Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

21 Oktober 2014

[Cerpen] Sahabat itu SEJATI Seiring, Sejalan, Sehati

[Cerpen] Sahabat itu SEJATI Seiring, Sejalan, Sehati

Disaat aku tak yakin apa itu cinta, dan menistakan kekuatannya. Kau datang memberi pengertian padaku. “cinta itu ga buta seperti yang kamu tau kok, tapi cinta itu mengerti dan paham.” Itulah kata yang sangat jelas terekam di otakku, sepertinya sudah sangat lama aku tak mendengar kata-kata yang sama seperti itu. Andai dia masih ada untukku, aku yakin dia adalah orang pertama yang akan tersenyum saat aku kehilangan cinta.

“hahh Agas, andai loe masih ada buat gue, pasti gue gak aan bingung kaya gini skarang.” Keluhku sendiri dalam sunyi. Namaku Aurora Key Arista atau biasa di panggil Aka, Agas adalah teman baikku, pertemanan kami dimulai saat kami sama-sama masuk SMA taruna karya. Agas adalah sosok lelaki yang menyenangkan, dia ramah, baik, dewasa, dan selalu ada di sampingku untuk menjaga senyumku. Namun sayang setahun yang lalu dia meninggal karena kangker otak yang telah sampai pada stadium akhir. Sedih. Kata itu sepertinya tidak cukup untuk mewakili rasa yang berkecamuk dalam hatiku, berhari-hari ku habiskan untuk merenung dan meratapi kepergian Agas. Sakit rasanya kehilangan sahabat yang selalu ada untuk kita.

Aku ingat saat aku pertama kali jatuh cinta pada seniorku yang bernama bhakti, segala cara aku lakukan agar aku bisa melihat dan melempar senyum manis padanya. Saking aku tergila-gila padanya aku ikut masuk dalam club sejarwan, padahal aku sama sekali tak berminat pada sejarah. Tapi tak perlu waktu yang lama untuk mendapat perhatian dari bhakti, dalam waktu sebulan aku sudah menjadi kekasihnya.

Hari demi hari aku lewati bersamanya, tapi lambat laun aku merasa bosan dengan sikapnya yang selalu ingin diperhatikan. “ihk tau ga loe si bhakti tu rese banget, kemana-mana pengen ditemenin, istirahat harus bareng. Rempong ga tuh cowo gue?” keluhku pada Agas yang hanya tersenyum sambil mangut-manggut mendengar ocehanku. “ itu resiko loe Kha, katanya dulu doi keren, maco, type loe banget nah kok sekarang malah gini hehehe.” Ledeknya sambil mengoda ku. Aku hanya manyun saja karna kesal padanya “haaaah dewasa donk Kha, itukan pilihan loe, lagian cinta itu memang harus mengerti jangan tutup mata dan telinga, kalo loe ga suka bilang dari sekarang, jangan sampe doi tau dari orang laen.”

Sempat aku tak mau mendengar ucapannya, tapi saat aku berfikir ulang, memang benar apa yang dia ucapkan. Akhirnya taklama setelah perbincangan aku dengan Agas, aku pun memutuskan hubungan ku dengn bhakti, dia cukup terpukul saat aku bilang.” Ka, aku dah ga nyaman ama sikap kaka yang selalu harus diperhatiin, aku juga butuh kebebasan. Maaf ka, hubungan kita cukup sampe sini aja iia?” kutarik tanganku dari genggamannya. ia tak berkata sedikitpun hanya menunduk lalu pergi meninggalkan ku.

Tak lama aku pun beranjak dari tempatku berdiri, dengan langkah bersalah aku berniat untuk mencari Agas. Siapa tau dia bisa menghapus rasa bersalahku pada Bhakti. Ku susuri kelas-kelas yang sudah Nampak kosong, tapi tak kutemui Agas dimana-mana. “ ihk kemana tuh anak udah jam 6 kok blom nongol juga, apa dia balik dulan ya?” sambil terus mencari. Lama-lama aku mulai merasa bosan, mungkin Agas memang sudah pulang duluan karna terlalu lama menunggu fikirku.

Aku pun mulai menjauh dari gedung sekolah, tapi belum sempat aku melewati gerbang utama, mendadak aku merasa ingin buang air kecil, dengan sangat terpaksa ku putar arah untuk kembali menuju gedung sekolah, hari sudah mulai gelap gedung sekolah terasa sangat menyeramkan bagiku. Sempat terbersit untuk berhenti, namun sudahlah aku sudah tak tahan. Sambil berlari-lari kecil ku perhatikan setiap sudut gedung, memang terasa sangat asing dan menyeramkan.

