Raja Dangdut Rhoma Diduga Kampanye dalam ceramahnya di masjid
Raja Dangdut Rhoma Irama Akibat isi ceramahnya di Masjid Al Isra , Tanjung Duren, Jakarta, Sabtu (28/7/2012) yang mengandung SARA membuatnya harus berurusan dengan Panwaslu. Dalam ceramahnya rhoma diduga secara terbuka meminta warga agar tidak memilih Jokowi-Ahok. Raja dangdut Rhoma Irama mendadak menangis saat berusaha menjelaskan duduk perkara yang membuatnya dipanggil oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta.
"Saat itu saya mengucapkan sebuah ayat. Bahwa orang beriman dilarang memilih orang kafir sebagai pemimpin," kata Rhoma, saat jumpa pers di kantor Panwaslu DKI Jakarta, Senin (6/8/2012). Ia juga menambahkan, jika seorang muslim memilih pemimpin yang bukan sesama muslim maka akan menjadi musuh Allah. Ia juga berkeras bahwa menyampaikan ayat kitab suci di rumah ibadah bukan suatu kesalahan. Bahkan semua agama juga akan menerima hal tersebut.
"Ini yang dimaksud SARA? Menyampaikan ayat kitab suci di rumah ibadah?" ujar Rhoma. Ia menjelaskan, posisinya saat itu bukan sebagai tim kampanye pasangan Foke- Nara. Ia berada di tengah jemaah Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, sebagai seorang mubalig yang memberikan ceramah kepada masyarakatnya (dikutip dari KOMPAS.com).
Berdasarkan alasan tersebut, Rhoma menilai dirinya tak perlu meminta maaf kepada pasangan calon Jokowi-Ahok. Ia juga menilai tak perlu dilakukan islah karena tidak ada permusuhan dengan pasangan cagub pemenang Pilkada DKI putaran satu itu. Rhoma mengaku sangat menghormati pasangan cagub Jokowi-Ahok.
"Oleh karena itu saya tidak perlu meminta maaf kepada kelompok Jokowi-Ahok karena saya merasa tidak berbuat salah. Kedua, kita nggak perlu islah, karena kita nggak bermusuhan," ujar salah satu juru kampanye pasangan cagub Foke-Nara ini. Lebih lanjut, Rhoma menghimbau agar isu SARA dalam Pilkada DKI jangan sampai menimbulkan gesekan antara umat muslim dan nonmuslim. Ia menilai, arahan untuk memilih pemimpin yang seiman adalah hal yang wajar.
Ia mengaku tidak keberatan apabila warga Jakarta yang nonmuslim diarahkan untuk memenangkan Jokowi-Ahok. "Barangkali Ahok mengatakan kepada umatnya harus memilih China Kristen, so what? Itu sah-sah saja, itu bukan SARA. Jangan sampai terjadi benturan antara muslim dengan nonmuslim," pungkasnya.
Memang alasan tersebut tepat, namun agar tidak membut masyarakat salah menilai sebaiknya tokoh-tokoh masyarakat janganlah ikut kampanye dan harus netral jangan jadi juru kampanye salah satu calon karena itu bias membuat pengikutnya bingung dan tidak dapat memilih sesuai hati nuraninya masing-masing.
(foto : kompasiana.com)
Penulis
Komentar
-
jajat sudrajat Ditulis pada tanggal 13 Agustus 2012 12:57tak ada gading yang tak retak .. manusia is biasa saja, hanya bang haji ini terlalu sungguh
-
Irwan.AR Ditulis pada tanggal 07 Agustus 2012 13:56
sy kira wajaar bang Rhoma bilang begitu, sebagai muslim itu haknya, sebagai mubabaligh itu tugasnya menyampaikan, benar salahnya itu berpulang pada nalar kita dan Juga kembali pada putusan Allah. yang mungkin bang Rhoma tdk kapok adalah bahwa politik itu sungguh terlalu!
-
Abdul Munazah Ditulis pada tanggal 07 Agustus 2012 10:31mungkin beliau tidak bermaksut begitu, tapi hanya membahas topik pembicaraan.