(Just) Another Love Story
Eps. 1. Novel Pertama
‘Terkisah sepasang kekasih’
Hanya 3 kata itu yang tertulis di laptop kesayanganku. Sementara kata-kata lainnya telah habis aku delete maupun aku undo.
Ternyata tidak mudah untuk menulis cerita, meskipun novel pertamaku menjadi best seller tahun kemarin. Imajiku selalu saja tersendat ketika memulai cerita untuk novel keduaku ini.
Novel pertamaku rasanya mudah untuk dituangkan dalam kata-kata, mungkin karena sebagian besar ceritanya merupakan kisah pribadiku yang dipertajam oleh intuisi imajiku.
Kisah tentang seseorang lelaki yang berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kekasih impiannya. Namun setelah laki-laki tersebut mendapatkannya, dia malah tidak menghargainya sehingga pada akhirnya kekasihnya tersebut pergi meninggalkan lelaki itu dan menikah dengan orang lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat lelaki tersebut.
Hanya saja dalam kisahku, tidak pernah ada sahabat yang merubut kekasihku. Hanya kebodohan yang membuat kekasihku pergi. Sebut saja namanya Marina.
Marina telah hadir dalam keseharianku sejaka kali pertama bertemu di universitas tempat kami menuntut ilmu. Kebetulan kami satu fakultas, hanya saja berbeda kelas. Itupun juga hanya di tahun pertama saja. Tahun kedua, kami mulai sering bertemu dan satu kenal.
‘Tak kenal maka tak sayang’ Peribahasa itulah yang menjadi awal dari kisah cinta antara kami berdua. Sebenarnya banyak perbedaan di antara kami. Sikapnya yang serius bertentangan dengan sikapku yang selalu bercanda. Namun bukan berarti dia selalu serius dan aku selalu bercanda. Karena saat dia tersenyumlah yang membuat aku jatuh cinta. Lalu ketertarikannya pada masalah sosial bertentangan dengan sikapku yang tertarik masalah game online, anime dan manga. Namun, ya itu tadi, aku pun juga peduli tentang masalah sosial meskipun baru sekedar peduli. Aku rasa perbedaan kami saling melengkapi dan mengisi satu sama lain.
“Emang kamu ngga perduli sama masalah yang ada di negeri kita? Jangan selalu lihat ke atas, tapi kita juga harus lebih sering lihat ke bawah!” kata Marina ketika kami sedang membahas masalah sosial yang ada di masyarakat.
“Kata siap aku ngga pernah lihat ke atas? Aku juga sering koq lihat ke bawah. Tapi kalau kelamaan, suka pegel. Jadi sekarang aku cuman lihat ke depan, sambil lirik kiri kanan & belakang kadang-kadang” jawabku dengan gurau, karena aku suka cepat pusing kalau kebanyakan mikir. (Masalah sendiri ajah udah banyak dan ngejelimet)
“Maksud aku bukan masalah lihat depan belakang kiri kanan atas bawah. Maksudku tuh, kita harus peduli sama orang-orang yang kemampuan ekonominya di bawah kita.” Katanya dengan tanpa ekspresi. (Yang membuat hatiku dongkol karena sudah cape-cape ngelawak malah ngga ditanggepin)
“Aku juga tau maksud kamu. Aku juga ngerti koq” jawabku dengan sedikit malas.
“Kalau ngerti, serius donk! Kita kan lagi ngobrolin masalah serius. Harus bisa ngebedain donk kapan harus bercanda kapan harus serius.” Kata Marina dengan nada yang sedikit kesal.
“Kamu yang terlalu serius. Aku kan cuman ngasih tau kalau masalah kita itu harus diberesin dulu sebelum ngurusin masalah orang lain. Ntar kalau kamu banyak mikirin orang lain terus ngga ngejaga kondisi sendiri, kan malah aku yang repot.” Kataku berusaha untuk membela diri tanpa menyalahkannya.
“Kamunya ajah yang ngga tau batesan. Lagian masalahku udah beres, paper kan selanjutnya tinggal di edit sama kamu.” Katanya.
“Iya...ya... maap dech. Udah tau urusan aku belum beres, bukannya dikasih hiburan malah ngajak berantem.”
