Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

01 Oktober 2014

Realita dan Masalah Remaja

Realita dan Masalah Remaja Perilaku negatif remaja akhir-akhir ini semakin membuat kita khawatir. Penganiayaan oleh siswa terhadap sesamanya di Jember dan tawuran pelajar yang mengakibatkan meninggalnya salah seorang pelajar, kasus peredaran narkoba yang melibatkan pelajar membuat kita mengelus dada pertanda prihatin dengan perilaku remaja/pelajar di masa sekarang.


Tidak ketinggalan pula kasus video porno dan protitusi terselubung yang melibatkan jaringan pelajar yang tidak hanya terjadi di kota metropolitan, tapi juga di kota kabupaten (Komnas Perlindungan Anak, 2012).


Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan dalam benak kita: Apakah kejadian tersebut merupakan kenyataan sehari-hari siswa kita? Atau kejadian tersebut hanyalah puncak gunung es? Dan berarti masih banyak kasus yang belum terungkap di permukaan. Kita juga pasti bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan remaja kita ?


Karena masalah yang berkaitan dengan generasi muda adalah masalah yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Meskipun tidak bisa kita gebyah uyah, masalah generasi muda menimbulkan keprihatinan yang amat mendalam, dan terus datang silih berganti. Geng motor, narkoba, pergaulan bebas, video/foto porno dan tawuran antar remaja hanyalah sebagian kasus yang berkait dengan generasi muda. Pertanyaan paling penting adalah, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap serangkaian kejadian tersebut?


Remaja menurut para ahli adalah mereka yang berusia 13-18 tahun yang disebut juga sebagai usia transisi. Artinya meskipun sudah melampaui masa kanak-kanak tetapi belum sepenuhnya mampu mandiri dalam menyelesaikan masalah yang ada. Boleh dikatakan bahwa masa transisi sebagai masa yang rawan. Kerap kali disebut sebagai masa pemberontakan. Remaja selalu ingin tampil berbeda, muncul berbagai gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, selalu menyamakan diri dengan kelompoknya (peer group) adalah ciri-ciri masa pubertas.


Pendampingan yang intensif dari pihak yang lebih dewasa amat diperlukan untuk mengarahkan energi masa remaja yang meluap-luap dimasa transisi ini. Karang taruna, organisasi kepemudaan, kegiatan olahraga dan seni adalah beberapa wadah bagi remaja. Bimbingan yang menyejukkan dan tidak menggurui sangat dibutuhkan oleh remaja.


Tokoh masyarakat, ulama, guru dan yang paling penting orang tua perlu memahami remaja dengan menempatkan diri sebagai teman artinya tidak melulu bersifat memerintah apalagi mengancam. Karena remaja akan lebih terbuka terhadap mereka yang mau banyak mendengar curhat mereka. Kesediaan kita meluangkan waktu dan tenaga niscaya membantu para remaja melewati masa transisi.


Sebaliknya keengganan kita mendengarkan remaja menyebabkan timbulnya berbagai masalah baik dirumah, masalah dengan tetangga, masalah disekolah juga masalah dengan teman sebaya. Apabila kondisi ini kita biarkan, tidak mustahil timbul masalah yang lebih berat yakni kenakalan remaja.


Kebiasaan berpikir pendek, ingin lebih menonjol dibanding teman-temannya dan kebutuhan akan pengakuan serta pujian merupakan faktor pendorong bagi remaja untuk meningkatkan “kelas” kenakalan remaja menjadi tindak kriminal. Bagi mereka yang telah dewasa akan berusaha menghindari perilaku kriminal, tetapi remaja bahkan merasa lebih hebat bila mereka melakukan tidak kriminal.


Banyak pihak merasa prihatin dengan perilaku remaja yang katanya semakin hari semakin tak terkendali. Tetapi keprihatinan saja tidaklah cukup. Dibutuhkan aksi nyata dari berbagai untuk menyelesaiakan permasalahan remaja. Sarana dan prasarana yang memenuhi kegiatan remaja, media yang “sehat” untuk dikonsumsi remaja, seringnya kompetisi positif bagi remaja, kegiatan rekreasi dan keagamaan yang sesuai dengan jiwa remaja adalah beberapa contoh yang dapat kita lakukan. Perlu kita bertanya kepada diri sendiri, sudah cukupkah jumlah kegiatan bagi remaja ? Bagaimana dengan ragam dan kualitas kegiatan tersebut ?


Generasi muda merupakan sumberdaya manusia yang amat potensial sebagai tunas bangsa dan penentu masa depan bangsa. Karena itu kelompok remaja memerlukan penangan yang ekstra serius untuk mempersiapkan diri menjadi manusia Indonesia yang berguna serta berkembang dengan baik dan benar sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kemampuannya meraih hasil kerja yang maksimal.


Kemajuan informasi dan tehnologi mengajak kita berpacu, berkejaran antara upaya penyelesaian dengan potensi masalah baru dikalangan remaja. Kerjasama diperlukan oleh berbagai pihak baik pemerintah, sekolah, kepolisian, dinas pendidikan, tokoh agama dan keluarga dalam menekan perilaku menyimpang remaja yang kita kategorikan sebagai kenakalan remaja. Tidak cukup hanya ancaman hukuman tapi harus dicari akar permasahan, duduk bersama dan bekerja keras menyelesiakan persolan kenakalan remaja.


Keluarga sebagai ikatan sosial pertama yang dialami oleh seseorang. Di dalam keluargalah kita belajar untuk hidup sebagai mahluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungannya. Kita semua setuju bahwa keluarga merupakan wadah pertama dan utama bagi seseorang untuk belajar berinteraksi dengan orang-orang lain di luar dirinya.


Remaja akan menyerap berbagai macam pengetahuan, norma, nilai, budi pekerti, tatakrama, sopan santun, serta berbagai keterampilan sosial lainnya yang sangat berguna dalam berbagai kehidupan masyarakat. Dari keluarga, remaja akan belajar bagaimana memikul rasa bersalah, bagaimana menghadapi secara konstruktif berbagai tanggapan anggota keluarganya yang lain,mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, kepuasan, dan cinta kasih terhadap sesama mahluk.


Dengan demikian, keluargalah pelaku pendidikan utama bagi seorang remaja sehingga menjadi manusia secara penuh, manusia yang mampu hidup bersama manusia lain dalam lingkungannya yang diliputi suasana harmonis.

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

aguskurniawan

Penulis

Agus Kurniawan

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login