Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

26 Oktober 2014

Antara Misteri dan Mitos Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen Subang

Antara Misteri dan Mitos Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen Subang Tanjakan Emen dalam beberapa tahun terakhir ini kerap menjadi kuburan bagi pengendara yang melintas di jalur itu. Terakhir, sebuah bus pariwisata Dian Mitra yang mengangkut 23 orang mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang Jawa Barat. Bus pariwisata tersebut bertujuan ke Ciater, saat di Tanjakan Emen sekitar pukul 11.30, Senin (1/10), bus mengalami kecelakaan. Sebelum terbalik, bus sempat menabrak sepeda motor. Akibat kejadian tersebut 3 orang tewas dan belasan mengalami luka-luka.

Seluruh korban tewas dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk diotopsi. Sementara korban luka-luka yang semula dirawat di RSUD Cieereng Subang dirujuk seluruhnya ke Rumah Sakit Santosa, Bandung. Diketahui 20 adalah WNA dari Taiwan, sementara tiga lainnya adalah pengendara, satu satpam Hotel Paradise, dan satu adalah guide.

Bagi warga Bandung, khususnya mereka yang bermukim di Bandung Utara, pasti sudah tahu banyak tentang 'kramat'nya Tanjakan Emen. Dari arah Subang, tanjakan maut itu dimulai sebelum mulut jalan ke pintu obyek wisata air panas Ciater hingga mulut jalan obyek wisata kawah gunung Tangkuban Perahu, Lembang Bandung. Hampir setiap tahun ada kecelakaan maut di sana dan selalu merenggut korban jiwa.

Ada banyak versi yang mengisahkan tentang asal mula ruas jalan itu disebut Tanjakan Emen. Kisah pertama menyebutkan, menjelang kemerdekaan Indonesia, ada seorang pria paruh baya bernama Emen yang menjadi korba tabrak lari hingga tewas. Si penabrak menyembunyikan mayat Emen di sela-sela rimbunnya pohon dan ilalang. Mayat Emen yang sudah membusuk akhirnya ditemukan warga di sekitar lokasi tanjakan itu. Warga sekitar meyakini, sejak saat itulah arwah Pak Emen menuntut balas. Jika ada pengemudi yang pernah menabrak orang atau binatang tetapi tidak bertanggung jawab, dia akan mengalami kecelakaan di tanjakan itu.

Penyebab kecelakaan itu memang aneh, beberapa sopir yang nyaris menjadi korban 'keisengan' arwah Emen berkisah. Jika tidak 'permisi' dulu saat melalui tanjakan itu, seolah-olah dari arah depan ada kendaraan lain melaju kencang dan ingin menabrak. Dalam kondisi panik serta dalam kecepatan tinggi, biasanya sopir akan menghindar dan banting stir hingga terbalik, atau menabrak tebing. Cerita itu cukup 'nyambung' jika didata, banyaknya kecelakaan tunggal yang terjadi di sana.

Kisah lain menyebutkan, semasa hidupnya Emen dikenal sebagai supir pemberani. Suatu malam, sekitar tahun 1964, Emen sedang mengakut ikan asin dari Bandung ke arah Subang. Persis di tanjakan itu dia mengalami kecelakaan. Mobilnya terbalik, terguling-guling dan terbakar. Saat itu jalan sedang sepi. Tidak ada yang menolong Emen yang terjebak di dalam mobil yang membakarnya hidup-hidup.


Mitos Buang Rokok
Cerita warga dan para sopir yang biasa melintas, banyak kejadian aneh di sana. Mobil yang sehat, tiba-tiba mogok. Begitu supirnya turun dari mobil ingin memperbaiki, tiba-tiba dia kesurupan dan kejang-kejang. Atau mobil yang meluncur turun, tiba-tiba remnya mendadak blong. Menurut kepercayaan warga, kejadian itu hilang begitu saja, kala sebatang rokok dinyalakan dan dilempar ke pinggir jalan sebagai simbol memberikan rokok kepada arwah Emen. Konon dulunya, Emen amat selalu merokok saat mengemudi.

Jika dilihat konstruksi jalan, pangkal penyebab kecelakaan sebenarnya karena posisi turunan atau tanjakan Emen terbilang cukup ekstrim. Dengan kemiringan sekitar 45-50 derajat sepanjang kurang lebih 2-3 km ini jalan ini memiliki tikungan tajam memaksa supir piawai dan ekstra hati-hati memegang kemudi. Tanjakan Emen telah diperlebar.

Dan kini di sepanjang tanjakan ini sudah tidak sesunyi dulu. Selain ramai penjaja makanan, juga bengkel darurat pun tersedia, seperti servis kopling, rem, bensin atau tambal ban. Dua jalur menanjak dan satu lajur menurun. Dua lajur menanjak memberi kesempatan bagi pengemudi berkonsentrasi menjaga laju kendaraannya saat mendaki. Sementara satu lajur menurun agar supir tetap berhati-hati menjaga keseimbangan gas dan rem sehingga mobil tetap terkendali.

Kisah mistik dan cerita berbau klenik kadang jadi romantika buat para pengendara. Saat mengendarai kendaraan di berbagai tempat, ada saja jalanan angker yang punya aura tersendiri. Faktanya pun ada jalan itu sering meminta korban.

Apakah benar demikian adanya? Dikembalikan pada keyakinan pribadi masing-masing. Namun yang jelas, di lintasan itu memang cukup berbahaya karena kondisi jalan yang menurun dan berkelok, sehingga kendaraan akan sulit dikendalikan, dan jika pengendara lalai bisa terjadi kecelakaan maut.

Baca juga:
Ketika mitos tanjakan emen menjadi kenyataan
Tanjakan Pengantin Bungbulang Garut
Rute "Maut" Jogja-Purwokerto
Boneka Uci di Babakan Siliwangi Bandung
Klakson 3 kali
Korban ke tigabelas

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

donzurai

Penulis

Doni

"Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis"

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login