Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

21 Desember 2014

[Cerpen] Ketika Senja Berdoa

[Cerpen] Ketika Senja Berdoa

Pada suatu hari di sore yang indah, di suatu tempat yang juga indah. Tempat yang bisa memanjakan mata. Sebuah padang rumput luas yang berwarna hijau menyejukkan mata. Angin berhembus sepoi-sepoi sesekali menyibak jilbab seorang gadis yang tengah duduk di tengah padang rumput itu. Sesekali terdengar kicauan burung seolah memanggil kawanan mereka untuk segera kembali ke sarang masing-masing, karena lembayung pun sudah mulai menampakkan rupanya.

Langit yang semakin lama semakin berwarna kemerahan semakin membuat suasana lebih indah. Disamping si gadis duduk seorang pria yang juga tengah menikmati langit sore itu. Matanya seolah menggambarkan betapa dirinya mengagumi keindahan yang telah Allah ciptakan. Sebuah kalimat keluar dari mulut si gadis dan terdengar begitu lembut.

“Aku tak pernah berfikir untuk membenci keadaan yang membuatku sering sekali menangis. Apalagi harus marah kepada Allah yang telah mengatur semua ini. Aku hanya ingin mengikuti apa yang telah Allah gariskan di dalam hidupku.”

Si pria kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang duduk tepat di sampingnya.

“Aku masih menunggu apa yang telah Allah rencanakan untukku. Aku rela harus merasa sakit, jika pada akhirnya Allah akan memberikanku kebahagiaan. Aku yakin Allah begitu menyayangiku.” Lanjut si gadis.

Sementara itu, si pria masih saja terdiam, memperhatiakn setiap kata yang keluar dari mulut si gadis. Angin masih setia menemani mereka di sore yang indah itu. Seketika kebisuan kembali tercipta di tengah-tengah mereka. Akan tetapi itu tak berjalan lama. Sang gadis kembali melanjutkan kalimatnya.

“Alu tahu, Allah selalu mendengarkan tangisanku. Dia memberikanku kesempatan untuk memelukmu ketika aku sedang mengadu kepadaNya. Saat ini, Allah belum mengizinkanku untuk benar-benar kembali memelukmu. Karna itu, aku akan terus mengadu kepadaNya agar selalu bisa memelukmu.” Kata gadis itu. Air mata mulai jatuh membasahi wajah dan jilbabnya.

“Aku yakin Allah mendengar. Jangan pernah ragu untuk mengadu keoadaNya. Aku pun menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu ini sangat berat, namun bersyukurlah karena Allah mengizinkan kita merasakan hal ini.” Jawab si pria. Kali ini si gadis lah yang membisu. Air mata masih saja mengalir bahkan mulai semakin deras membasahi wajahnya. Si pria menatap wajah si gadis itu seraya menyeka air matanya.

“Bersabarlah, wanitaku. Jika Allah telah mengizinkan, maka waktu itu akan segera datang pada kita. Aku akan menjadikanmu teman dalam hidupku. Jadilah pelipur lara dalam hidupku yang penuh dengan rintangan. Aku ingin kau menjadi sandaran saat aku merasa lelah dan sedih.” Pria itu berbicara dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aura bahagia terpancar dari wajah sang gadis. Matanya seolah berbicara dan mengucapkan rasa syukur.

“Aku akan menunggu. Semua ini atas izin Allah. Biarkan Allah selalu membelaiku dan merangkulku di tiap doa yang aku panjatkan.” Jawab si gadis sambil tersenyum tanda dirinya percaya akan kekuatan Allah.

“Jangan takut, terus percaya dan optimis.”

Mereka kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah matahari terbenam. Dalam hati mereka berjanji tak akan menyerah pada keadaan yang seringkali menguras air mata mereka.

“Ya Allah, izinkan aku menjadi imam yang baik untuk perempuan yang ada di sampingku. Biarkan aku merasakan perhatiannya setiap hari jika menjadi istriku kelak. Satukan kami, agar kami bisa bersama-sama .” batin sang pria yang masih membatu di padang rumput itu.

Matahari terbenam menyaksikan sepasang anak Adam yang masih terdiam dibawah temaram cahaya. Tak lama suara adzan maghrib membuyarkan lamunan mereka. Dengan senyum yang manis, si pria mengajak sang gadis untuk shalat berjamaah di sebuah mushalla yang berada tak jauh dari padang rumput itu. Dalam doa, mereka masih berharap agar Allah mau medengar pinta mereka dan mempersatukan mereka dalam hidup yang bahagia.

sumber foto : ayonikah.net

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
1 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

Ambrashinee

Penulis

Ratih Adityaningrum

085642251774

Komentar

(1 Komentar)
  1. Ambrashinee Ditulis pada tanggal 15 April 2012 15:18

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...baru liat kalo senja bisa berdoa.. kekekekekkeekke

    yuyuyuyuyuyuyuyuyuyuyuyuyuyuuyuyuyuuyuuyuuyuyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Post Into Facebook Wall
login