Setelah selesai aku pun langsung berlari menuju gerbang utama. Namun tiba-tiba langkahku terhenti karna melihat sesosok tubuh laki-laki yang terbaring di samping gerbang. Astaga siapa itu, dengan langkah ragu aku berusaha mendekati sosok itu, dan saat tepat berada di sampingnya sambil berjongkok, alangkah terkejutnya aku melihat sosok itu ternyata Agas. Dengan muka yang pucat, dan darah segar keluar dari gidungnya aku langsung berteriak meminta tolong.

“TOLOOONG..TOLOONG WOY ADA ORANG GA NII?” lalu mang ujang salah satu satpam di sekolahku berlari menghampiri kami. “ waduh neng kenapa ini” sambil membantuku mengangkat Agas. “ gatau pak tadi pas saya liat Agas udah pingasan, sekarang bawa kerumah sakit aja deh.”

Sesampainya kami dirumah sakit, aku langsung meminta bantuan perawat untuk menangani Agas. “ de agas!” terdengar salah satu perawat mengenal Agas. “ tolong tunggu di sini iya mba, pasien akan mendapat tindakan.” Aku hanya menganguk terdiam lemas karena masih syok dengan kejadian tadi. Berbagai macam pertanyaan bergulat di otaku, setelah beberapa menit aku hanya tertegun, akhirnya aku sadar karena teringat akan orang tua Agas yang belum aku hubungi.

“haloo” terdengar suara yang lembut di sebrang sana.
“malem tante, ini saya Akha.” Jawabku ragu
“ow Akha ada apa kok kedengarannya gugup sekalli.” Tanya tante marta ibunda Agas
“ emm anu tan, eem, Agas. Agas ada dirumah sakit sekarang” jawabku terbata-bata
“astaga memang kenapa Kha, kenapa Agas ada dirumah sakit” terdengar kaget dan panic
“saya juga kurang tau tan, soalnya pas saya liat Agas udah pingsan” jawabku singkat
“ya sudah sekarang kalian ada di rumah sakit mana?” tanyanya masih dengan nada panic
“rumah sakit harapan jaya” singkatku. Lalu saluran telpon terputus.

Aku terus saja mondar-madir di depan pintu ruang UGD, rasa panik, khawatir, dan tegangku terus saja menghinggapi ku. Aku bingung dengan apa yang terjadi pada Agas, pagi hari tadi kami masih bercanda gurau, tak ada tanda-tanda bahwa Agas sedang sakit. Satu jam berlalu akhirnya tante Marta dan om Brama tiba di rumah sakit. Dengan langkah tergesah dan muka yang pucat tante Marta langsung menghampiriki.

“ Kha gimana Agas? Ko bisa kaya gini sih?.” Tanyanya sambil menangis. Aku hanya menggeleng tanda tidak tau apa-apa, belum sempat aku menjelaskan kronologi kejadiannya, dokter sudah keluar dari dalam UGD.
“ dok bagaimana keadaan anak saya dok?” om Brama bertanya khawatir

“ seperti yang sudah saya bilang kemarin pak, kondisi anak bapak sudah sangat menghawatirkan seharunya Agas melakukan rawat inap di rumah sakit” dokter menjelaskan. Apa kelanjutan pembicaraan mereka aku tak tau, karna mereka melanjutka pembicaraan di ruang dokter. Sedangkan aku, dan tante Marta langsung ikut bersama para perawat yang membawa arga menuju ruang inap. Muka tante Marta terlihat sangat khawatir dan syok melihat putra semata wayangnya terkapar lemas.

Ku duduk di sampingnya sambil berusaha untuk menenangkan hatinya. Ia mulai menceritakan hal yang tak pernah ku tau sebelumnya. Agas adalah seoarang anak laki-laki yang ceria, ramah, dan sangat sosialis, banyak sekali kenangan manis bersamanya, dia tak pernah merepotkan orang lain bahkan keluargannya. Sampai pada suatu hari, Agas pingsan saat sedang bermain bersama teman-temannya. Dari situlah kami tau bahwa Agas mengidap kangker otak, kami sangat terpukul mendengar penjelasan dari dokter, kami tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa putra kami satu-satunya.

Kami tidak berani untuk memberi tahunya karna Agas dulu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sampai akhirnya Agas mengetahuinya sendiri, yaitu saat pemeriksaan kesehatan untuk mendaftar pendidikan ABRI. Saat itu tak Nampak sedikitpun rasa kaget atau kecewa dari mukanya, bahkan saat kami mulai menjelaskan dia hanya berkata.” Ayah, bunda. Ga usah khawatir aku bakal baik-baik aja, mungkin ini memang takdir aku yah, aku ga marah, aku ikhlas. Bahkan aku berfikir dengan sisa waktu yang aku punya sekarang, aku harus selalu melakukan hal baik untuk orang-orang yang aku cintai, karna cinta itu mengerti.” Seolah tak kuat menahan tangis tante Marta mengakhiri ceritanya sambil memelukku. Kenapa, kenapa Agas tak pernah cerita padaku. Pertanyaan itu terus terngian di kepalaku.

