Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

25 April 2014

Mei adalah Reformasi, Tragedi, dan Perubahan

Mei adalah Reformasi, Tragedi, dan Perubahan

Kita akan selalu mengenang Mei sebagai sebuah tonggak penting dalam kehidupan kita sekarang. Karena Mei 98 lah kita bisa bebas berpendapat, berkumpul, dan berserikat. Generasi yang lahir dan tumbuh setelah reformasi tentu tidak merasakan getirnya di teror oleh pemerintah Orba yang Otoriter. Karena Mei pula kita mengenal kata reformasi, transparansi, good governance, dan lain-lain. Oleh karena itu kita sepatutunya tidak lupa dengan apa yang telah diperjuangkan oleh mereka yang dibungkam, dihilangkan bahkan dibunuh untuk memperjuangkan kata kebebasan dan reformasi.

Reformasi yang bergulir di Mei 98 harus dibayar mahal dengan serangkain tragedi yang melingkupinya. Semua dapat dirunut dengan dimulai dari kerusuhan di Jakarta dan Solo dimana saudara-saudaru kita etnis tionghoa menjadi korban kemudian disusul tragedi Trisakti dan Semanggi I dan II dimana mahasiswa yang mengobarkan semangat reformasi malah dibalas dengan peluru aparat pada waktu itu.

Mei juga merupakan cerita bagi mereka yang dihilangkan dan dibungkam karena dianggap mengancam keamanan Negara. Cara- cara represif ini sudah berlangsung sejak era 1980 an sampai pertengahan 1990 an. Mereka yang dibungkam kebanyakan adalah aktivis yang memperjuangkan kemerdekaan berpendapat dan berpikir kritis terhadap pemerintahan Orba. Salah satu aktivis yang dinyatakan hilang adalah Wiji Thukul yang merupakan seorang penyair. Bernama asli Wiji Widodo lahir di Sorogenen, Solo, tanggal 26 Agustus 1963 dari keluarga tukang becak. Sejak duduk di bangku SD ia sangat menggemari dunia seni, aktif dalam  menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar-masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur disebuah perusahaan meubel.   

Wiji Thukul banyak dikenal sebagai seorang penyair. Pusi-puisi nya banyak menceritakan tentang getir kemiskinan rakyat jelata serta perjuangannya dalam melawan pemerintahan yang otoriter pada waktu itu. Senjata nya hanya puisi yang selalu membakar semangat massa mahasiswa dan buruh pada saat aksi. Kemudian ia dianggap berbahaya oleh penguasa dan di cap sebagai penghasut massa agar melawan pemerintah.  Hilangnya Wiji Thukul terjadi pada  Maret 1998 yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas yang dilakukkan oleh Wiji Thukul. Saat itu, bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru. Operasi pembersihan tersebut hampir merata dilakukan diseluruh wilayah Indonesia. Kontras mencatat dalam berbagai operasi, rezim Orde Baru juga melakukan penculikan terhadap para aktivis (22 orang) yang hingga saat ini 13 orang belum kembali satu diantaranya adalah Wiji Thukul.

Keluarganya melaporkan hilang pada April 2000, sampai saat ini keberadaannya masih tetap misteri. Secara resmi, ia masuk daftar orang hilang pada tahun 2000.

Karya Wiji Thukul berupa Sajak dan Puisi antara lain : Kicau Kepodang (1993), Suara Sebrang Sini (1994), Dari Negeri Poci 2 (1994), Mencari Tanda Lapang (1994), Tumis Kangkung Comberan (1996), Aku Ingin Jadi Peluru (2000), Pelo, Darman, Bunga dan Tembok, Peringatan,Kesaksian.

 

Sumber : Tempo.co & Kontras.org

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

donisetiawan

Penulis

bonkQ12

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login