Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

03 September 2014

Wisata Kuliner di Jogja

Wisata Kuliner di Jogja Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta) dan acapkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa, kebenarekaragaman Budaya dan peradaban tanah Jawa menjadi satu refrensi Jogja disebut kota pelajar, ditambah berdirinya Universitas menjadi kebanggaan para pelajar untuk merujuk tamatan sekolah kelak.

 
Bukan hanya itu, daerah yang memiliki system pemerintahan kesultanan ini pun memiliki refrensi Kuliner yang cukup memanjakan lidah kita.  Sebut saja Gudeg mungkin tak asing di telinga kita, tetapi Gudeg sendiri pun ada beragam jenis yang belum kita ketahui, Masakan gudeg ada 2 macam, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah , hanya satu kali dimasak dengan direbus hingga habis airnya, Sedangkan gudeg kering , minimal 2 kali memasak hingga benar-benar kering. Gudeg kering mempunyai daya tahan lebih lama (bisa sampai 4-5 hari) daripada gudeg basah, karena air di dalamnya benar-benar sudah habis. Gudeg biasanya disajikan dengan sayur daun singkong, ayam , telur, dan krecek pedas (dari bahan kulit sapi). Untuk gudeg basah biasanya ditambahkan dengan areh.
 
Bahan baku gudeg juga bervariasi. Umumnya gudeg Jogja dibuat dari bahan baku nangka muda. Bahan baku lain adalah rebung (bambu muda) dan manggar (bunga pohon kelapa). Namun jarang orang membuat gudeg dari dua bahan baku ini, karena sulit didapat. Namun ada warung gudeg yang spesialisasi menjual gudeg dari bahan manggar, yaitu GUDEG BU HENDRO. Warungnya dapat ditemukan di jalan Hayam Wuruk, daerah Lempuyangan pada malam hari. Di pagi hari, tempat menyantap gudeg yang cukup kondang adalah di jalan Wijilan (sebelah timur Kraton), orang sering menyebutnya GUDEG WIJILAN. Di sepanjang jalan ini, setiap pagi berjejer penjual gudeg . Namun di antara banyak penjual gudeg ini, GUDEG YU DJUM yang ramai dikunjungi orang. Selain di Wijilan, Anda dapat mudah menemui penjual gudeg di sudut – sudut jalan kota Jogja.
 
Di utara UGM, tepatnya KAMPUNG BAREK, adalah sentra produsen gudeg. Di sini ada belasan rumah yang memproduksi gudeg dan rata-rata mempunyai tempat berjualan di seantero kota Jogja. Beberapa nama gudeg kondang berasal dari kampung ini, antara GUDEG YU DJUM, GUDEG YU GINUK, GUDEG BU AMAD, dll.
 
Di malam hari, penjual gudeg lebih tersebar. Beberapa daerah penjual gudeg yang terkenal adalah di Tugu – Mangkubumi, sepanjang jalan Solo, seputar jalan Brigjen Katamso. Salah satu penjual gudeg malam hari yang cukup terkenal adalah GUDEG PERMATA atau GUDEG BU PUJO. Disebut gudeg Permata, karena letak warung ini persis di sebelah bioskop Permata. Tempat lain yang cukup kondang adalah GUDEG WIROBRAJAN, GUDEG TUGU.
 
Atau kalau kita bosan dengan Gudeg, ada satu makanan khas Jogja ini dia,     oseng – oseng mercon. Sejenis tumisan yang memadukan tetelan (potongan kecil daging sapi) dan koyoran (lemak daging sapi) dengan potongan cabai rawit dan bumbu-bumbu lainnya. Rasa yang luar biasa pedas akan Anda temui jika menyantap masakan yang satu ini.
 
Akhir-akhir ini, warung yang menjual oseng-oseng mercon memang semakin mudah ditemui di jogja. Namun, oseng-oseng mercon yang pertama dan paling terkenal di Jogja adalah oseng-oseng mercon Bu Narti. Terletak di Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, Lesehan Oseng-Oseng Mercon, begitu warung ini biasa disebut, mencoba memberi warna baru bagi dunia kuliner di Jogja.
 
