Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

Kepolisian dan Bonek Saling Tuduh Tentang Penyebab Insiden Kisruh di Gelora 10 November

Kepolisian dan Bonek Saling Tuduh Tentang Penyebab Insiden Kisruh di Gelora 10 November

Pertandingan sepakbola kembali berakhir dengan memakan korban. Jika Minggu lalu kita dipaksa untuk melihat tiga orang tewas akibat dikeroyok oleh oknum supporter karena fanatisme buta semata, kali ini hal yang hampir serupa pun terjadi. Satu orang supporter setia Persebaya tewas karena terinjak injak saat ingin menghindari gas air mata yang ditembakan polisi ke arah tribun penonton. Lalu bagaimana sebenarnya awal kejadian sehingga polisi harus sampai menembakan gas yang identik dengan demo tersebut?

Menurut Kabag Ops Polrestabes Surabaya, AKBP Ady Wibowo kepada wartawan di Stadion Gelora 10 November hari Minggu malam menyebut kalau pihak Kepolisian merasa akan ada potensi rusuh ketika supporter yang berada di tribun melempari mereka dengan botol. Akhirnya aksi lempar tak bisa dihindari, dan untuk memecah konsentrasi massa, kepolisan melakukan penembakan gas air mata.

"Ada beberapa anggota Brimob di lorong selatan di bawah tribun ekonomi yang hendak ke tengah lapangan untuk berkumpul dengan rekan-rekannya terkepung oleh suporter, dan dibarengi dengan aksi pelemparan dari atas. Secara teknis kita melakukan penembakan (gas air mata) itu," jelas AKBP Ady Wibowo.

"Penembakan gas air mata tak seperti senjata api yang lurus ke depan. Fungsi gas air mata untuk membubarkan konsentrasi massa,"

"Ini sudah terjadi kekerasan bersama-sama dan pasal 170 KUHP sudah dilanggar. Gas air mata diarahkan ke suporter yang akan turun ke lapangan," jelasnya.

Sementara itu penjelasan berbeda justru didapat dari pihak supporter setia Persebaya, Bonek. Menurut Ketua Yayasan Suporter Surabaya (YSS), H Imron,  aksi berlebihan polisi lah yang memicu kekisruhan tersebut. H Imron menjelaskan, awalnya bonek sebenarnya hanya ingin mencopot spanduk yang terpasang di pinggir lapangan saja. Namun saat ingin membereskan spanduk, Polisi justru menghadang dan kemudian membuat kedua pihak terlibat cekcok dan saling dorong.

Melihat hal ini, penonton yang berada di tribun pun akhirnya melakukan lemparan botol kea rah polisi. Dari lemparan ini kemudian polisi yang terpancing emosinya melakukan tembakan gas air mata ke arah tribun penonton. Tembakan gas air mata ini yang membuat para penonton di tribun panic dan berhamburan mencari jalan keluar dari Stadion.

"Bonek mengecam aksi berlebihan polisi," kata Imron dikutip dari beritajatim.com.

"Penyelesaiannya tidak harus seperti itu, tak harus dengan kekerasan. Kalau Bonek ada masalah, dengan korlap saja sudah cukup," lanjutnya.

Sementara ini dari data terakhir yang didapatkan selain 1 orang supporter tewas, insiden di Gelora 10 November juga membuat 4 supporter dan 15 polisi mengalami luka. (RH)

Foto : Tribunnews / Istimewa

3 Komentar Laporkan Cerita

Ridho Hutauruk

Penulis

Ridho Hutauruk

Garuda di dadaku!!

Komentar

(3 Komentar)
  1. Facebook ID - 1313852892 Ditulis pada tanggal 04 Juni 2012 18:36

    polisi tidak mampu meredam akhirnya banyak alasan, gas air mata diperunakan jika keadaan sudah mendesak. jadi polisi jangan reaktif..., bukannya jadi aman tapi malah kacau kl bertindak tidak tepat.

  2. trisna mustopa kartomi Ditulis pada tanggal 04 Juni 2012 10:52

    wahh sudah hancur persepakbolaan di negeri ini,saya sedih liat itu foto bapa bawa anaknya dalam situasi seperti ini

  3. novach Ditulis pada tanggal 04 Juni 2012 10:07

    waduh kok bisa saling menyalahkan gitu ya?
    bukannya saling mengayomi...
    kan sama - sama orang Indonesia...

login