“Hiburan apaan? Ntar klo dikasih hiburan, papernya malah ngga selesai. Deadline nya kan besok.”
“Dihibur dengan senyuman kamu cukup koq...” rayu gombalku akhirnya lolos. Namun tidak sia-sia, karena dia pun langsung tersenyum. Entah untuk benar-benar menghiburku atau mentertawakan rayuan gombalku.
Obrolan tadi terjadi sebelum kami resmi berpacaran, dimana aku masih sangat perhatian kepadanya. Entah kenapa, setelah kami berpacaran, jalan kami berdua seolah terpisah & kebodohanku yaitu tidak mencoba untuk menyatukan jalan kami. Atau setidaknya aku berbalik dan mengejar jalan yang dia tempuh baik untuk berjalan di jalannya maupun di jalanku. Yang mana pun aku tidak peduli, setidaknya kamu masih bersama.
Komunikasi pun semakin jarang setelah kami resmi berpacaran. Meskipun jama sudah modern, tidak ada telepon, sms, mms, e-mail, chatting, bluetooth, butut, ipod, dopod, knalpod, blackberry, blueberry maupun strawberry. Intinya tidak ada komunikasi sama sekali. Kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing di luar perkuliahan; dia dengan LSM nya sedangkan aku dengan bandku yang diselingi PS, Game Online, Anime dan Manga.
‘Cinta butuh pengorbanan’ Peribahasa ini baru aku sadari ketika aku sedang menulis lirik untuk lagu yang diciptakan oleh teman-teman bandku. Judulnya “Biar Saja”, inti ceritanya tentang seseorang yang rela mengorbankan segalanya hanya untuk bersama kekasihnya. Tapi kekasihnya sudah tidak mau. Dan orang tersebut bernyanyi biar saja kekasihnya pergi bila keputusan itu yang membuat kekasihnya lebih bahagia.
Baru reff lirik tersebut aku selesaikan, aku langsung menyadari kebodohanku dan menelepon Marina. Namun, tentu saha, dia tidak merespon terlalu baik. Semua rayuan gombalku mental semua.
Aku pun mulai berkorban demi kelangsungan hubungan kami. Aku pensiun dari game online. PS seminggu sekali bersama teman-teman bandku. Nonton anime hanya satu film seminggu dan manga hanya download sebulan sekali. Band sih masih tetap jalan karena kita sudah buat komitmen untuk bubar setidaknya setelah 10 album.
Namun berulang kali aku mencoba untuk memperbaiki hubunganku dengan Marina, selalu gagal. Dia memang tidak minta putus, namun dia seolah sudah menganggap hubungan kami berakhir. Aku rasa dia tidak mau bila dia yang harus mengakhiri sebuah hubungan. Keputusan putus dan tidaknya, dia serahkan kepadaku dengan dalih banyak urusan lain yang lebih penting daripada cinta. Aku merasa ini karma dari lirik yang aku ciptakan dan hingga kini lirik tersebut tidak terselesaikan.
Berhari-hari aku berpikir tentang hubunganku dengan Marina. Entah berapa banyak lusin puisi yang aku tulis tentang segala penyesalan dan harapanku. Aku merasa sudah terlambat untuk memperbaiki hubunganku dengan Marina. Satu-satunya cara yaitu memulai kembali dari awal. Namun aku ragu apakah dia mau mencobanya.
Tetapi kalau aku menyerah, berarti aku tidak lagi mencintainya. Kenyataannya aku masih mencintainya dan merindukan senyumannya seperti dahulu. Dan kalau aku menyerah, aku merasa malu terhadap Naruto dan Luffy yang pantang menyerah. Jadi, aku pun kan terus berjuang sekuat tenaga untuk memperbaiki hubunganku dengan Marina karena aku yakin bahwa Marina pun masih mencintaiku.
Kebetulan, senin depan kami akan mengalami satu minggu penuh derita dengan soal-soal UAS. Biasanya, kalau sedang minggu UAS, Marina cuti dari kegiatannya di LSM. Aku pun minta cuti dari bandku dan mereka mendukungku 100% (itu juga karena mereka mau UAS). Aku pun mulai mempersiapkan jurus-jurus, rayuan-rayuan gombal yang dahulu selalu berhasil membuat Marina tersenyum.
