Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

24 April 2014

Tsunami Aceh 26 Desember 2004

Galeri

Lihat Semua
0

Rating Pengguna

0 Votes

1 2 3 4 5

Review

(0 Review)
Tulis Review

Cerita

Lihat Semua
Gempa & Tsunami Aceh hasil Uji Coba HAARP?

Gempa & Tsunami Aceh hasil Uji Coba HAARP?

Sebagian besar orang menganggap Tsunami Aceh adalah bencana alam murni, sebagian kecil lainnya melihat “out of the box” bahwa tsunami adalah hasil rekayasa senjata thermonuklir Amerika yang diujicobakan. Salah satu dari mereka, M.Dzikron AM, dosen Fak Teknik Unisba menjelaskan hipotesa tBaca Selengkapnya ..

sunting

Udara pagi yang dingin khas banda aceh mulai terusik dengan sengatan matahari pagi. Semua berjalan sebagaimana biasanya sampai pada akhirnya dunia berhenti pada Minggu pagi 26 Desember 2004 di bumi serambi mekah. Bumi berguncang hebat dengan kekuatan 9,2 SR membuat air laut sampai tumpah ke daratan.

Gempa bumi dahsyat selama kurang lebih 10 menit itu pun akhirnya reda. Kepanikan yang melanda tercatat paling lama dalam sejarah kegempaan bumi, yaitu sekitar 500-600 detik (sekitar 10 menit). Beberapa pakar gempa menganalogikan kekuatan gempa saat itu mampu membuat seluruh bola Bumi bergetar dan juga memicu beberapa gempa bumi di berbagai belahan dunia lainnya.

Saat masih terdengar suara asma Allah di mulut setiap insannya, masih ada kepanikan luar biasa, mereka bertambah panik dan juga ketakutan saat berusaha menyelamatkan diri sambil berlari dari kejaran ombak tsunami setinggi 9 meter. Namun air datang lebih cepat, airnya berwarna hitam, pekat seperti air parit, bau belerang merebak, dan yang paling anehya, suhu airnya panas, mendidih terasa membakar kulit. Saat air bah mengalir hampir satu menit sekali gempa susulan masih mengayun dengan skala yang berbeda-beda.

Bencana alam tersebut tercatat telah menewaskan lebih dari 230.000 jiwa (belum termasuk jumlah orang hilang). Peristiwa tersebut juga tercatat sebagai peristiwa tsunami terbesar sepanjang sejarah, selain akibat luasnya dampak kerusakan juga karena banyaknya korban jiwa akibat terjangan tsunami. Berbagai wilayah pantai Indonesia, Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand sempat terkena ombak tsunami.

Jam 9 pagi di hari yang sama di Jakarta sedang berlangsung acara halal bihalal warga Aceh di Senayan. Suasana mulai tegang sejak dibuka karena berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari.

Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla(saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden) berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Kalla saat itu memang akan menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden SBY yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua, untuk menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya. Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.”

Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi. Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla pun mulai cemas.

Sampai lokasi halal bihalal warga Aceh, Kalla berpidato sebentar langsung turun panggung untuk menggelar rapat mendadak di situ. Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Kalla. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya.

Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami. Pada pukul enam sore pesawat tiba setelah sebelumnya sempat berputar dua kali di langit Banda Aceh yang terlihat hancur total.

Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.

Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.

Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.

Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.

Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka!Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.

Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali. 

Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.

Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.

+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.
- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.
+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”
- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”
+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”
- “Bungkus saja pakai plastik.”
+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.
- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.

Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.. Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia. Berbagai bantuan dari masyarakat internasional terus mengalir. Bahkan tidak sedikit negara yang tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk materi namun juga mengirimkan tenaga sukarelanya untuk turun berperan dalam proses rekonstruksi. Tidak sedikit pemberitaan tentang 'disunatnya' bantuan - bantuan dari luar negeri, namun paling tidak masyarakat Aceh saat ini telah bisa menata kehidupan mereka kembali.

Referensi:

Majalah Tempo, Edisi Khusus Akhir Tahun, 26 Desember 2005, halaman 32 dan berbagai sumber lainnya

  • ()
Penyebab Tsunami
Film Terkait Tsunami
  • sunting

    Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Sebagian besar orang menganggap Tsunami Aceh adalah bencana alam murni, sebagian kecil lainnya melihat "out of the box" bahwa tsunami adalah hasil rekayasa senjata thermonuklir Amerika yang diujicobakan. 

  • sunting

    Tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam memang merupakan salah satu bencana alam terdashyat sepanjang masa dan merenggut ribuan nyawa. Namun, di tengah malapetaka tersebut ada sejumlah keluarga yang masih bisa merasakan mukjizat. Tidak hanya selamat dari terpaan ombak yang hebat, mereka masih bisa bertemu kembali dengan semua anggota keluarganya meskipun dalam kondisi cedera parah. Salah satu keluarga tersebut adalah Alvarez Belon yang kisahnya diangkat ke layar lebar melalui film The Impossible.

    Depresi, takut, dan sedih menjadi deretan emosi yang dirasakan selama menonton film ini. Jadi, perlu diingat bahwa film ini bukan merupakan pilihan hiburan yang tepat. Film ini justru membuat penonton menyadari kengerian sebuah bencana alam dan kegigihan seseorang untuk bertahan hidup untuk bertemu kembali dengan orang yang mereka sayangi. Solidaritas dan keinginan untuk saling membantu di antara korban pun menjadi hiasan yang mengharukan, sekaligus melegakan.

    Ada juga sebuah novel karangan Tere Liye yang diberi judul Hafalan Shalat Delisa. Sebuah karya novel yang berlatar belakang bencana tsunami Aceh pada 20014 lalu ini juga diangkat ke layar lebar. Dengan tokoh utama Delisa, seorang gadis kecil berusia enam tahun, novel ini menceritakan kisah tentang kanak-kanak, kisah tentang proses memahami, dan kisah tentang keikhlasan.

Laporkan Cerita