Uniknya, nama oseng-oseng mercon justru berasal dari pembeli. Menurut penuturan Bu Narti (pemilik lesehan), waktu itu keluarganya kebingungan karena menerima terlalu banyak daging kurban. Muncullah ide untuk memasak daging kurban tersebut dengan potongan cabai. Orang tua Bu Narti, yang waktu itu memiliki warung makan kemudian menjual menu “coba-coba” tersebut.
 
Tak disangka, pembeli justru menyukai menu yang satu ini. Karena rasa pedasnya, pembeli kemudian menamainya oseng-oseng mercon bahkan ada pula yang menyebutnya oseng-oseng bledek (halilintar). Mercon, yang dalam bahasa Indonesia berarti petasan memang sesuai untuk menyebut makanan ini karena rasa pedasnya panas dan membakar, tak ubahnya seperti petasan.
 
Selain oseng-oseng mercon, warung ini juga menawarkan menu-menu yang lain seperti iso-babat goreng, ayam goreng, lele bakar dll. Lesehan dengan kain penutup berwarna hijau ini memang hanya berupa lesehan sederhana. Bahkan mungkin lebih wah lesehan-lesehan di Malioboro. Tapi soal menu, jangan berpikir dua kali untuk menikamtinya. Resep yang digunakan Bu Narti sebenarnya tak ada yang istimewa. Hanya saja, lesehan ini tidak menggunakan kompor melainkan anglo, sehingga dagingnya menjadi lebih empuk dan kenyal. Bu Narti juga tak pernah menggunakan kecap. Dia hanya menggunakan gula merah untuk membumbui oseng-osengnya. Mungkin itu yang membuat oseng-oseng merconnya berbeda dengan oseng-oseng mercon yang lain.
 
Makanan yang satu ini tak hanya unik karena mencoba mendobrak mitos lama bahwa Jogja hanya mengenal makanan manis tetapi juga karena dia mampu membakar nafsu makan Anda. Dengan hanya Rp. 9.000 per porsinya, Anda sudah bisa menikmati sedikit “pedas”nya Jogja.
Untuk Anda yang tidak terlalu menyukai masakan pedas atau takut maag Anda kambuh jika mencoba makanan ini, ada beberapa trik yang bisa Anda gunakan. Biasanya, seporsi oseng-oseng mercon disajikan dengan nasi pulen (lembut) hangat dalam piring terpisah. Lengkap dengan lalapan di piring yang lain. Anda bisa memakannya dengan menuangkan oseng-oseng mercon langsung ke dalam piring nasi Anda, tapi itu akan membuat oseng-oseng mercon tesrebut terasa sangat pedas di lidah.
 
Atau, Anda bisa menyiasatinya dengan mengambil sedikit demi sedikit oseng-oseng mercon, kemudian memakannya dengan nasi sesendok demi sesendok. Sehingga kuahnya tidak terlalu bercampur dan dapat mengurangi rasa pedas. Asal jangan terlalu lama saja, karena oseng-oseng mercon tersebut banyak mengandung lemak sehingga akan menjadi kental dan tidak enak dilihat jika tidak cepat-cepat dimakan.Lain kali jika Anda pergi ke Jogja, jangan lupa menyempatkan diri mampir di lesehan yang satu ini. Tak perlu keluar biaya mahal untuk bisa menkmati sepiring oseng-oseng mercon yang menggugah selera. Mungkin bisa memberikan sensasi baru bagi lidah Anda. Atau sedikit mengubah pandangan Anda terhadap masakan Jogja. Lagipula Jogja tak hanya punya gudeg, kan?

  • Ceritamu.com tidak bertanggung jawab atas isi cerita yang dikirim penulis
  • Ceritamu hanya sebagai media untuk menuliskan cerita dan opini penulis tanpa ada hubungan apapun dengan penulis
0 Komentar Laporkan Cerita Yuk Ikutan Kirim Cerita Kamu

Baca cerita lainnya...

Penulis

Albana

Komentar

(0 Komentar) Yuk jadi yang pertama Komentar disini
Post Into Facebook Wall
login