Hari pertama UAS, aku datang terlambat. Sehingga aku baru menemui Marina di dalam ruangan ujian. Langkah pertamaku pun gagal. Padahal tadinya aku mau memberikan catatan-catatan penting tentang semua mata kuliah yang akan diujikan semester itu, yang aku buat hingga jam 3 dini hari.
Tetapi begadangku tidak terlalu sia-sia. Karena aku yang pertama menyelesaikan ujian pertama itu. Aku hanya butuh waktu 10 menit untuk menyelesaikannya dengan ketepatan 90 %, sedangkan yang 10 % lagi aku habiskan dengan melirik ke arah Marina sehingga tidak konsen dengan soal yang 10 % itu.
Aku pun keluar ruang ujian dengan tatapan dari semua orang yang berada di ruangan itu. Seorang dosen pengawas memintaku untuk memeriksa ulang kembali, kalau perlu 5 x lagi. Namun karena jawaban yang dicoret akan mengurangi nilai, aku pun menolak permintaan dosen tersebut dan meninggalkan ruangan dengan nada sorak dari seluruh ruangan. Sekilas aku melirik ke arah Marina yang sedang tersenyum. Namun entah untuk siapa senyum yang seharusnya hanya untuk diriku itu dia lemparkan. Aku pun menuggu di luar ruangan sembari tidak melepaskan tatapanku ke arah pintu ruang ujian & menunggu Marina keluar untuk menjalankan rencana keduaku. Rencana keduaku yaitu rencana pertama yang tadi gagal aku laksanakan.
30 menit berlalu sejak aku meninggalkan ruangan ujian, belum ada yang mengikuti jejakku. Sementara debar jantungku sudah 1/30 kali lebih cepat berdetak gelisah.
1 jam kemudian atau 50 menit kemudian setelah aku meninggalkan ruangan ujian, beberapa mahasiswa mulai keluar dari ruangan satu per satu, dua per dua, hingga lorong mulai bersesakan dengan mahasiswa yang menunggu ujian yang kedua. Namun Marina belum juga keluar, sehingga aku kembali memfokuskan pada catatan yang aku buat hingga terlambat tadi sambil melirik-lirik ke arah pintu.
Lirik sekali, masih belum keluar. Lirik dua kali, masih juga belum. Ketika akan melirik yang ketiga, aku dikejutkan oleh suara yang telah lama aku rindukan.
“Hi” kata seseorang yang telah lama aku tunggu itu
“Hi” jawabku berusaha untuk tetap tenang.
“Cepet amet keluarnya?” tanyanya dengan mesra seolah tidak pernah ada jarak diantara kita.
“mmmh... gara-gara buku ini” jawabku sambil menunjukkan buku yang sedari tadi aku pegang. Lalau aku pun menyodorkan buku itu kepadanya.
“Apaan nich?” tanyanya heran
“Sebenernya aku bikin buku ini untuk kamu. Aku kan tau kalau kamu sibuk. Jadi aku bikin kisi-kisi tentang UAS” jawabku terbata.
“Ma’kasih. Tapi sebenernya aku juga bikin catatan.... aku juga bikin catatannya untuk kamu. Kali ajah keasyikan ngebang, lupa belajar” jawabnya sambil tersenyum malu di balik rona merah di wajahnya.
Kami pun sama-sama saling tersenyum dan tertawa riang.
“Ya udah. Kita tukeran ajah bukunya.” Usulnya sambil menyerahkan bukunya untukku dan bukuku untuknya.
Tiba-tiba, bel tanda masuk ujian yang kedua berbunyi. Dia pun langsung berbalik ke arah pintu ruangan. Namun, dia berbalik kembali ke arahku dan berkata,
“Abis ini, kita lunch bareng yach?” tanyanya yang aku balas dengan tatapan heran sekaligus senang karena baru satu rencana dari 50 rencana yang aku rencanakan, dia sudah tersenyum kembali.
Sebelum dia berbalik arah lagi, aku sempat menganggukan kepalaku pertanda setuju. Dia pun langsung pergi memasuki ruangan ujian. Ketika aku masuk ke ruangan ujian, aku tersenyum ke arah Marina lalu duduk di bangku ujian dengan senyum lebar selebar sungai Cisadane.
