Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

02 Oktober 2014

Senyuman Sang Jenderal Wiranto

Senyuman Sang Jenderal Wiranto Ketika saya melihat pak wiranto itu beliau adalah sosok yang tegas dan bijaksana. Walaupun beliau sang jenderal tetapi senyum ramah beliau sangat memukau. Wiranto adalah salah satu jenderal yang dekat dengan rakyat.


Walaupun wiranto banyak yang memberitakan isu-isu masa lalu saat di militer. Tetapi sebagai bangsa yang bijak kita harus menanggapinya secara adil. Wiranto di mata rakyat adalah sosok yang ramah dan sangat dekat dengan rakyat.


Jenderal TNI (Purn) Wiranto SH, MM. dilahirkan di Yogyakarta pada 4 April 1947 dari keluarga Muslim bersahaja. Menikah dengan Hj. Uga Usman SH, MSi, wanita asal Gorontalo, pada 22 Februari 1975. Wiranto hidup berbahagia dan dikaruniai dua orang putri serta seorang putra.


Wiranto memiliki kegemaran di bidang olahraga seperti tenis dan bulutangkis. Dari kemampuan vokalnya, dia telah meluncurkan sebuah album yang dari hasilnya disumbangkan untuk membantu para pengungsi yang tersebar di beberapa daerah di Tanah Air. Sementara di bidang olahraga, dia pernah menjadi Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) yang di antaranya menjadi Juara Dunia tahun 2000. Beberapa saat berselang dia juga sempat menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (FORKI).


Menapak karier sebagai perwira Tentara Nasional Indonesia Angakatan Darat (TNI AD) dari Korps Kecabangan Infantri pada akhir 1968 selepas dilantik dari Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang yang merupakan sentra penggodokan para taruna, Wiranto yang kala itu menyandang pangkat letnan dua mengikuti berbagai pendidikan, latihan, dan kursus yang bersifat pengembangan umum maupun spesialisasi, antara lain, Sussarcab Infantri (1969), Suslapa Infantri (1976), dan Sekolah Staff dan Komando (Sesko) TNI AD (1984) serta Lemhanas (1995), dengan prestasi sangat memuaskan sebagai Siswa Terbaik. Dalam pendidikan pengembangan spesialisasi, dia mengikuti Sussar Para (1968), Susjur Dasar Perwira Intelijen (1972), dan Suspa Binsatlat (1977).


Kegiatan dilingkungan pendidikan kemiliteran digelutinya pada saat menjabat Karoteknik Ditbang Pussenif (1983) dan Kadep Milnik Pussenitf (1984). Selanjutnya, Wiranto berkecimpung di lingkungan Baret Hijau Kostrad. Diawali pada 1985 sebagai Kasbrigif-9 Kostrad, kemudian dia diangkat menjadi Waasops Kas Kostrad pada 1987 dan Asops Kasdivif-2 Kostrad pada 1988.


Perjalanan karier seorang prajurit tidak terlepas dari faktor dedikasi dan kemampuannya. Demikian halnya karier Wiranto kian menanjak tatkala ABRI memberi kepercayaan kepadanya menjadi Ajudan Presiden RI selama 4 tahun (1989-1993). Suatu masa jabatan Ajudan Presiden yang relatif lama.


Memasuki jenjang pangkat perwira tinggi, Wiranto mengawalinya dengan memangku jabatan teritorial sebagai Kasdam Jaya pada tahun 1993 dan setahun kemudian, tepatnya pada 1994, dia dipromosikan menjadi Pangdam Jaya. Jabatannya melejit lebih tinggi pada posisi strategis di organisasi TNI AD, setelah dia menduduki posisi sebagai Pangkostrad pada 1996.


Sekalipun hanya menduduki jabatan Pangkostrad selama 15 bulan, namun memberinya pengalaman yang tergolong jarang dimiliki prajurit lain yakni tatkala dipercaya menjadi Direktur Latihan pada "Latihan Gabungan ABRI 1996", yang dinilai berhasil dengan baik, sehingga mengantarnya ke jabatan strategis sebagai Kepala Staff TNI Angkatan Darat (Kasad) pada 1997. selama 8 bulan.


