Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

26 November 2014

Sejarah Sanghyang Tikoro

Sejarah Sanghyang Tikoro Berbicara tentang sejarah geologi Bandung, nampaknya belum lengkap jika tidak berbicara tentang Sanghyang Tikoro. Gua bawah tanah yang dialiri oleh Sungai Citarum tersebut sangatlah memukau mata dan memancing mulut untuk selalu bertasbih kepada-Nya.

Penulis sempat mengunjungi tempat tersebut dua kali bersama seorang kawan dari Masyarakat Geografi Indonesia, T. Bachtiar. Pemaparan yang diutarakan oleh beliau sangat menarik terutama bagaimana gua tersebut terbentuk dan kisah legenda beserta mitos-mitosnya.

Makna Sanghyang Tikoro dalam bahasa Indonesia adalah dewa tenggorokan. Sanghyang berarti dewa sedangkan tikoro berarti tenggorokan. Sekitar 20-30 juta tahun yang lalu daerah tersebut adalah terumbu karang indah dengan kedalaman sekitar 10-20 meter. Terbentuknya gua bawah tanah tersebut membuktikan bagaimana hebatnya proses erosi yang dilakukan aliran Citarum hingga mampu melubangi batuan kapur yang keras.

Agaknya dari peribahasa Sunda cikaracak ninggang batu lila-lila jadi legog terinspirasi dari peristiwa erosi tersebut. Banyak orang percaya bahwa gua ini adalah tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Padahal dalam buku Geowisata Sejarah Bumi Bandung yang ditulis T.Bachtiar bersama rekan-rekan dari Riset Cekungan Bandung, menyatakan bahwa bobolnya danau tersebut bukan di sini melainkan di daerah Pasir Kiara dan Pasir Larang.

Ada mitos yang menyebutkan bahwa bilamana seutas rambut atau sepotong lidi terbawa hanyut ke dalam Sanghyang Tikoro, maka akan terdengar jeritan yang menyayat hati dan Bandung akan kembali tergenang menjadi danau. Secara keilmuan hal itu tidak mungkin terjadi.

Tetapi secara filosofis mitos tersebut mengajarkan anak-anak Sunda untuk mencintai alamnya dengan tidak membuang apapun ke dalam sungai. Aliran sungai yang mengaliri gua tersebut dibendung terlebih dahulu oleh Sangkuriang modern di PLTA Saguling untuk menghasilkan listrik 700 MW untuk pasokan Jawa dan Bali.

Sayangnya air Citarum yang mengalirinya sudah terkontaminasi oleh limbah pabrik sehingga tercium bau yang menyengat. Sebuah keadaan ironis di mana aset berharga tanah Pasundan harus berhadapan dengan kerasnya arus modernisasi industri. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran manusia-manusia Sunda untuk melestarikan kekayaannya. Jangan sampai keeksotisan Sanghyang Tikoro pudar karena tergerus materi dan pragmatisme semata.

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
4 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

dhatux

Penulis

trisna mustopa kartomi

Komentar

(4 Komentar)
  1. ddykoki Ditulis pada tanggal 01 Desember 2012 05:23

    yayaya
    ya gak paham ,, haduwh maaaf msh bingung dg tampilan baru.

  2. dhatux Ditulis pada tanggal 06 Juni 2012 21:13

    ini kata orang tua , kalau batu itu kebuka/acur kanya bisa bisa bandung jadi danau , itu kata orang tua sih

  3. patriot Ditulis pada tanggal 06 Juni 2012 17:46

    baru tahu saya..........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. ddykoki Ditulis pada tanggal 06 Juni 2012 17:36

    wah?hebat?mpe bingung meh komentar apa!

Post Into Facebook Wall
login