Pasar Tradisional, Berkenalan Dengan Gaya Hidup Sederhana
Sederhana. Tidak semua orang memahami betul konsep hidup sederhana, karna di jaman yang disebut urban ini kata sederhana diartikan sebagai 'kemiskinan', ketidak-mampuan untuk menghadapi gaya hidup yang berdasarkan percepatan alias instan juga diukur dengan materi. Seperti pasar tradisional khas tanah air yang dianggap ketinggalan jaman, tempat kita bersosialisasi, barter atau transaksi jual-beli.
Mari kita singkirkan dulu suasana pasar yang kotor, bau bumbu dapur yang berpadu dengan keringat kelas pekerja, masyarakat yang dianggap kelas bawah; yang bahkan kehadiran mereka mulai dilupakan dengan berdirinya gedung-gedung pencakar langit, rumah makan mewah bergaya barat dan Eropa, sampai pasar modern.
Kalau kita mau membuka mata dan hati, kita bisa mendapatkan pelajaran berharga dari mereka yang sehari-hari bekerja atau sekedar berbelanja di pasar tradisional. Mereka yang berdagang bangun ketika kita memejam mata, atau ketika kita masih tertawa-tawa di club malam atau kafe, tapi mereka tengah bersiap untuk membawa barang dagangan ke pasar. Melihat ibu yang bersiap ke pasar atau si mbok yang baru pulang dari pasar dengan keringat tapi berbangga karena berhasil mendapatkan sayuran dengan harga murah.
Atau mau cubitan cukup keras melihat bocah-bocah dengan pakaian lusuh yang tidak mampu menjangkau pendidikan yang katanya wajib, membawa berkarung hasil belanjaan atau menengadahkan tangan meminta sedikit koin 'gocapan'. Lihat juga aksi pencopet ulung atau preman pasar dengan tatapan mata tajam mencari mangsa, sementara keluarga di rumah menanti dengan perut kosong.
Berada di pasar tradisional membuat saya berkaca, melihat hidup saya yang terbilang cukup. Saya yang masih mampun duduk di kafe seminggu sekali, dan merasakan bobroknya sistem pendidikan, sembari mengeluh ini dan itu. Sementara di pasar, mereka masih tertawa dan bersenda gurau sembari memperbincangkan tokoh dalam sinetron yang mereka tonton kemarin malam. Dengarkan juga bagaimana mereka membicarakan kesulitan keungan diselingi guyon dan kepasrahan, atau penindasan yang dilakukan para penguasa.
Saya jadi teringat-ingat dengan beberapa kalimat hasil perbicangan dengan para pedagang di pasar, "zaman dulu miskin itu ndak ada mbak,...yang ada sederhana. Kalau sekarang ya ada, miskin hati dan moral."
"Sederhana ya?..."
"Uripe ndek deso, enak mbak. Kerjo nggarap sawah, opo ae wes digarap sing penting hasile cukup gawe mangan anak istri. Minterno anak, sekolah cek iso berguna gawe keluarga ambek Negoro."
Dan ketika saya kembali ke kota, mendengarkan keluhan orang-orang di sekeliling saya: "Aduh, mau nongkrong nggak ada duit!", "beli Blackberry apa iPhone ya?", "mau makan di mana?", "aduh! BT! Kehabisan model baju yang kayak gini!", "eh, si itu udah putus belum ya?", "galau banget nih!".
Lalu saya terdiam, kembali berkaca... (NAD)
Sumber foto: azharvokasi.blogspot.com
Penulis
Komentar
-
khorina Ditulis pada tanggal 13 Agustus 2012 11:47
eh tapi banyak juga kok orang kaya yang tetp belanja di pasar tradisional