Kisah Pengungsi Rohingya yang Terdampar di Ciamis
Sungguh mengenaskan nasib etnis Rohingya yang tinggal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh ini. Etnis Rohingya yang Muslim itu ditolak di antara kedua negara. Itulah kenapa banyak yang bermigrasi ke Malaysia, Thailand, Indonesia, Australia, dan negara lainnya. Tetapi sampai saat ini belum ada negara ketiga yang bersedia menerima kehadiran mereka sebagai warga negara.
Mereka terpaksa mengungsi ke negara lain karena serangkaian tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah mereka (Junta Militer Miyanmar) seperti pembunuhan, pengusiran, pengucilan, dan pengingkaran atas status kewarganegaraan mereka. Penguasa negeri itu benar-benar ingin mengusir etnis minoritas itu dari tanah leluhurnya yang masih menjadi bagian dari negara Miyanmar hanya karena berbeda suku, bahasa, kepercayaan, warna kulit, dan ras. Tidak diakui di Myanmar yang penduduknya mayoritas beragama Buddha. Tidak diterima pula di Bangladesh yang sesama muslim selama berpuluh tahun.
Saya yakin banyak dari pengungsi etnis Rohingya yang mengungsi ke tanah Indonesia. Dari beberapa pemberitaan juga disebutkan adanya imigran etnis Rohingya yang telah masuk ke wilayah Indonesia. Diantaranya, dari puluhan imigran gelap yang ditangkap polisi di Pantai Palatar Agung, Kecamatan Kalipucang, Ciamis, akhir pekan lalu, terselip tujuh imigran asal etnis muslim Rohingya, seperti dilaporkan oleh tribunnews (31/7).
Mereka adalah Ayub (35), H Abdul Malik (41), Mohammad bin Amanullah (28), Muhammad Inus bin Abdul (25), Rusyid Dulah bin Ahmah (23), Isup (30), dan Mohammad Zubair (30). Mereka bergabung bersama imigran gelap lainnya asal Irak, Afganistan, dan Iran di tempat penampungan sementara, Hotel La Risa Ciamis.
"Tujuan kami adalah Australia. Kalau tetap tinggal di Myanmar kami akan mati, ditempa oleh askar (maksudnya ditembak tentara)," ujar Ayub kepada wartawan, di Hotel La Risa Ciamis, Senin (30/7/2012). Ayub dan Inus cukup mahir berbahasa Melayu karena pernah tinggal di Malaysia. Mereka memilih mengungsi ke Malaysia ketika terjadi bentrokan etnis Rohingya dengan penduduk Myanmar beragama Buddha sebelas tahun lalu.
Setelah situasi mulai reda, mereka mencoba kembali pulang kembali ke Myanmar. Tapi lima bulan lalu terjadi lagi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis muslim Rohingya. Mereka tidak hanya berhadapan dengan etnis beragama Buddha, tetapi aparat junta militer Myanmar sengaja melakukan pembersihan etnis Rohingya karena mereka dianggap bukan warga Negara Myanmar.
"Rumah dibakar, kawan-kawan kami ditempa dadanya oleh askar (maksudnya ditembak dadanya oleh tentara). Anak-anak juga ditempa. Anak puan (perempuan) diiris telinganya diambil emasnya," kata Ayub dengan matanya yang berkaca-kaca. Bahkan Abdul Malik, tokoh diantara ke-7 muslim Rohingya yang terdampar di Ciamis tersebut berurai air mata sambil bertutur dalam bahasa Rohingya yang tidak dimengerti.
Hingga kemarin, dari 78 orang jumlah imigran gelap yang ditangkap dan ditampung sementara, tinggal 57 orang yang bertahan di hotel. Sebanyak 21 orang memilih kabur dengan cara meloncat tembok pagar hotel atau lewat atap genteng.
Haruskah pembersihan etnis ini dibiarkan terus sampai etnis Rohingnya punah ditelan sejarah? Yang terbaik memang setiap bangsa termasuk bangsa Myanmar berhak menentukan sendiri nasib dan masa depannya, tanpa campur tangan pihak asing. Tapi sampai kapan?
Ternyata selama ini banyak pengungsi Rohingya di Indonesia yang luput dari perhatian. Kita lupa untuk menengok kabar mereka setelah tragedi memilukan di depan mata mereka. Lihat foto diatas, mereka kelaparan, kehausan, kepanasan, banyak diantara mereka masih anak anak. Kita tunggu langkah nyata pemerintah Indonesia sebagai tetangga dan warga muslim lainnya sebagai saudara sesama muslim untuk membantu mengurangi penderitaan mereka...
Baca juga:
Foto: AFP, mizzima.com 2 Komentar Laporkan Cerita
Penulis
"Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis"
Komentar
-
Wi2n Ditulis pada tanggal 31 Juli 2012 21:22
Harusnya PBB sebagai organisasi International mampu menghimpun kekuatan untuk membantu warga muslim Rohingya, sehingga tidak sampai terdampar dan terusir. Mereka juga ciptaan Tuhan dan berhak peroleh ketenangan hidup
-
novach Ditulis pada tanggal 31 Juli 2012 13:29oh ini yang di hotel larissa ciamis ya....
kasihan sekali mereka,
apa kabar Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia dan ketua asean???