Propaganda dan Tragedi Etnis di Myanmar
Kabar pembunuham, pemerkosaan, dan penyiksaan secara keji yang dilakukan oleh militer Myanmar (Burma) kepada etnis Rohingya wajib menjadi perhatian dunia. Perang antar etnis Budha (Rakhine) dan juga muslim Burma (Rohingya) sudah memakan hingga ribuan korban jiwa. Etnis Rohingya adalah minoritas yang tinggal di Myanmar barat berbatasan dengan Bangladesh. tidak jelas asal usul etnis Rohingya, catatan sejarah mengatakan bahwa etnis ini belum ada pada tahun 1950, ada pula yang mengatakan bahwa etnis Rohingya sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris yakni 1824.
Namun etnis rohingya bukan asli dari burma. Perawakan orang rohingnya sendiri irip orang benglais (Asia Selatan). Seperti India dan pakistan ketimbang orang burma yang lebih mirip Asia Tenggara. Masalah yang dialami oleh etnis Rohingya tidak hanya dengan pemerintah Burma, tapi juga Bangladesh yang merupakan negara tetangga juga tidak mau mengakui keberadaan mereka. sebenarnya apa yang sedang terjadi?. Dan hingga kini belum ada kejelasan pembataian ini terjadi karena perang etnis atau Agama Budha dan Islam Myanmar.
Beberapa pihak mengatakan, Kekerasan di desa-desa Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan) di Burma (Myanmar), meliputi pembunuhan, penjarahan, pembakaran, penangkapan masih berlangsung. Badan-badan internasional, seperti PBB, masih tak berdaya menghadapi sekelompok etnis Buddha yang didukung pasukan gabungan ‘keamanan’ Rakhine. Ribuan Muslim Rohingya telah gugur akibat dibantai oleh etnis Rakhine secara brutal. Puluhan ribu lainnya menjadi tunawisma dan sedang menderita kelaparan dan pengobatan di Arakan. Media-media Burma yang pro-Rakhine telah menyebarkan propaganda terkait Muslim Rohingya. Mereka menggambarkan bahwa Muslim Rohingya adalah teroris dan yang membunuh serta membakar rumah-rumah etnis Buddha Arakan.
Salah satu bukti bahwa orang-orang etnis Rakhine-lah yang melakukan kekerasan adalah bisa dilihat dari pakaian mereka yang memakai pakaian khas Buddhis atau celana pendek. Perlu diketahui bahwa kebanyakan Muslim Rohingnya, mereka biasa memakai sarung selutut, mungkin sangat jarang yang terlihat memakai celana pendek. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa etnis Buddha menyamar berpakaian seperti Muslim Rohingya, buktinya saja, polisi Burma yang menangkapi para pemuda Rohingya yang kemudian disiksa, mereka diperlengkapi senjata untuk diambil gambar mereka dan disebarkan.
Lebih mengkhawatirkan dan tidak berperikemanusiaan, Presiden Myanmar, Thein Sein melontarkan pernyataan kontroversial mengusir Muslim Rohingya sebagai penyelesaian konflik bernuasa etnis dan agama di negara itu. Bahkan dia menawarkan kepada PBB jika ada negara yang bersedia menampung mereka. Bagi Direktur Global Future Institute, Jakarta, yang terjadi di Arakan ini bukan hanya Muslim Cleansing, tapi juga Budha Cleansing.
Menurut pengamat internasional ini, yang menjadi korban bukan hanya masyarakat muslim maupun Budha, tapi juga terjadi benturan peradaban di Myanmar. “Ada permainan korporasi tertentu yang berkolaborasi dengan Junta militer Myanmar,” kata penulis buku “Tangan-tangan Amerika di Pelbagai belahan Dunia” itu. Namun hingga detik ini belum ada yang bergerak terkait kekerasan dan pelanggaran HAM ini. Apakah dunia hanya bisa melihat dan berkomentar?
Baca juga:
(Sumber: Seputaraceh.com, Grevada.com, Moslemsunnah.wordpress.com)
(foto : suaranews.com)
Penulis
fighting for my life
Komentar
-
Wi2n Ditulis pada tanggal 31 Juli 2012 21:12
Banyak sekali Tragedi kemanusian dipicu propaganda unsur sara, etnis dan agama. Sedemikian rendahkah nilai kemanusiaan? Kalau saja setiap orang memandang antara satu dg manusia lain sebagai sama2 mahluk karya Tuhan. Maka tidak akan seperti ini. Bukankah menganiaya mahluk Tuhan sama dg menghina Tuhan YME? Sungguh biadab..!
-
jajat sudrajat Ditulis pada tanggal 27 Juli 2012 17:17waduh, kita berdoa saja agar allah mengutuk semua yang membuat tragedi ini