Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

Pemerintah dan Pemudik

Pemerintah dan Pemudik Peringatan 17 Agustus sudah berlalu dengan segala polemik didalamnya dari dana upacara 17an yang makan uang rakyat sekitar 7 milyar, sampai peristiwa di suatu daerah yang tidak mengibarkan bendera merah putih, malah mengibarkan karung beras. Ditambah lagi arus mudik yang membuat peringatan 17 Agustus semakin jauh maknanya untuk rakyat kita.


Bahkan pemerintah tidak punya simpati sekali dengan rakyat kelas dua yang lebih memilih mudik dibandingkan untuk berdiri mengikuti upacara peringatan proklamasi. Apakah pemerintah tidak bisa memberi mereka kenyamanan saat mudik, macet total sehingga waktu tempuh perjalanan lebih panjang dari biasanya, atau bahkan nekat mudik dengan menggunakan sepeda motor dengan jarak sampai beratus-ratus kilometer sehingga nyawa yang menjadi taruhan.


Bukankah mudik itu terjadi tiap tahun, dan kenapa pemerintah tidak bisa memberi solusi yang baik untuk menyediakan moda transportasi yang murah dan massal sehingga bisa mengurangi pemudik yang menggunakan sepeda motor. Jika saja uang sekitar 7 milyar itu digunakan pemerintah untuk menyediakan transportasi gratis untuk pemudik bisa pulang ke kampung halamannya, maka akan semakin banyak rakyat yang akan bahagia dan akan berdoa untuk pemerintah agar mereka diberi kekuatan untuk membawa Indonesia sejajar dengan bangsa lain.

Andai pemerintah bisa menghayati isi penggalan kata-kata Soekarno di bawah ini :

Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat,
dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari
Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli
Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita

Maka tidak ada lagi berita dan cerita carut marut seperti sekarang ini. Semoga dengan berakhirnya Ramadhan kali ini mampu membuka mata hati pemerintah untuk lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya. Selamat merayakan hari kemenangan !


0 Komentar Laporkan Cerita

Saeful Anhar

Penulis

Saeful Anhar

Komentar

(0 Komentar) belum ada komentar
login