Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

Ciri Keluarga Cahaya

Ciri Keluarga Cahaya

Sahabat, kalau berbicara masalah keluarga tentu itulah keluarga yang penuh dengan semangat dan tentunya sakinah, mawadah, warahmah.

Sebuah keluarga yang bermandikan cahaya, pastilah terdiri atas sepasang orang tua dan anak-anak yang mulia. Orang tua memuliakan anak-anaknya, dan anak-anak memuliakan orang tuanya. Lalu bagaimana caranya untuk anak-anak memuliakan orang tuanya?, berikut adalah Keluarga Cahaya yang disampaikan oleh Prof. Dr. Miftah Faridl.

Pertama, sejauh seorang anak berjalan di muka bumi, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan, peran dan posisi sepasang manusia bernama ibu dan bapak. Menghapuskannya dari kehidupan seseorang –sebagai anak–berarti ia menghancurkan kehidupannya sendiri.

Kedua, setinggi apa pun kedudukan seorang anak manusia di depan publik, seharum apa pun namanya di mata dunia, segemerlap apa pun reputasinya, ia tetap mesti menyadari bahwa dirinya ‘hanyalah’ seorang anak yang dihadirkan melalui ayah dan ibunya.

Ketiga, ‘sebodoh’ dan ‘serendah’ apa pun pemahaman dan tingkat pendidikan orang tua terhadap realitas, sebagai manusia yang dilahirkan olehnya, tidak bisa tidak sang anak harus senantiasa meletakkan diri sebagai ‘anak kemarin sore’ atau ‘anak TK” yang sedang ‘belajar mandi’ di hadapan ayah dan ibunya.

Kalau kita memandang ibu dan bapak yang hatinya sehat dan pikirannya jernih–bukan hanya bisa bikin anak tapi tak pernah mengurus apa yang menjadi tugasnya, seperti yang belakangan sering kita saksikan di tayangan-tayangan kriminal televisi–maka (terutama) ibulah orang pertama yang mengurusi hidup kita. Tugas itu jelas bukan beban, karena sang ibu melakukannya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Apalagi si anak telah dipandangnya sebagai buah hasil cintanya dengan suami tersayang. Maka, tugas hidup bisa berjalan secara alamiah, tanpa paksaan.

Seorang ibu yang normal tidak lain adalah pelanjut dari kasih sayang Allah kepada seluruh umat manusia. Sampai di sini, benar kata penyair Madura, D. Zawawi Imran, bahwa berhadapan dengan ibu, anak hanya bisa menghitung ‘utang yang tidak mampu untuk dibayar’.

Ketika mengungkapklan apresiasinya terhadap ibu, Kiai Togog, yang disebut Danarto sebagai penyair ‘urusan malaikat’, pernah menulis bait puisi yang indah sekali untuk sang ibu:

Ibu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi jimat bagi rizki dan kebahagiaanmu
Ibu kandungmu adalah
Ibunda kehidupanmu
Jangan sakiti hatinya
Karena ibundamu akan senantiasa memaafkanmu
Tetapi setiap permaafan ibundamu
Atas setiap kesalahanmu
Akan digenggam erat-erat oleh para malaikat
Untuk mereka usulkan kepada Tuhan
Agar dijadikan kayu bakar nerakamu

Membuka relung hati untuk selalu ada peluang menghayati kasih sayang orang tua bukan soal kuno dan modern. Ia lepas dari periodisasi kurun kebudayaan. Barangkali, perjalanan sejarah kebudayaan memang tidak boleh berhenti, tetapi cinta kepada ibu dan bapak adalah pencerahan tak kunjung lelah dengan bentuknya yang kodrati. Membiarkannya dalam kondisi minus adalah penistaan terhadap hakikat diri, sekaligus pembusukan hati nurani. Pada situasi ini, mungkin sudah waktunya bagi seorang anak untuk mengajukan permohonan, “Ibu, tamparlah mulut anakmu.”

Sebuah permohonan agar ibu bisa mengingatkan anak-anaknya yang sudah menyeberangi batas dan masuk rimba larangan. Tamparan itu substansinya ialah kasih sayang ibunda. Jika tidak ada tamparan dan peringatan ibunda, bisa sangat wajar kendaraan yang disetir sang anak remnya menjadi blong dan akhirnya menubruk laknat Allah.

Kita, para tua (atau siapa saja), tentu sangat merindukan hadirnya anak-anak yang dapat mewarisi luasnya semesta kasih sayang seorang ibu (the spirit of motherhood), dan kejernihan pikir seorang ayah. Bukankah, tugas ibu adalah menjaga, dan ayah menyediakan cita-cita?

Gede Prama, sang penutur kehidupan, sampai pada kesimpulan: andaikan ada seorang anak yang bisa mewarisi cinta ibu seperti mother nature sekaligus membawa darah ayah yang ditandai oleh pure thougth, betapa orang ini akan memiliki wajah bersinar tanpa perlu menyilaukan. Jangankan banyak, satu saja anak seperti itu hadir dalam sebuah keluarga, sudah cukup membuat orang bisa melihat dalam cahaya: inilah kehidupan.

Dan, ke arah itulah sebaiknya sebuah keluarga berjalan...

(sumber inspirasi/foto : Majalah DPU DT/baitijannahti.com )

1 Komentar Laporkan Cerita

Iha Nurhayati

Penulis

Iha Nurhayati

Komentar

(1 Komentar)
  1. kulinet Ditulis pada tanggal 31 Juli 2012 16:29

    yah siapa sih yang ga mau jadi keluarga cahaya yang selalu diberkahi tapi agak sulit yah mewujudkannya

login