Seperti sebelumnya, ujian kedua pun aku selesaikan dalam waktu kurang lebih 10 menit. Kali ini aku yakin 99 % karena tiada manusia yang sempurna. Namun kali ini, aku tidak perlu menunggu lama seperti sebelumnya. Baru 2 menitan aku menunggu, Marina sudah menyelesaikan ujiannya dan dia langsung menggenggam tanganku sambil berjalan meninggalkan teman-teman yang masih bergulat dengan soal-soal ujian.
Siang itu, kami habiskan waktu makan siang sambil bercanda gurau seperti awal pacaran kami. Jarak yang pernah terbentang antara kita seolah sirna. Tidak ada kebahagiaan yang lebih yang aku minta. Aku merasa akhirnya pengorbananku terbayar tuntas, malahan pakai bunga. Seminggu itu, menjadi minggu yang paling membahagiakan dalam perjalanan cinta kami. Seolah semua akan baik-baik saja sambil berharap lebih. Namun ternyata aku salah.
Sehari setelah UAS berakhir, jarak itu kembali terbentang. Marina hanya mengirimkan sms yang bertuliskan [aku besok ke bdg. Don’t call me! I’ll call U, as soon as I can. & I’ll tell U everything, but please give some time]
Siapa sich yang ngga penasaran baca sms beginian? Tapi bagaimana lagi, dia bilang bahwa dia butuh waktu. Jadi aku akan berikan waktu untuknya karena hanya itu yang bisa aku berikan. Sementara, perasaan seminggu kemarin aku coba tuangkan dalam nada dan lagu. (maklum anak band)
5 hari telah berlalu dan 14 lagu telah aku ciptakan. Meski tidak semua lagu disetujui oleh teman-teman bandku, tetapi aku yakin bahwa Marina akan mengerti tentang arti semua lagu yang tercipta untuknya. SMS yang aku tunggu pun datang & kali ini bertuliskan [kita bisa ketemuan bsl? Klo bisa, aku tunggu di kampus jam 10 pagi. Klo ngga, call me]
Karena aku rindu mendengarkan suaranya, aku pun menelepon Marina hanya untuk mengatakan “see u tomorrow” dan dibalas dengan omelan kecil darinya. Aku pun tak sabar menunggu esok hari. Aku yakin ‘Esok Kan Indah’
Jam 10 kurang aku sudah berada di lapangan parkir kampus yang nampak sepi dibandingkan biasanya. Nampaknya UAS semester ini telah berakhir. Aku pun berjalan menuju fakultasku, tempat janjian aku dengan Marina. Aku menemukan dirinya sedang duduk di depan kantor Dekan. Raut mukanya terlihat bermuram durja. Namun ketika mata kami saling bertatapan, raut mukanya berubah bahagia. Terpaksa bahagia.
“Hi!” sapaku
“Hi. Baru dateng?” tanyanya
“Iya lah. Kamu dari jam berapa di sini?” balas tanyaku
“mmmh... yang pasti lebih lama dari kamu.” Jawabnya manja
“ya...ya... kemana kita sekarang? Katanya ada yang mau dibicarain?”
“mmmh...”
“Udah siap belum? Apa masih nunggu dekan...dosen...temen lain barangkali?”
“Ngga, ngga nungguin siapa-siapa koq. Cuman kamu ajaha yang aku tunggu. Enaknya kemana yach?” tanyanya lagi tentang tujuan kami.
“Ya udah. Di sini ajah. Toh lagi libur.”
“Terlalu terbuka...”
“Di kantin?”
“Tutup kali. Lagian kalau ke tempat makan, bukannya ngobrol malah makan.”
“So?”
“Kita ke ruangan atas ajah dech...” bujuknya
“Ruangan atas?” tanyaku dengan akting sedikit takut
“Kenapa? Takut? Kan ada aku yang nemenin...” rayunya
“Ya udah. Lantai atas it is. Ladies first” jawabku sambil mempersilahkan Marina untuk berjalan terlebih dahulu layaknya gentleman.
Kami pun berjalan perlahan menuju ruangan atas dengan berdampingan. Sebenernya aku ingin menggenggam tanganya, namun tangan yang satu lagi memegangn pegangan tangga sedangkan yang satunya lagi erat memegangn HP. Di ruangan atas itu, dia duduk di pojok depan ruangan sambil menarik bangku untukku, tentunya, dihadapannya. Nampaknya kami akan berbicara serius.
