selamat keluar dari persembunyian mereka. Di tengah kepulan asap, Fox berdiri sambil mencengkram kerah baju Jackal dari belakang.

“Fox, kamu tadi.. hanya berpura-pura ?”

Fox tetap diam, tidak menjawab.

“Bodohnya aku. Seharusnya aku sadar, bahaya sekali membiarkan kamu berada dekat kami.”

Ketika Alec sudah mendekat, Fox melemparkan Jackal ke depan kaki Alec.

“Jackal, kamu bukan saja telah mengkhianati kepercayaan kami padamu, tetapi juga telah membunuh temanmu sendiri ! Seorang pengkhianat takkan ditolerir dalam ketentaraan.”

Alec mengambil pistolnya, dan mengarahkannya ke kepala Jackal.

“Apa ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan ?”

Dengan wajah memelas, Jackal berkata, “Tolong, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku tahu, apa yang telah kulakukan memang salah, tetapi...”

Kata-kata Jackal tidak akan pernah terselesaikan, karena sebuah peluru menembus kepalanya. Tubuhnya langsung roboh ke tanah.

“Apa kau juga memberikan Rex kesempatan ? Minta maaflah kepadanya di dunia lain !”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang mereka, “Hey, apakah kalian semua selamat ?”

“Stieger ? Kaukah.. yang telah menolong kami ?”

Di antara kepulan debu, seseorang datang sambil membawa peluncur roket; Dia adalah Stieger.

“Gila ! Tiba-tiba tentara musuh menyerang aku dan Karl. Untung aku berhasil melarikan diri, tetapi aku tidak dapat menolong Karl. Sebenarnya, bagaimana mereka dapat mengetahui rencana kita ?”

Alec menunjuk ke mayat Jackal yang tergeletak di tanah.

“Pengkhianatan.”, katanya singkat memberi penjelasan.

“Begitu rupanya. Maaf, aku terlambat membantu kalian. Masalahnya, karena tidak mungkin aku sendirian dapat melawan mereka, jadi aku harus mencari senjata yang tepat.”

Alec tersenyum, “Tidak juga. Pertolonganmu cukup tepat waktu, walau sedikit terlambat untuk menolong Rex. Terima kasih, Stieger.”

Lalu Alec dan Phyton menengok ke arah Fox, yang masih berdiam diri.

“Aku tidak akan membenarkan diri atas apa yang telah kulakukan. Apapun hukuman dari kapten, akan kuterima.”

“Aku tahu, tidak mungkin kamu melakukan sesuatu tanpa alasan, Fox. Kamu bukanlah type seseorang yang dengan mudah membelot ke pihak musuh. Kemampuanmu adalah menyerang dari jarak dekat, jadi lebih mudah bagimu berada di dekat mereka. Aku mengerti apa yang telah kaulakukan, dan aku tidak akan menghukummu. Sekarang, lebih baik kita obati luka-lukamu.”

Fox hanya terdiam mendengar kata-kata Alec.


cerpenonline.multiply.com

1 Komentar Laporkan Cerita

Abdul Munazah

Penulis

Abdul Munazah

aku adalah insan yang tak punya, yang ku punya hanya rasa cinta yang membara, suatu hari akan tercipta rinduku padanya (belum tau entah siapa), karena cinta itu bahagia.

Komentar

(1 Komentar)
  1. Abdul Munazah Ditulis pada tanggal 22 Juli 2012 10:18

    now fighting rages on and on, to chalenge me you must be strong.

login