Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

02 September 2014

Melihat Kelebihan dan Kelemahan Anak

Melihat Kelebihan dan Kelemahan Anak Setiap anak memiliki karakter spesifik yang berbeda dengan anak lain, meski kembar sekalipun, mereka tetap ada sesuatu yang berbeda dan unik. Inilah yang menjadikan dunia indah dan dinamis. Kahlil Gibran dalam puisinya mengatakan” Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi bukan milikmu. Padanya engkau dapat memberikan cintamu, namun bukan fikiranmu.”


Kehadiran seorang anak dalam keluarga tentu akan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira sekaligus duka yang mendalam jika harapan yang dinanti jauh dari realita. Dalam perjalanan hidup, seringkali orang tua telah membelenggu atau memberikan benang harapan berdasar pada obsesi dan kemauan orang tuanya, bukan apa yang dimiliki dan diinginkan oleh buah hatinya. Betapa marah dan sedihnya orang tua ketika anak semakin dewasa dan menjumpai mereka jauh dari obsesinya. Konflik di antara keduanya akan terjadi, bahkan banyak yang berakhir dengan stres dan depresi, baik dari anak maupun orang tuanya sendiri.


Pada zaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini, mendidik dan menyiapkan anak untuk menggapai masa depan yang bahagia, tidaklah mudah. Perlu kecerdasan, kesabaran serta keuletan yang perlu disiapkan sejak awal. Globalisasi dan perkembangan IT memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan karakter, keinginan serta harapan anak dalam memilih karir di masa yang akan datang.


Bagi orang tua, perlu melihat dan memahami beberapa kelebihan dan kelemahan anak sebelum membantu mengarahkan pilihan bagi anak. Ada beberapa model tentang anak, pertama, anak yang tahu serta orang tua juga mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada kondisi keluarga yang saling terbuka dalam komunikasi, memiliki waktu untuk saling memahami. Model seperti ini sangatlah beruntung karena obsesi anak dan orang tua bisa saling bertemu, tidak saling menyalahkan satu sama lain.


Kedua, anak mengetahui mengenai dirinya tetapi orang tua tidak mengetahui. Model seperti ini sering dijumpai pada keluarga yang sangat sibuk sehingga orang tua tidak sempat untuk memahami perilaku atau bakat anaknya akibat rendahnya komunikasi horizontal. Model seperti ini dapat menimbulkan konflik besar jika orang tua tidak mau mengalah sehingga anak harus mematuhi keinginan yang telah dicanangkan sejak dulu. Kita sering menjumpai orang tua yang dulu pernah gagal, maka anak yang diharuskan melanjutkan obsesinya meski bertentangan dengan bakat anak.


Ketiga, anak yang tidak tahu tetapi orang tua memahami mengenai anaknya. Model seperti ini konfliknya agak rendah karena biasanya anak tidak banyak protes dan mengikuti apa yang disarankan oleh orang tuanya. Model seperti ini banyak ditemukan pada keluarga yang komunikasinya juga kurang lancar. Anak kurang terbuka kepada orang tua dan orang tua kemungkinan kurang dapat melakukan komunikasi yang selaras, atau anak sangat pendiam maupun memiliki sifat tertutup.


Keempat, baik anak maupun orang tua sama-sama tidak mengetahui apa yang dimiliki anaknya. Model seperti ini terjadi pada keluarga dengan komunikasi terputus, mereka cuek, tidak saling memahami. Siapa yang akan menjadi dewa penolong dalam kondisi seperti ini. Di sinilah peran guru, konselor, wali kelas, psikolog untuk mengarahkan keduanya.


Berikut ini beberapa kiat bagi orang tua dalam menyiapkan anak mencapai karirnya dengan bahagia. Pertama, Mengenali sifat dasar anak sejak dini, misalnya perkembangan bahasa, motorik, sosial, emosi, serta daya konsentrasinya. Perhatikan dan catat apa yang ditemukan pada tiap tahap perkembangan (siapkan buku harian atau catatan kecil pada setiap anak, untuk menuliskan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya).
Kedua, Tanamkan secara halus, setahap demi setahap, tentang kebutuhan dasar semua manusia (dihargai, dicintai, dikasih sayangi, dimiliki). Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka anak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.


Ketiga, Mengajak berkomunikasi dengan tetap menjaga tata krama. Ada saatnya berbentuk vertikal dan ada saatnya horizontal. Selain komunikasi verbal, komunikasi non verbal amatlah penting, yakni dengan menggunakan bahasa mimik, isyarat, bahasa tubuh, bahasa simbol sesuai dengan budayanya masing-masing sehingga anak akan tetap melestarikan budaya lokal yang terekspresi melalui komunikasi.


Keempat, Ajaklah untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungan agar anak lentur dan mudah melakukan penyesuaian diri pada tahapan perkembangan berikutnya.
Kelima, Support atau dukung perkembangan psikologisnya dengan melakukan latihan-latihan termasuk melatih anak agar cerdas secara emosional, moral dan sosial.


Keenam, Hindari sikap menghukum anak yang tidak beralasan. Jika anak melakukan pelanggaran dan akan diberi sangsi, pertimbangkan, jenis sangsinya, usianya, cara memberikannya, alasannya, efeknya sehingga tepat.


Ketujuh, Ajaklah untuk mengenal Sang Pencipta. Selain itu, berikan rizki yang halalan toyyiban; arahkan minat dan bakat anak sejak dini agar menjadi profesi; berkonsultasi ke ahli jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkembangannya.


Menjadi orang tua bukanlah sesuatu yang mudah karena tidak ada sekolah orang tua. Maka ilmu yang dipelajari adalah ilmu empiris sambil berproses. Hampir tidak ada orang tua yang ingin mencelakakan atau benci terhadap anaknya. Yang ada hanyalah orang tua yang terlalu sayang atau khawatir terhadap darah daging jika kelak tidak seperti yang diharapkan.



Image: antonrio.wordpress.com

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
2 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

aguskurniawan

Penulis

Agus Kurniawan

Komentar

(2 Komentar)
  1. wnur Ditulis pada tanggal 10 November 2012 13:37

    Setiap anak dilahirkan dengan keunikan tersendiri lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Akan lebih baik jika potensi dan perkembangannya di sesuaikan dg keunikannya

  2. ddykoki Ditulis pada tanggal 09 November 2012 17:23

    kelebihan apa? Yang jelas setiap anak itu unik, dan setiap anak itu berbeda. . .

Post Into Facebook Wall
login