Aku sebenarnya sudah mempersiapkan kondisi ini. Aku mengetahui bahwa masih ada jarak diantara kami. Minggu UAS itu hanya sebuah pengecualian karena memang ditakdirkan demikian. Kini kami harus menghadapi masalah yang ada diantara kami hingga tuntas.
“Mau ngomong apa sich?” tanyaku langsung ke pokok permasalahan.
“Gimana yach ngomongnya?” jawabnya dengan ragu.
“Ya langsung ajah. Aku tau kalo diantara kita masih ada jarak yang membentang. Aku udah ngga maen gem online lagi koq. PS juga kadang-kadang. Anime ya pilih-pilih. Manga sich klo sekalian internetan. Tapi kamu tau kan kalao aku nga mungkin niggalin band. Kecuali kalo dengan ninggalin band, kita bisa kaya dulu lagi atau setidaknya kaya minggu kemarin, aku rela koq.” Kataku panjang lebar
“Kamu jangan buat aku jadi tambah susah donk ngomongnya...” katanya dengan penuh kegelisahan. Matanya nampak mulai berkaca-kaca.
“Ya udah ngomong ajah. Aku janji ngga bakalan ingkar janji lagi” kataku setengah penasaran karena baru kali ini dia susah berbicara tentang apa yang ingin dibicarakannya dan dia terlihat kebingungan diiringi beberapa tetes air mata yang jatuh dari matanya ayng langsung dia usap.
“Ya udah, aku diem dech!” kataku pelan sambil menatap matanya untuk meyakinkan agar dia berbicara.
“aku...aku...minta putus” katanya terbata-bata.
“Apa?” kataku menggelegarkan seluruh sudut ruangan itu. Bagaikan petir yang kemarin aku lihat kala hujan. Cepat namun menyambar nafasku.
Kami terdiam. Aku shock tak mampu berkata-kata, sementara Marina sibuk menghapus air mata yang semakin deras mengalir.
“Bukannya aku ngga cinta sama kamu, tapi ...” katanya tersedu-sedu
“Tapi apa? Kalo kamu masih cinta, knp harus putus? Apa salahku? Aku janji akan berubah seperti apapun yang kau inginkan.”
“Kamu ngga salah. Tapi aku...” katanya. “Aku dijodohin. Sebenernya udah dari setahun yang lalu. Tapi baru 2 minggu lalu aku baru tau kalo perjodohan ini serius.” Lanjutnya lagi.
“Trus km terima begitu ajah?”
“Aku udah nyoba untuk nolak dan ngomong baik-baik. Pas aku di Bandung aku udah ngomong kalo aku mencintai kamu, tp mereka...”
“Kamu ceritanya yang jelas donk! Masalahnya apa, cerita donk! Mungkin ajah aku bisa bantu.”
“Kamu ngga bakalan bisa bantu...”
“Kalo kamu ngga cerita, kan ngga bakalan tau...”
“Kalo aku cerita pun, kamu tetep ngga bakalan bisa bantu.”
“Trus kamu maunya apa sekarang?”
“Aku cuman mau kamu ngerelain aku pergi. Mungkin bukan untuk sekarang, tapi suatu hari nanti mungkin.”
“Aku ngga mungkin ngerelain kamu”
“Kalo kamu ngga relain aku, sampai kapan pun aku ngga bakalan merasa tenang. Aku tau kalo permintaan aku ini egois, tapi kalo kamu ngga relain aku, aku juga ngga bakalan bisa ngerelain kamu.”
Setelah itu, selama 5 menit ruangan sepi itu dipenuhi oleh suara isak tangis yang terdengar dari pelukan kami berdua. Kami hanya terdiam dan menangis dalam pelukan masing-masing yang menolak untuk saling merelakan. Tapi... mungkin aku harus merelakannya, karena hal itu yang dia minta dariku. Seberapa besar pun keinginanku untuk bersamanya tetap tak mengalahkan keinginanku untuk tidak melihat air matanya.
“ok...kita putus. Aku rela asal kamu janji untuk ngga bersedih lagi. Tapi bukan berarti aku rela kehilangan kamu. Kalo kamu sudah yakin dengan keputusan km, aku dukung.” Kataku sambil menyapu kepingan hati yang berserakan dalam air mataku.
