Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

18 September 2014

Gending Sriwijaya

Galeri

Lihat Semua
0

Rating Pengguna

0 Votes

1 2 3 4 5

Review

(0 Review)
Tulis Review

Cerita

Lihat Semua
Bebas dari Penjara, Inilah Impian Julia Perez

Bebas dari Penjara, Inilah Impian Julia Perez

Criters aktris seksi Julia Perez akhirnya dapat menghirup udara segar setelah beberapa bulan mendekam di Rutan Pondok Bambu karena kasus cakar-cakaran dengan pedangdut Dewi Persik pada, Senin (17/6/2013) lalu. Terlepas dari penjara banyak hal yang ingin ia lakukan, terutama dalam karirnya yang sempBaca Selengkapnya ..

Julia Perez Makin Bijak Selama Ditahanan

Julia Perez Makin Bijak Selama Ditahanan

Julia Perez membuat kagum teman-teman maupun keluarganya yang datang menjenguk. Jupe kini mendekam di Rutan Pondok Bambu untuk menjalani hukumannya terkait kasus cakar-cakaran bersama Dewi Perssik tahun 2011 lalu. Teman-teman Jupe bercerita kalau bintang film Gending Sriwijaya ini jadi lebih bBaca Selengkapnya ..

Thriller VS Horror Di Box Office Lokal, Siapa Pemenangnya?

Thriller VS Horror Di Box Office Lokal, Siapa Pemenangnya?

Di minggu ketiga bulan Maret ini, box office lokal didominasi oleh persaingan ketat film “Belenggu” dan “Jeritan Danau Terlarang”. Kedua film ini datang dari genre yang berbeda, thriller dan horor. Meski sebagian orang masih memandang negatif film-film produksi KK Dheeraj, teBaca Selengkapnya ..

sunting

Gending Sriwijaya merupakan film kedua yang di produksi oleh pemerintah provinsi Sumatra Selatan bersama Putaar setelah sukses dengan Pengejar Angin ditahun 2011. Mereka pun masih memberikan kepercayaan kepada Hanung Bramantyo selaku sutradara.

Hanung menerima tawaran ini karena ketertarikannya terhadap budaya Palembang. Hanung pun melibatkan aktor teater daerah, pendekar daerah asli Sumatra untuk memperkuat cerita.

"Saya akan melibatkan taman-taman budaya, menggalang seniman, aktor teater daerah, kesenian daerah dan pendekar daerah. Film ini akan jadi film nasional, akan jadi film laga dengan banyak pendekar yang dilibatkan," jelas Hanung Bramantyo.

Menceritakan sebuah kerajaan kecil di abad ke 16 setelah keruntuhan Sriwijaya, Kedatuan Bukit Jerai yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Jaya nasa dengan permaisurinya Ratu Kalimanyang. Mereka memiliki dua putera, Awang Kencana dan Purnama Kelana. Dapunta Hyang sudah memasuki usia tua dan saatnya untuk menyerahkan kepemimpinannya kepada putera mahkota Awang Kencana. Namun diluar adat kebiasaan, Dapunta justru memilih Purnama Kelana sebagai penggantinya. Terjadilah pertarungan antara 2 saudara sebagai Raja Kedatuan Bukit Jerai. 

Pemain
Kru
Sinopsis
Info Tambahan
  • sunting

    Sahrul Gunawan sebagai Purnama Kelana

    Agus Kuncoro sebagai Awang Kencana
    Julia Perez sebagai Malini
    Mathias Muchus sebagai Ki Goblek
    Hafsary T. Dinoto sebagai Dang Wangi
    Slamet Rahardjo sebagai Dapuntahyang Mahawangsa
    Jajang C. Noer sebagai Ratu Kalimayang
    T. Rifnu Wikana sebagai Srudija
    Qausar H. Yudana sebagai Taru Hitam
    Goeteng sebagai Bayan Kabut

  • sunting

    Sutradara Hanung Bramantyo
    Produser Dhoni Ramadhan
    Penata skrip Hanung Bramantyo
    Casting Director Zaskia Adya Mecca
    Co-Director Sugeng Wahyudi
    Produser Eksekutif Alex Noerdin
    Produser Eksekutif Yusri Effendy
    Produser Dian Permata Purnamasari
    Produser Pietra M. Paloh
    Line Producer Irene Camelyn Sinaga
    Line Producer Ajish Dibyo
    Line Producer Muhammaad Fariz
    Post Production Mgr. Andi P Manoppo
    Penata Kamera Ipung Rachmat Syaiful
    Fotografi Koko Jatmiko
    Penata Busana & Rias Retno Ratih Damayanti
    Penata Artistik Budi Riyanto
    Penata Suara Satrio Budiono
    Penata musik G Djaduk Ferianto
    Editor / Penata Gambar Cesa David L
    Editor / Penata Gambar Ryan Purwoko

  • sunting

    Di usia tuanya, Dapunta Hyang Jayanasa (Slamet Raharjo), raja Kedatuan Bukit Jerai itu, dirundung gelisah. Ia tidak bisa menyerahkan tahta kerajaannya tersebut, kepada putra mahkota Awang Kencana (Agus Kuncoro), yang tidak lain adalah anak tertuanya.

