Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

25 Juli 2014

Cerita Kota Kudus

Cerita Kota Kudus Kota Kudus terkenal dengan tiga sebutan sekaligus, yakni Kota Kretek, Kota Jenang, dan Kota Para Wali. Disebut kota kretek karena terdapat setidaknya dua industri rokok berskala nasional, pabrik rokok Djarum dan Nojorono dengan jumlah pekerja mencapai ribuan orang.

Kemudian di sana juga banyak terdapat pabrik Jenang, sejenis makanan khas Kota Kudus yang rasa dan bentuknya mirip dodol. Jenang Kudus ini termasuk oleh-oleh favorit bagi para pelancong.

Sementara untuk sebutan Kota Para Wali, karena di wilayah yang letaknya sekitar 30 kilometer ke arah timur dari Kota Demak ini, terdapat dua makam Sunan anggota majelis Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, yaitu makam Sunan Kudus di pusat kota dan makam Sunan Muria di pegunungan Muria.

Pusat Kota Kudus tergolong kecil, cukup dengan bersepeda kita sudah bisa berkeliling menikmati keelokan Kota Kudus dengan segala warnanya. Kita juga tak perlu khawatir tersesat, karena penduduknya sangat ramah dan bersedia menujukkan jalan seterang-terangnya.

Jujur saja, soal keramahan penduduk, Kota Kudus betul-betul patut diacungi jempol. Beberapa kali Kabari menanyakan nama jalan, mereka tanpa sungkan langsung menghampiri si penanya, lalu menunjukkan arah jalan yang ditanyakan dengan menggunakan ibu jari.

Nah menariknya, kadang penjelasan yang diberikan terdengar lucu dan unik. Terutama bagi orang luar daerah yang baru pertama kali datang ke Kota Kudus. Termasuk Kabari saat bertanya jalan menuju Menara Kudus kepada seorang tukang becak di Alun-Alun Kota Kudus.

“Dari jalan ini mobil tidak bisa masuk, harus ngiri terus lurus, nanti nganan, ketemu bangjo nganan lagi, terus lurus, ketemu bangjo kedua nganan, ngiri lagi, dari sana sudah terlihat menaranya,” ujarnya.

Soal nganan dan ngiri, kita bisa langsung menebak bahwa itu artinya ke kanan dan ke kiri, tapi soal bangjo, apa pula artinya?

Bangjo merupakan adalah sebutan untuk lampu pengatur lalu lintas atau traffic light. Kata bangjo akronim dari kata Abang dan Ijo, yang dalam bahasa jawa artinya merah (abang) dan hijau (Ijo). Supaya mudah, mereka lalu menyebut dengan bangjo saja untuk lampu pengatur lalu lintas.

Sempat berpikir ini adalah istilah prokem (bahasa gaul) ala Jawa. Awalnya mungkin saja iya, tapi kenyataannya sekarang kata bangjo sudah umum digunakan masyarakat di sejumlah kota di Jawa Tengah. Mulai dari tukang becak, tukang parkir, polisi, mahasiswa, hingga Bupati dan Gubernur. Bahkan kata ini sudah menjadi bahasa jurnalistik surat kabar setempat.

Mantan pegawai Pemerintahan Kabupaten Kudus yang kini bergiat di dunia kesenian, Anwar Holid (68), mengungkapkan, dulu bangjo Kota Kudus masih sedikit, tapi sekarang sudah lumayan banyak. Kudus memang tergolong kota kecil. Bahkan Kabupaten Kudus menjadi kabupaten terkecl di Jawa tengah dengan 9 kecamatan.

“Seiring perkembangan kota, jumlah bangjo Kudus kini semakin banyak. Tapi untungnya meskipun banyak, tak ada ceritanya Kota Kudus itu macet, kalaupun macet paling-paling di sekitar pabrik rokok di jam-jam tertentu saat ada aktifitas buruh yang keluar masuk,” ujar Holid bangga. “Lagipula para pekerja pabrik rokok mayoritas menggunakan sepeda, jadi tidak menghasilkan polusi.”

Lebih Pas Daripada Sebutan Lampu Merah

Tak begitu jelas bagaimana dan siapa yang pertama kali mempopulerkan kata Bangjo ini. Menurut cerita, kata Bangjo mulai dikenal sejak tahun 80-an ketika pemerintah sedang giat membangun infrastruktur jalan di kota-kota Jawa dan mendirikan banyak lampu pengatur lalu lintas.

Konon, awalnya disebut lampu abang ijo, kemudian menjadi abang ijo. Akhirnya lama-kelamaan disingkat menjadi bangjo saja.

Menurut Anwar Holid (48) kata bangjo semata-mata muncul karena kreatifitas masyarakat Jawa. “Kata bangjo mempresentasikan sifat asli orang orang Jawa yang cenderung menginginkan hal-hal yang sederhana, tak mau neko-neko,” kata Holid.

Di Jakarta, atau dalam bahasa Indonesia umumnya, lampu pengatur lalu lintas disebut lampu merah, dengan dua suku kata, lampu dan merah.

Berbeda dengan bangjo, yang terdiri dari satu suku kata dan relatif mudah diucapkan. Kata Lampu Merah merah sulit diakronimkan menjadi satu kata yang enak didengar.

Kalau disandingkan, kata bangjo memang lebih enak didengar daripada kata lampu merah, kok. Iya kan?

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
5 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

bima

Penulis

bima luqmanul hakim

Komentar

(5 Komentar)
  1. dhatux Ditulis pada tanggal 09 Juli 2012 08:46

    aduh jadi pingin ke kudus tapi sayang ,beleum ada uang dan waktu,mungkin lain kali aja bisa yu mari

  2. iyel_iyel@yahoo.com Ditulis pada tanggal 22 Juni 2012 13:45

    sopo sing neko2 hehe, yup apa aja yang gampang diinget bisa asyik dan ga lupa

  3. iyel_iyel@yahoo.com Ditulis pada tanggal 22 Juni 2012 13:45

    sopo sing neko2 hehe, yup apa aja yang gampang diinget bisa asyik dan ga lupa

  4. iyel_iyel@yahoo.com Ditulis pada tanggal 22 Juni 2012 13:42

    harusnya empat sebutannya sama kota soto kudus yang lezat itu

  5. iyel_iyel@yahoo.com Ditulis pada tanggal 22 Juni 2012 13:42

    harusnya empat sebutannya sama kota soto kudus yang lezat itu

Post Into Facebook Wall
login