Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

25 April 2014

Curhat Seorang Lesbian

Curhat Seorang Lesbian Kulihat jam dinding kamarku tepat menunjuk angka satu. Sudah dini hari tapi mataku seakan tak mau diajak kompromi susah sekali untuk terpejam. Padahal ragaku sudah terlampau lelah beraktivitas seharian ini, namun heran kenapa malam ini mataku membangkang untuk diistirahatkan. Dan hal tersebut berimbas pada otakku. Pikiranku menjalar tak tentu arah.


Kubalikkan badanku yang sedari tadi menghadap dinding. Mungkin saja dapat mempermudah perjalananku ke alam mimpi. Tapi ternyata hal itu tak berpengaruh. “Apa karena aku sedang kesal sampai-sampai aku jadi insomnia mendadak begini?” Aku memang sedang kesal.


Kesal dengan bos yang cerewet. Kesal dengan teman sekerjaku yang ikut-ikutan berlagak kayak bos yang juga sama cerewetnya. Dan sampai rumah, kekesalanku kian menumpuk. Nggak tau orang udah capek, perempuan yang sedang berbagi ranjang denganku ini malah ngomel-ngomel nggak penting.


“Ngoookkk ... Ngoooookkkk .....”


Suara itu bukan suara kerbau milik tetangga sebelah, apalagi suara nyamuk-nyamuk nakal. Itu adalah suara perempuan yang lagi ngorok berat di sebelahku ini. “Hah, makin membuatku tak bisa tidur saja!” desisku seraya menutup mukaku dengan bantal.


Sejam sudah benakku melayang-layang tapi tak juga membuat mataku mengantuk. “Huhh!!!” Aku mengubah posisiku tidurku lagi. Ksli ini menengadah menatap langit –langit kamar yang terbuat dari papan kayu jati. Masih terdengar suara ngorok perempuan itu. Akhirnya kuarahkan mataku pada sosok yang tengah pulas dengan helaan nafas yang terdengar jelas. Nyenyak sekali tidurnya. Nampak gurat-gurat kelelahan dalam wajah tirusnya. Mungkin hari ini ia terlalu letih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.


Ibu ...

Ah, entah aku tak ingat kapan terakhir kali menatap raut muka ibu saat tidur. Yang pasti hampir lima tahunan. Dulu aku senang sekali memandang wajah ibuku ketika beliau terpejam. Kini makin banyak saja kerutan-kerutan di paras yang sejak belia tak pernah ditumbuhi jerawat itu. Kedua tulang pipi yang dahulu terlihat menonjol disertai lemak, kini hanya berlapis kulit ari tipis.


Ibu ... usiamu telah beranjak senja. Entah kenapa hatiku kemudian merasa trenyuh. Ada perasaan bersalah tiba-tiba menghinggapi. Perasaan bersalah karena belum mampu memberi kebahagiaan yang semestinya pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku ini.


Sejak memutuskan kembali ke kampung halamanku setelah kurang lebih lima tahun lepas dari pengawasannya, aku merasa terkekang. Terlalu banyak aturan ini-itu yang diwejangkannya padaku, tak seperti saat aku hidup sendiri dulu aku bebas melakukan apa saja.


Tapi, beruntung beliau tak banyak berkomentar soal penampilanku yang tidak ada feminin-femininnya sama sekali ini. Meski semua sepupuku mengenakan kerudung. Beruntung juga ia tidak menyuruh-nyuruhku untuk cepat-cepat kawin seperti yang dilakukan adik ayahku.


“Kalau ke Jakarta dapat suami, baru boleh kamu kembali kesana, tapi kalau tidak dapat ya mending disini saja!” Begitu jawab tanteku yang mempunyai cita-cita luhur untuk segera menikahkan keponakan-keponakannya dengan getol banget mencarikan jodoh, termasuk laki-laki untukku.


“Kalau dapatnya perempuan, gimana?” Kalimat itu sebenarnya ingin meluncur dari bibirku, namun kemudian tertahan dan kuganti dengan sunggingan senyuman.


“Lho, rambutmu kok dipotong pendek sih?” jerit tanteku itu agak histeris melihat gaya rambut baruku plus kuncir ala ekor tikus. “Jangan pendek-pendek, jadi makin kayak lesbian aja! Vagina kok ketemu vagina!!” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.


Deg. Jantungku tersentak. Aku tahu sebenarnya sudah sejak lama ia menaruh curiga dan meragukan ketertarikanku pada laki-laki, tapi ia tak pernah secara lugas mengutarakannya. Hanya sindiran-sindiran halus seperti inilah yang ia gunakan untuk memancing reaksiku dan selalu kujawab dengan senyuman tak terdefinisikan.


Meski kadang nuraniku teramat sangat ingin berteriak, namun sisi hatiku yang lain selalu mengingatkanku bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Pernah beberapa waktu lalu aku kecolongan. Salah seorang sepupuku menemukan SMS tentang undangan kongkow lesbian di ponselku. Ia memang tak bertanya detil, namun dari tatapan matanya aku yakin betul ia tengah berprasangka.


Perempuan yang wajahnya berjarak tak sampai tiga puluh senti di depan wajahku ini perlahan bergerak-gerak. Namun sebentar, selebihnya ia kembali terlelap.


Yah ... kurasa sekarang bukan saat yang tepat. Kucermati tiap lekukan di wajah sayu itu. Untuk saat ini biarkanlah ibu mengira orang yang rajin meneleponku setiap hari dan mengirim salam untuknya itu adalah seorang laki-laki. Ibu tak pernah tahu apa itu lesbian. Di dalam kamus ibu hubungan perempuan dengan perempuan itu hanya berteman. Untuk saat ini biarkanlah tanteku punya kesibukan menerka-nerka orientasi seksualku. Dan untuk saat ini biarkanlah pula aku menikmati persembunyianku sebagai seorang yang menyukai sesama jenisku.


Pilihan hidup yang telah kupilih memang bagaikan sebuah bom waktu. Namun sedini mungkin aku sudah menyiapkan diriku untuk menghadapi semuanya karena cepat atau lambat bom waktu ini akan meledak.


Bu ... maafkan anakmu jika yang kupilih tak sesuai dengan kehendakmu ...



Image: koran-hariini.blogspot.com

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
2 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

pratwins

Penulis

hdpratwiners

just an ordinary girl

Komentar

(2 Komentar)
  1. pratwins Ditulis pada tanggal 20 Oktober 2012 14:27

    kasihan banget kalo sampe salah didikan.. orientasi seksual anak kita harus benar-benar di awasi agar tidak terjadi penyimpangan

  2. tofazain Ditulis pada tanggal 12 Oktober 2012 07:30

    hati hati awasi pergaulan putra putri kita jangan sampai di luar batas, mereka harus dapat pengarahan yang tepat.

Post Into Facebook Wall
login