Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

23 Oktober 2014

Saat Istri Tidak Lagi Menghargai Suami

Saat Istri Tidak Lagi Menghargai Suami Kehidupan rumah tangga yang tidak lagi dilandasi saling percaya. Membebani seorang teman, hingga tak sanggup memikulnya sendiri maka akhirnya iapun bercerita.

 
“Kurang apa aku sebagai suami ma?. Aku memenuhi kewajibanku. Aku bekerja menafkahimu. Walaupun aku sadar aku belum mampu memberimu lebih. Seperti orang lain memberi pada istri mereka. Tapi aku berjuang sekuat tenagaku ma. Di rumah aku juga membantumu, meringankanmu mengerjakan pekerjaan rumah.

Aku mencuci pakaian, nyapu, ngepel lantai. Aku bahkan memasak dan cuci piring. Mana ada suami yang mau melakukan tugas rumah seperti ini ma? Lalu kenapa aku masih salah di matamu? Masih saja dikekang dengan aturan-aturan yang tidak masuk akal. Tidak boleh telpon, tidak boleh internet. Maumu aku seperti apa ma?” begitulah cerita sahabatku pagi tadi.
 
Sebagai suami sepertinya ia telah berusahan berbuat yang terbaik. Lalu dimanakah salahnya?
 
Sebuah problem rumah tangga yang cukup rumit. Sebagai seorang perempuan saya mencoba mengerti posisi istrinya. Jika saya berada di posisi itu apakah saya akan melakukan hal yang sama? Rasanya tidak karena memang seharusnya tidak.
 
Persoalan ekonomi memang menjadi faktor utama terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga. Tapi kalau kita mau bijak dan menerima semuanya dengan ikhlas mungkin akan berbeda keadaannya. Bukankah banyak orang di dunia ini juga berada dalam kondisi yang sulit? Bukan hanya kita. Bagaiamana mereka bisa bertahan?
 
Tidak gampang memang mengelola keharmonisan dalam keluarga. Apalagi dalam keadaan kita yang sedang sulit secara finansial.
 
Rasa saling percaya, saling mendukung satu sama lain sangat dibutuhkan. Sebagai istri harusnya kita bisa menghargai setiap usaha kerja keras suami. Bukan malah menuntutnya dan menghukumnya dengan terus menyudutkannya.
 
Harusnya istri menjadi penyejuk bagi suami dalam suasana pikirannya yang panas setelah berfikir beratnya tanggung jawab. Mestinya kita menjadi surga yang menenangkan hatinya saat seharian ia kelelahan menjalankan aktivitasnya.
 
Memberinya kepercayaan penuh. Bukan memata-matai geraknya. Memberikan ia kebebasan bukan malah mengekangnya dalam penjara cinta yang mengungkungnya bahkan juga diri kita.
 
Bukankah cinta itu adalah kebebasan. Cinta adalah pengorbanan. Mungkin kita perlu bertanya lagi, sudahkah kita mau memberikan kebebasan pada apa yang kita cintai? Sudahkah kita berkorban untuk sesuatu yang kita cinta?
 
Sebaiknya kita revisi lagi alasan mengapa kita mencintainya? Bukankah kita mencintai pasangan kita karena Tuhan menciptakannya sebagai jodoh, teman dan pendamping dalam hidup kita. Lalu mengapa kita mesti mencinta dengan alasan. Mengapa cinta hilang saat dia tidak memiliki kekayaan? Mengapa cinta kita terkikis oleh materi dan kelimpahan harta? Bukan itu yang membahagiakan Tapi cinta karena keikhlasan yang memberi kebahagiaan.
 
Sebagai perempuan, kita harusnya beruntung mendapatkan pria yang sangat menyayangi kita. Yang mau mengerti kita apa adanya. Pria yang tidak pernah menuntut banyak pada kita.
 
Seperti halnya kita, suami juga ingin didengar, ia hanya ingin dihargai sebagai seorang laki-laki. Ia butuh diberi kepercayaan. Ia hanya memerlukan senyum ketulusan yang memberikan semangat. Ia pantas untuk dihormati. Ia pantas mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya sebagai suami.
 
Duhai, para wanita/istri pahamilah kondisi suami kita. Berikan ia kesempatan untuk membuktikan bahwa dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Dia tidak akan mungkin membawa kita ke jurang kehinaan. Dia tidak akan membiarkan kita mati kelaparan. Karena dia sangat mencintai kita istri dan anak-anaknya.
 
Jika cinta dan kasih sayang itu tak ada lagi padanya. Dari dulu, dia pasti telah pergi dan meninggalkan kita selamanya. Jangan pernah biarkan hal itu terjadi. Sebelum penyesalan menghinggapi berpikirlah besar dengan hati dan jiwa yang jiwa yang juga besar.
 
Alangkah lebih baik jika kita mau bercermin, daripada terus menangisi keadaan. Temukan kekuatan dalam diri, keluarkan segala kemampuan dan potensi diri. Sudah tak zamannya lagi kita berpikir picik, sudah kuno jika setiap hari menyesali keadaan diri.
 
Banggalah menjadi ibu rumah tangga, prediket itu janganlah membuat kita kehilangan harga diri. Masih banyak yang bisa kita lakukan daripada harus meratapi kesusahan. Yang berujung pada pertengkaran suami istri.
 
Cat untuk sahabat. Semoga selalu kuat dan sabar, Tuhan akan membukakan jalan yang terbaik. Doaku untukmu selalu.

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

Penulis

Fitri

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login