Jam menunjukan pukul 9 malam, dengan perasaan tidak enak pada mereka aku memberanikan diri untuk pamit pulang karena orangtua ku pasti mencariku. Mereka mengiyakan sambil terus menyebut kata trimakasi padaku, lalu om Brama meminta supirnya mengantarku pulang. Sesampainya ku dirumah entah mengapa air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya meluncur juga membasahi pipi dan daguku. Perasaan sakit, sedih dan takut kehilangan yang sangat menyesakan hati. Aku menangis sampai terisak dan tertidur karena lelah.

Keesokan harinya aku bergegas untuk menjenguk Agas di rumah sakit, ku pinjam mobil ayah untuk menuju kesana. Ditengah perjalanan aku melihat banyak sekali orang berjual bunga. “ oia ini kan tanggal 14 februari, hari valentine sekaligus ulang tahun persahabatanku yang ke 2 bersama Agas”. Ku hentikan mobilku di sisi jalan. Lalu aku membeli 3 tangkai bunga mawar kuning, yang melambangkan persahabatan dan keceriaan.

“buat pacar ya nenk.” Seorang ibu penjual bunga bertannya “oh bukan ini untuk sahabat saya, dia sedang sakit.” Jawabku singkat sambil berterimakasih dan pergi. Sesampainya disana, aku melihat Agas sedang duduk sendiri di taman. Aku mengendap-endap untuk member kejutan padanya, “SURPRISE” ku teriakan dari balik badannya.”Akha!! ngagetin aku aja dasar kamu.” Sambil tersenyum. “ hehehe kaget iia? Oia ni bunga buat kamu sebagai kado persahabatan kita.” Ucapku sambil menyodorkan bunga. “ oia hari ini hari persahabatan kita ia aduuh aku lupa, hehe kado buat kamu boleh nyusul kan?” tannyanya ragu padaku. “ eeem gimana iia huuh, karna kamu lagi sakit bolehlah.”balasku sambil tertawa.

Kami berbincang cukup lama, aku melihat binar matanya sungguh mempesona. Seperti menariku pada dimensi lain dalam kehidupannya. sementara senyumnya yang khas membuat jantungku berdebar tak karuan. Kenapa aku ini, tak seperti biasanya aku seperti ini. Sore kini telah menjelang, waktunya Agas untuk beristirahat dan aku pulang. Namun sebelum aku pulang Agas mengatakan sesuatu saat aku mengantarnya ke kamar. “ Aurora cantik, besok kamu kesini lagi iia? Tapi sekitar jam 7 malem soalnya aku mau kasih kamu hadiah gimana?”ucapnya padaku. “ ok Agas cakep besok aku kesini tepat jm 7.” Akupun berpamitan dan pulang

Keesokan harinya tak seperti biasa aku yang tidak pernah berminat untuk berdandan, hari itu tiba-tiba saja mulai mencoba mempercantik diriku dengn berbagaimaca polesan agar terlihat mempesona. Kupilih baju terbaikku. “ihk gue ko genit gini sih, gue kan Cuma mau ketemu Agas. Tapi ga papalah sekali kali.” Tepat pukul 7 aku sampai disana, tak seperti biasa malam itu kamar inap Agas tidak dijaga oleh perawat, dan saat aku masuk kedalam ternyata Agas sudah menyiapkan candle light dinner, romantis sekali suasana disini.” Gimana suka ga ma hadiahnya?” Tanya Agas sambil mempersilahkan aku duduk “wah sumpah keren Gha, romantis banget.”

Aku hanya bisa berdecak kagum melihat ini semua. Lalu Agas mengeluarkan kotak berisi gelang perak dengan manic-manik bintang di sebagian sisinya. “apaan ni Gha?” tanyaku heran “ ini kado berikutnya tanda persahabatan kita, kalo aku ga ada nanti gelang itu bakan nemenin dan nerangin kamu terus kaya bintang.”jawabnya sambil memasangkan gelang pada lenganku.” Iiihhk baguus banget, tapi ko kamu ngomong gitu sih, kamu tu harus selalu ada buat aku huuh. Kalo bintangkan kadang ga ada kalo hari mendung.” Balasku padanya. “ya kalo bintangnya ga ada anggep aja aku lagi marah ma kamu hehehehe” balasnya sambil tersenyum.