5 menit kemudian, kami habiskan waktu untuk saling mengusap air mata dan mencoba untuk saling tersenyum. Lalu memungut serpihan hati yang bercampur satu sama lain. Dia pun akhirnya pergi dan tidak pernah aku lihat lagi. Satu hari sebelum pernikahannya, dia sms aku untuk meminta doa dan maaf. Aku pun kirimkan seribu doa dan satu maaf baginya, meskipun dia tidak salah apa-apa terhadap diriku. Aku baru benar-benar memaafkannya setelah novel pertamaku diterbitkan. Mungkin ini jalan yang Tuhan pilihkan untukku
Novel pertamaku itu sebenarnya tidak sengaja aku buat. Aku hanya menuangkan kekesalanku sambil mengisi waktu luang selama cuti satu semester. Suatu ketika, tulisanku tertinggal di studio dan teman-teman bandku, Fien, membacanya lalu menyebarluskan kepada teman bandku lainnya, Nuno dan Riyo. Mereka bertigalah yang menjadi tersangka ceritaku sampai ke tangan penerbit. Mereka baru minta ijin setelah mengirimkannya ke penerbit. Ijin itu pun terpaksa aku berikan karena mereka mengancam akan memecat aku dari band.
Meskipun aku mengetahui kalau mereka bercanda, tetapi karen tulisan itu sudah selesai, aku tidak begitu memikirkannya. Akhirnya, tulisan itu pun diterbitkan dan menjadi salah satu best seller.
Kembali pada novel keduaku yang belum bisa berkembang dalam tulisan. Mungkin karena aku masih teringat kepada sosok Marina. Sebenarnya aku lebih memilih jadi anak band daripada penulis. Tetapi karena masih pengangguran setelah lulus kuliah dan bandku masih belum laku, ya aku coba untuk menulis kembali. Tapi ...
“OI !” suara keras tiba-tiba menyapaku. Aku pun menengok ke asal suara tersebut dan nampak Riyo yang sedang berdiri di sampingku.
“Bengong ajah. Ntar kesambet, baru nyaho?” kata Riyo
“Sia, asup-asup lain assalammualaikum kalahkah ngarerewas jiga jurig!”
“Halah... ngomong pake bahasa planet. Gua kan kaga ngarti.”
“Makanya beli yang ada subtitlenya donk. Gua tadi ngomong, lu masuk-masuk bukannya salam malah ngagetin kaya setan.”
“Lu yang setan”
“Gua mah emang setan merah.”
“Kemaren kalah juga, masih ajah didukung.”
“Biarin, gua kan setia”
“Setia??? Ntar ditinggal kawin lagi baru tau”
“Sialan lu. Bawa-bawa masalah pribadi. Gua balik nech.”
“Balik??? Balik kemana jang? Ini kan rumah lu”
“Hee... kalo gitu lu ngapain di sini balik sono.”
“Latihan, dodol. Biasa ... kita ajeb-ajeb”
“Ajeb-ajeb??? Pop melow ajah ajeb-ajeb...”
“Hee... btw, lg ngapain lu? Bengong ajah di depan laptop? Masih mikirin buku pertama?”
“Buku kedua donk. Masa yang pertama terus...”
“Emang kali ini siapa yang ngorbanin lu?”
“Ngorbanin ??? Lu kira gua kambing korban. Sekarang mah kaga pake kisah pribadi.”
“Trus, udah berapa halaman?”
“Baru juga 3 kata, pake nanya halaman. Ngeledek lain sia?”
“3 kata? Perasaan seminggu yang lalu juga 3 kata juga dech?”
“seminggu lalu mah 3 katanya beda.”
“hmh... tapi tetep ajah kan Cuman 3 kata?”
“Ya gitu dech! Udah ah jangan ngurusin privasi gua. Kita bas ajah, latihan buat manggung minggu depan.”
“Ntar ajah. Kita curhat-curhatan dulu.”
“Maless... Curhat sama lu mah ujung-ujungnya kaga bener. Mendingan sama si Fien.”
“Gitu yach. Awas lu. Ke studionya kita masing-masing.”
“Halah, biasanya juga kalo lu ke sini mah mau numpang.”