    Dapunta beralasan Awang Kencana tidak pantas naik tahta. Untuk itu, ia melanggar adat atau kebiasaan yang sudah berjalan turun-temurun dengan mengangkat putra keduanya, Purnama Kelana (Syahrul Gunawan), sebagai raja. "Adat tidak selamanya menjawab kebutuhan," ucap Dapunta.

    Purnama memang dinilai Dapunta jauh lebih pantas menjadi seorang raja ketimbang kakaknya. Sebab, dia memiliki wawasan luas karena pernah mengecap pendidikan nun jauh di negeri China. Orangnya bijaksana dan mengerti betul apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan kerajaan seperti di era Sriwijaya. Dia punya gagasan mengembangkan kerajaan lewat pendidikan dan perdagangan.

    Sementara, Awang Kencana tidak demikian. Dia orangnya angkuh dan selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Ia kecewa dengan keputusan ayahnya yang ingin mengangkat adiknya sebagai raja. Ia tidak terima.

    Sang permaisuri, Ratu Kalimayang (Jajang C Noer) mencium gelagat tak sedap. Ia merasa kerajaan yang dipimpin suaminya, Dapunta diambang kehancuran. Sampai akhirnya, apa yang diduganya itu, kejadian.

    Dapunta tewas dalam peristiwa pembunuhan. Putra keduanya, Purnama, kemudian jadi tersangka satu-satunya. Sebab, di dekat mayat Dapunta ada kalung milik Purnama.

    Purnama sedih sekaligus marah. Ia merasa tidak melakukan pembunuhan terhadap ayahnya. Ya, peristiwa itu adalah siasat kakaknya karena kecewa terhadap keputusan sang ayah.

    Permaisuri yang otomatis memimpin kerajaan pascakematian Dapunta, kemudian memerintahkan untuk menjebloskan Purnama ke penjara. Hukuman mati telah disiapkan. Sebagai ibu keputusan tersebut sangat berat.

    Tabib kerajaan dan seorang sahabatnya kemudian menyelamatkan Purnama. Sebab, mereka tahu Purnama tidak melakukan pembunuhan terhadap raja. Namun, upaya itu ketahuan oleh Awang. Prajurit yang dipimpin Awang berusaha menggagalkannya. Mereka mengejar Purnama sampai ke hutan.

    Purnama terdesak. Ia jatuh pingsan dengan punggung terpanah. Prajurit kerajaan terus mengejarnya. Namun, mereka gagal dan mengira Purnama sudah tewas.
    Beberapa waktu berselang, Awang dinobatkan menjadi raja. Ia memerintah dan membasmi kelompok perampok yang dipimpin oleh Ki Goblek (Mathian Muchus). Ki Goblek adalah musuh paling dibenci oleh Awang karena telah membuat mata sebelah kanannya buta.

    Di sisi lain, Purnama diselamatkan oleh Malini (Julia Perez), seorang wanita yang menjadi anggota komplotan perampok pimpinan Ki Goblek. Belakangan, markas persembunyian Ki Goblek ketahuan. Ada penghianat di antara mereka. Para prajurit kerajaan yang dipimpin Awang menyergap mereka.

    Ki Goblek tewas. Puluhan anggota komplotan yang dipimpinnya juga ikut dihabisi dengan senjata canggih, yang diimpor dari negeri China. Malini dan Purnama yang selamat dari penyergapan itu, kemudian mengatur siasat untuk melakukan serangan balasan terhadap sang kakak, Awang.

    Siasat serangan itu merupakan kesempatan Purnama untuk membuktikan dirinya tidak bersalah sekaligus merebut tahta kerajaan dari kakaknya. Berhasilkan ia melakukannya?

  • sunting

    Julia Perez yang berperan sebagai Malin sempat mengaku kaget mendapat tawaran main film arahan Hanung, "Ini kali pertama gue main film bagus. Jujur gue kaget banget pas ditawarin main film drama kolosal sama mas Hanung Bramantyo," cerita Jupe saat ditemui ceritamu usai jumpa pers film Gending Sriwijaya di Cinema XXI, FX, Jakarta Selatan

    Kabarnya Jupe sudah tidak mau lagi main film bergenre horor esek-esek setelah mendapat kesempatan main di film Gending Sriwijaya ini. 

Laporkan Cerita