Malam ini sungguh membuai ku, aku bisa merasakan kehangatan Agas yang selama ini tidak ku tau. “oia ni surat dan kado buat kamu, tapi inget ya kado dan surat itu boleh di buka tanggal 16 februari bukan male mini atu besok, janji ya?” pintanya padaku “iya deh terserah kmu, tapi kamu kasih kado ke aku banyak banget, 3 macem loh.” Jawabku. “ loh kan sama kmu juga kasih aku 3 mawar kan? Jadi kita impas.” Jawabnya sambil tersenyum.

Tanggal 15 terlewati akhirnya aku bisa membaca surat dan membuka kado dari Agas. rasanya penasaran sekali, jantungku berdebar-debar seperti akan membuka bingkisan yang berisi bom. Perlahan ku buka ternyata kado itu adalah buku harian milik Agas. Aku tertegun sambil membuka surat.

Dear Aurora si putri cinta

Kamu adalah wanita terindah yang mengisi sisa hidupku
memberi warna berbeda dalam setiap langkah di hariku
kamu juga matahari yang memberikan kehangatan di dalam ketidak mampuanku
dan kamu adalah cinta pertama dalam hidupku…

cantik, jika kamu sudah membaca surat dan menerima diary ku, berarti aku sudah berda di dunia yang berbeda dan menatap langit yang berbeda pula, tapi kamu jangan khawatir disini aku kan baik-baik saja, aku tetap bisa melihat mu dan tersenyum bersamamu. Tidak terasa 2 tahun bersamamu telah ku lewati penuh kegembiraan, kamu wanita yang ceria, yang bisa membuat siapapun bahagia didekat mu. Andai aku bisa menghentikan waktu aku ingin selalu disampingmu, melihat canda mu dan teriakan yang kadang membuat sakit telingaku. Selama ini aku selalu dibayangi oleh perasaan takut. Aku takut jika saat ini datang kmu tak di sampingku. Aku mencintaimu cantik, aku sangat mencintaimu. Namun aku hanya bisa menjadi sahabatmu, karena aku tak bisa menjaga mu seumur hidupku. Taukah kamu jika kmu bercerita tentang cinta, aku selalu tertawa. Itu karna aku membayangkan aku adalah lelaki yang kamu maksud. Berat rasanya meninggalkanmu namun aku sudah tak bisa menahan ini semua. Aku pergi bukan karna aku tak bisa menjagamu, tapi aku pergi karena waktu ku menjadi malaikatmu penjagamu sudah habis.

Cantik, jadilah wanita yang selalu tegar seperti yang aku kenal, selalu ceria dan menebar kegembiraan pada semua orang. Berjanjilah untuk tetap tersenyum saat kmu ada di depan pusaraku, karna dengan begitu aku tenang meninggalkanmu. Cantik ingatlah aku dalam gelang bintang itu jadikan ia sahabat kemanapun kmu melangkah. Cantik waktuku sudah habis, ingatlah untuk selalu tersenyum dalam cinta. Karena cinta tidak buta tapi cinta itu mengerti. Slamat tinggal cantik aku akn selalu mencintaimu dalm cahaya bintang yang menerangi malam karna aku sahabat sejati (seiring sejalan sehati)

Sahabatmu Agas pradikta
Love you 4 ever, friend

entah berapa lama aku tertegun sambil menangis membaca lembaran surat perpisahan darinya. Agas sengaja tidak mengizinkanku datang hari ini karena dia tak mau melihatku menangis. Hatiku sakit membaca lembaran surat dan diary miliknya, betapa tangguhnya seorang Agas dalam menghadapi semua hal di hidupnya. Mempertahankan senyumnya dan senyum orang-orang terkasihnya.

Akupun menepati pintanya, aku tak menangis saat aku ada di depan pusaranya, aku berusaha untuk tidak merintih sedikitpun agar ia mersa tenang meninggalkanku. Hari-hariku tersa kosong, Agas yang selalu ada di sisiku kini telah menatap langit yang berbeda. Walau begitu aku tetap yakin aku bisa melangkah sendiri, membuat senyum bagi orang-orang tanpa larut dalam kesedihan.

Hingga saat ini, aku berada di sebuah universitas di bandung yang seharusnya Agas juga berda disini, aku tetap tegar, memiliki teman-teman yang sama menyenangkannya dengan Agas. Walau Agas tetaplah Agas tak akan ada yang bisa menggantikan ia di hatiku sebagai sahabat terbaik dalam hidupku. “ you are the best friend” (cinta itu tidak buta, tapi cinta itu memahami)


 

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
1 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

reinjhani

Penulis

Komentar

(1 Komentar)
  1. ewink Ditulis pada tanggal 05 April 2012 16:58

    haduh ceritanya sedih deh,, sampai terbawa kedalam ceritanya skaing menghayatinya

Post Into Facebook Wall
login