“Ya udah. Kita cabs.”
“Yu...”
Terik mentari mulai memudar seiring senja yang kian mendekat. Meskipun AC mobilku masih belum mendinginkan kenangan lalu, namun setidaknya tidak ada keringat yang bercucuran lagi. Jam 3 kurang, aku dan Riyo hampir tiba di studio, alias garasi rumah Fien. Setelah memarkir mobil, kami mulai berjalan menuju arah studio yang mulai terdengar berisik dari bunyi hentakan drum Nuno dan dentuman bass Fien. Riyo sendiri merupakan gitaris, sedangkan aku sebagai kecrekanist sekaligus keyboardist, malah kadang-kadang gitaris juga. Vokalis?
“Assalammualaikum” sapaku ketika membuka pintu studio yang diikuti oleh Riyo.
“Waalaikumsalam” jawab Fien dan Nuno hampir bersamaan
“Tumben lu, yo. Biasanya ngomong ohaiyo, mina-chwuan.” Tanya Nuno.
“Ya... daripada sebelah senewen lagi” kata Rito sambil melirik ke arahku.
“Emang lu lagi dapet, q?”
“Bisa jadi. Tapi tadi mah lagi biasa ... lagi mikirin buku yang pertama.” Jawab Riyo yang disambut tawa dari Fien dan Nuno, sementara tanganku melayang ke kepala Riyo.
“Masih mikirin yang lama nech?” tanya Fien.
“Ngga. Si Riyo ajah tukang gosip.” Jawabku
“Jujur ajah, q. Kita juga paham koq...” kata Nuno
“Kaga. Masa lalu sudah tidak pernah ku tengok lagi.”
“Tapi lu masih nyimpen sms dari dia kan?” tanya Fien
“Emang kenapa?” tanyaku
“Tau nech ... Apa hubungannya sms sama dia? Kalo dia fans nya trio macan mah, kita juga pada tau.” Tanya Riyo.
“kayanya kita semua fansnya trio macan dech,” celetuk Nuno yang berbalas tawa dari semua.
“Maksud gua, ya secara ngga langsung, sms menjadi jembatan ke masa lalu. Kalo mau terus maju, ya mau ngga mau harus hapus smsnya.” Jelas Fien.
“Emang sejak kapan Nidji kolaborasi sama Trio Macan?” celetuk Nuno lagi
“Hapus semua sms... yang ada di hape mu...” nyanyi Riyo
Malam harinya, aku memikirkan pernyataan dari Fien. Mungkin ada benarnya juga. Selama ini sms dari Marina tidak pernah aku hapus dan kalau aku senggang, sms itu aku baca. Namun dalam hati aku masih berharap, masa lalu itu tidak pernah terjadi dan suatu saat nanti Marina akan kembali kepadaku. Meski aku ragu mau menerima barang second.
Aku ambil hp dari kantong celanaku. Aku buka sms yang pernah dikirimkan Marina kepadaku. Satu per satu aku baca. Hingga ada tanda sebuah pesan baru diterima. Aku buka sms itu yang bertuliskan [Hi, lagi ngapain?] Pengirim: Marina.
“Aku sedang menghapus sms darimu sayang.” Reply ku dalam hati sambil menghapus semua sms dari Marina.
Sejam kemudian, semua sms dari Marina telah selesai aku hapus dan air mata yang mengalir di mataku, aku hapuskan di bantal sambil mencoba untuk menghapus derita ini. Kini aku siap untuk memulai novel kedua, bukan dalam buku, melainkan dalam kehidupan cintaku.
cerpenonline.multiply.com
Penulis
aku adalah insan yang tak punya, yang ku punya hanya rasa cinta yang membara, suatu hari akan tercipta rinduku padanya (belum tau entah siapa), karena cinta itu bahagia.
Komentar
-
Abdul Munazah Ditulis pada tanggal 23 Juli 2012 11:30cinta kita tak akan terpisahkan walau di akhir zaman nanti. percayalah duhai kekasihku. <3
-
Abdul Munazah Ditulis pada tanggal 23 Juli 2012 10:56aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku, sampai waktu akan menjemput kita.
-
Abdul Munazah Ditulis pada tanggal 23 Juli 2012 10:56aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku, sampai waktu akan menjemput kita.