Ketika Malam Tak Berpurnama
Senja temaram. Rupanya sang surya sudah memulai peraduannya. Petang ini sepertinya datang lebih cepat, burung-burung sudah pulang ke sarang masing-masing sedari tadi. Sedangkan kelelawar yang biasa bercanda-ria sebelum berangkat berburu buah pun tak kunjung nampak terlihat. Pinggiran hutan ini mulai berasa dingin yang menusuk hati. Juga perasaan-perasaan diawasi oleh sekitar, kiri-kanan, dan juga belakang.
Bebauan bercampur asap tipis, serta udara yang mulai mengembun, serasa mencengkeram kulit siapapun makhluk hidup yang lewat. Aroma hutan yang semula panas mudah terbakar di siang bolong, benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat kala malam menjelang.
Namun Doni tak peduli dengan semua keadaan itu. Dia sudah menenteng tas punggung dan juga kantung plastik hitam, berisi entah apa. Yang pasti isinya bergerak-gerak.
Doni beberapa kali melirik ke jam tangan Rolex palsunya, dia merogoh mencari-cari dari tasnya sebuah mangkuk kecil. Sesaat selanjutnya, dia keluarkan pula pisau yang berkilat dari tas punggungnya. Setelah meyakinkan ketajaman pisaunya dengan memotong daun-daun kecil, dengan hati-hati sekali dikeluarkannya yang sejak tadi masih sempat bergerak-gerak dalam kantong plastic hitam itu.
Terlihatlah seperti ayam muda yang berwarna hitam. Ah, bukan. Terlalu hitam. Sepertinya ayam cemani. Ah, bukan juga, bukan ayam. Tetapi burung, ya.. burung gagak. Tidak salah lagi. Yang dikeluarkan dari kantung plastik itu ternyata burung gagak yang diikat kaki, paruh dan sayapnya.
Mata Doni berkilat kejam, dengan mulut berseringai tangan kirinya menenteng gagak tersebut.
“Gagak Rimang sengkala, berpeluh rindu pala, ijinkan aku memakai ragamu untuk berpagut durga permata,” kata Doni seolah-olah ditujukan kepada gagaknya.
Secepat selesainya kalimat itu tangannya mengiris nadi leher gagak, dan menampung darahnya di mangkuk beling yang disiapkan tadi. Doni terlihat puas dengan darah tertampungnya, sedikit beberapa terlihat bercak di kaus putihnya, serta beberapa titik di mukanya.
Doni melihat ke sekeliling, diambilnya beberapa kayu kering dan dikumpulkan membentuk suatu formasi kayu api unggun skala kecil. Tak lupa dedaunan kering untuk mempermudah api menyala. Doni melirik lagi ke jam tangan, kemudian ke gagak tergorok itu. Bergegas dicabutinya semua bulu hitam si gagak. Tak perlu lebih dari sepuluh menit, kulit gagak sudah terlihat semua, bersih merona.
“Hmm, persiapan selanjutnya…,” gumam Doni sembari menghela nafas. Diambilnya korek api dan segeralah tersulut tumpukan kayu tadi menyala-nyala meliuk menggapai langit.
Dengan mantap ditusuknya tubuh gagak malang itu memakai kayu weling, kemudian dipangganglah. Segera terdengar
gemeretak kayu diiringi bersedut kulit gagak. Tercium pula aroma gagak panggang yang harum gosong.
Beberapa kali Doni menuangkan serupa saus tetapi ah, ternyata darah gagak itu sendiri, ke bagian-bagian daging gagak yang mulai memerah panggang. Menambah aroma yang sebenarnya bagi hidung normal manusia membuat enek dan muntah. Tapi Doni sudah tidak berpikir terlalu ribet lagi. Dilihatnya hasil panggangannya, sambil tersenyum puas, dia kemudian berdiri serta melepas seluruh pakaiaannya telanjang bulat.
Berteriaklah dia:
Hong wilaheng prayoga naniro, Aku si komo dadiaku teko ngajak dulurku si komo wurung, mayan-mayanku, bukakno plawangan gaibe…
sedulurku den baguse kaki Gandaruwo, Hu..hu..hu..hurip ,jud maujudo ono ngarsaku heh dulurku,tak jaluk mreneyo,jabang bayiku…
duwe perlu marang sliramu, siro teko-o,wujuto gage memoni aku
Berulangkali Doni teriakkan kata mantra itu, sambil berputar-putar dan mengipasi gagak panggangnya. Jika saja ada yang melihat pasti sudah lari ketakutan karena disangkanya orang gila.
Sepuluh menit kemudian Doni sudah merasa terlalu lelah, sangat. Dia putus asa, wajahnya berkata dia takkan berhasil.
Sekonyong-konyong dari arah depan Doni sudah berdiri makhluk tinggi besar berbulu lebat bermata merah, bersiung tajam sambil hidung peseknya berkedut-kedut.
“Untukku…..,” geram makhluk itu sambil menunjuk ke tangan Doni.
Terperanjat Doni melihat makhluk itu, belum sempat berkata apapun, telah muncul tiga makhluk serupa di sekelilingnya. Entah apa yang dipikirkan Doni, tapi sekilas dia pernah mendengar bahwa makhluk ini harus tawar-menawar terlebih dahulu, semacam orang berdagang. Tiba-tiba dia tersenyum dan berkata gemetar-yang berusaha untuk dilantangkan,
“Akan aku berikan kepada yang mau memenuhi permintaanku….”