Pada 16 Pebruari 1998, Wiranto dilantik oleh Presiden RI menjadi Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) RI. Kemudian pada 16 Maret 1998, dia diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata (Menhankam/Pangab) RI hingga 21 Mei 1998, dia dilantik kembali oleh Presiden RI menjadi Menhankam/ Pangab untuk kedua kalinya.


Dengan adanya pemisahan Polri (Kepolisian Negara RI) dari organisasi ABRI pada 1 April 1999 dan sebutan ABRI pun berubah menjadi TNI, sejak itu jabatannya menjadi Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Tentara Nasional Indonesia (Menhankam/Panglima TNI). Setelah SU MPR 1999, dalam Kabinet Presiden Abdurahman Wahid, Wiranto ditunjuk sebagai Menko Polkam. Jabatan ini diembannya hingga Mei 2000 pada saat dia menyatakan mundur dari jabatannya.


Perjalanan kepangkatan Wiranto tergolong berjalan mulus, berturut-turut diawali dengan pangkat letnan dua (1968), letnan satu (1971), kapten (1973), mayor (1979), letkol (1982), dan kolonel (1989). Memasuki tahap kepangkatan Perwira Tinggi diawalinya dengan pangkat Brigjen TNI (1993), Mayjen TNI (1994), Letjen TNI (1996), dan Jenderal TNI (1997). Pada 4 April 1999, walaupun masih berusia 52 tahun, Wiranto memilih pensiun dari dinas aktif (usia pensiun 55 tahun), sebagai konsekuensi dari kebijaksanaannya bahwa setiap prajurit yang bertugas di luar struktur TNI, harus memilih pensiun atau alih status, atau kehilangan jabatan dan kembali ke TNI.


Selain ikut aktif mengaktualisasikan langkah-langkah reformasi internal ABRI, Wiranto juga mendorong beberapa kebijakan cukup menyegarkan untuk merespons tuntutan reformasi di Tanah Air. Dia, misalnya, memprakarsai digelarnya Dialog Nasional, yang terlaksana pada 18 April 1998 di Arena Pekan Raya Jakarta. Saat menjabata Menhankam/Pangab, Wiranto mencabut penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, pada 8 Agustus 1998.


Wiranto juga mendorong upaya perdamain atas konflik Maluku pada Maret 1999 dan mendamaikan kedua pihak yang sudah bertikai lebih dari 23 tahun di Timor-Timur pada April 1999.


Setelah mengkahiri dinas aktifnya di lingkungan TNI, Wiranto tetap terus melanjutkan komitmennya dengan mendirikan lembaga kajian Ide Indonesia (Institute for Democrasy Of Indoneisa) yang diyakininya sebagai jalan kecil untuk ikut mendorong terciptanya kehidupan demokrasi Indonesia.


Bersamaan dengan perkembangan politik di Indonesia, maka untuk tetap bisa mengabdi kepada masyarakat, Wiranto masuk pada Konvensi Partai Golkar dan akhirnya memenangi konvensi Partai Golkar tersebut atas Ketua Umum Partai Golkar Ir. Akbar Tandjung, ia melaju sebagai kandidat presiden pada 2004. Bersama pasangan kandidat wakil presiden Salahuddin Wahid, langkahnya terganjal pada babak pertama karena menempati urutan ketiga dalam pemilihan umum presiden 2004.


Pada tahun 2006, Wiranto mendirikan Partai hati Nurani Rakyat, yang berhasil menjadi salah satu parpol peserta Pemilu legeslatif di tahun 2008, dan meraih peolehan suara sebanyak 3,7%. Pada Pemilu Pemilihan Presiden tahun 2009, beliau berpasangan dengan calon presiden jusuf kalla dari partai Golkar, sebagai calon wakil presiden. Pasangan dengan singkatan JK-Win ini menempati posisi ke-3 dalam perolehan suara dengan jumlah 12,41 persen.


Hasil Musyawarah Nasional I Partai Hanura di bulan Februari 2010, menempatkan Wiranto kembali sebagai Ketua Umum untuk periode 2010-2015.


Mudah-mudahan senyuman wiranto membuat rakyat indonesia juga tersenyum gembira. Selamat berjuang pak wiranto, teruslah berjuang demi rakyat indonesia.


Satu nama untuk indonesia,

Merdeka.

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

scoundrelll

Penulis

jajat sudrajat

low profile

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login