“Grrrrr…….,” geram makhluk yang terdepan. Dari nadanya, Doni seperti menangkap sebuah pertanyaan yang senada:apa permintaanmu?
“Hanya empat angka togel yang berurutan keluar malam ini, itu saja!”, teriak Doni seperti menjawab.
Makhluk yang terpendek, berada di sisi kirinya langsung menjawab, “Empat lima enam tujuh, untukku!”
Doni tersenyum mengejek, “Aku tidak bodoh, tidak ada nomor togel seperti itu!!”
Mahkluk yang paling depan serta berukuran sedang mendekat, mendengus dan menatap tajam Doni.
“Aku cukup terganggu dengan bau-bau yang kami suka ini, tetapi itu tidak cukup untuk membayar permintaanmu. Kau harus menambahnya”
“Tidak bisa, kalau mau ya gagak seekor ini. Kalau tidak mau akan ku bawa pulang dan kuberikan anjing tetanggaku!” Doni menjawabnya tak mau kalah.
“Begini saja, aku hanya bisa berikan satu nomor untuk gagak panggangmu itu!”
“Tidak mau, aku sudah menangkap dan membakarnya susah payah, lagian satu nomor itu tidak bisa digunakan apa-apa!”
“Kalau begitu ini tawaran terakhir, dua nomor”
“Tidak, empat nomor adalah harga gagak ini”
Makhluk itu saling pandang, hingga yang tertua mengangguk untuk memutuskan.
“Aku yang akan memutuskan, adalah kehormatan untukku dan untuk bangsaku menerima makanan darimu wahai manusia kerdil. Akan aku berikan empat nomor togel untukmu, tapi karena itu adalah kehormatan, maka tambahlah dengan memakan paha yang aku bawa ini!” kata makhluk itu dengan menunjukkan piring saji yang diatasnya ada satu bentuk paha ayam bakar yang kelihatan lezat.
“Apakah itu beracun?” tanya Doni. Dia memandang curiga ke nampan itu, meski matanya terlihat tergoda, apalagi dia baru makan satu kali untuk hari ini itupun dengan berlauk tempe kemarin.
“Tidak, wahai manusia. Aku jamin demi raja dedemit, kau tetap tidak apa-apa jika memakan paha ini. Percayalah, ini bagian dari penghormatan kami bangsa gendruwo penghuni hutan ****** ini!”
“Baiklah, aku setuju. Sekarang sebutkan empat angka mujurmu itu!”
Rupanya mahkluk genderuwo itu senang dengan persetujuan Doni, karena di mulut mengerikan mereka tersungging senyum.
Sang tertua menyebutkan empat angka, dan Doni dengan cekatan menghapalkannya. Kemudian gagak bakar itu diserahkannya untuk ditukar dengan nampan berisi paha itu.
Kemudian para genderuwo saling membagi gagak panggang itu dengan gembira, sementara sang tertua mempersilahkan Doni menikmati paha lezat. Doni pun tak menunggu lebih lama lagi, digigitnya , di kecapnya, ternyata lezat sekali. Dia menggigit lagi, dan lagi tanpa perduli bahwa daging gagak yang dipegang genderuwo bertambah banyak di setiap gigitan Doni.
Setelahnya, Doni segera berpamit dan dia melaju ke penjual togel langganannya.
Aih, hampir lupa, Doni kembali sebentar untuk mengambil pakaiannya, bukankah dia tadi telanjang bulat? Sementara Genderuwo-genderuwo itu masih asyik dengan makanan mereka. Doni sedikit heran, untuk ukuran tubuh mereka, bukankah seharusnya sudah habis dari tadi kalau hanya seekor gagak kecil? Ah, Doni tak mau berpikir lebih lama lagi. Jam tangan Rolex palsunya mengatakan waktunya tinggal sedikit untuk memasang nomer terakhir mala mini.
***
Setelah menunggu hampir lewat tengah malam, akhirnya sang penjual togel mengumumkan nomor yang keluar. Doni dengan sumringah menunggu hasilnya. Empat nomor itu telah hapal olehnya luar kepala.
Nomor pertama, ternyata cocok. Doni berteriak dalam hati, serta tersenyum.
Nomor kedua, cocok juga. Senyum Doni semakin lebar.
Nomor ketiga, cocok. Doni sudah tidak tahan.
Nomor keempat! Benar-benar cocok. Doni berteriak girnag loncat-loncat seperti kesetanan. Artinya malam itu dia mendapat tembus togel senilai lebih dari limapuluh juta rupiah.
Doni segera berlari pulang, ingin ditemuinya istri dan anak semata-wayangnya.
“Lastri…., Druwa…, aku pulang…”
Betapa terkejut ketika dilihatnya kerumunan orang sedesa di depan rumahnya. Tergopoh-gopoh dia bertanya, “Ada apa ini?”
Orang-orang hanya diam dan menyingkir memberi jalan pada Doni.
Doni berjalan masuk serta melihat, istrinya sedang menangis tersedu di samping putranya yang seperti orang tertidur, hanya mukanya yang pucat.
“Lastri, kenapa dengan Druwa?” Tanya Doni berteriak.
Lastri hanya terisak sambil membuka selimut Druwa. Betapa terkejutnya Doni karena paha anak sematawayangnya itu tinggal tulang seperti habis terkoyak digigit macan buas.
Sumber foto : kovalvs.deviantart.com
Penulis
085642251774
Komentar
-
kulinet Ditulis pada tanggal 11 Juli 2012 09:56haduh kasihan kenapa bisa terkoyak seperti itu pasti sakit sekali