Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

25 Oktober 2014

Arifin Panigoro

2

Rating Pengguna

1 Votes

1 2 3 4 5

Review

(1 Review)
Tulis Review

Cerita

Lihat Semua
Java Jazz Festival, Arifin Panigoro Terima Award

Java Jazz Festival, Arifin Panigoro Terima Award

Java Jazz Festival hari ini (01/03) resmi dibuka. Festival music Internasional tersebut akan digelar tiga hari pada 1-3 Maret 2013 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Festival musik tahunan ini akan menampilkan sekitar 1500 musisi internasional dan Indonesia di 17 panggung. Pada malam tadi (28/02) Arifin Baca Selengkapnya ..

Cara Roy Suryo Bereskan Kisruh PSSI : Temui Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie, Jalankan MoU Damai

sunting

Biografi

Jusuf Panigoro merupakan sosok penting yang memperkenalkan dunia bisnis pertama kali pada diri Arifin Panigoro. Sejak duduk di bangku sekolah, Arifin sudah dilibatkan oleh sang ayah, Jusuf Panigoro, dalam mengelola toko di jalan Braga, Bandung, sebagai kasir dan bendahara. Tak heran bila jiwa wirausaha, intuisi dan nyali bisnisnya sudah terasah secara alami hingga dirinya tidak canggung saat memulai usaha bersama kawan-kawan sesama insinyur jebolan ITB. Saat itulah bisnis seakan sudah mendarah daging, bahkan terus berkembang di tangan Arifin hingga sekarang.

Ketika alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya, ia tidak langsung menjadi bos di Meta Epsi Drilling Company (Medco). Sebelum tahun 1980-an, awalnya Arifin hanya sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Selanjutnya ia memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Seiring perkembangan zaman, usahanya pun mulai menujukkan kemajuan yang signifikan. Jika dulu pengusaha asing yang selalu menang tender, namun kini perusahaannya lah yang menanganinya.

Tahun 1981, Arifin Panigoro memberanikan diri untuk menggarap proyek pipanisasi yang berdiameter besar. Untuk pekerjaan itu, ia bekerjasama dengan perusahaan asing. Selain menggandeng mitra asing, dukungan dari pemerintah ikut berperan dalam kelancaran usahanya itu. Dengan usaha, kerja keras dan dedikasi yang begitu tinggi, setelah merintis usaha tahun 80-an, akhirnya Medco mulai menujukkan kejayaannya di tahun 1990. Keberhasilan Medco dibuktikan dengan membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, seharga 13 juta dolar AS. Tidak hanya itu, beberapa ladang sumur lainnya pun telah dikuasai olehnya.

Tidak hanya sukses dalam bidang usaha saja, Arifin juga memiliki keluarga yang bahagia. Suami dari Raisis A Panigoro berhasil membangun keluarga yang harmonis. Anak-anaknya kini sudah dewasa, bahkan yang tertua Maera Hanafiah telah dikaruniai dua anak. Adapun yang bungsu Yaser Raimi juga sudah menamatkan MBA dari Loyola Marymount University. 

Arifin Panigoro tidak pernah memaksakan anak-anak untuk meneruskan usaha orang tuanya. Jika kapasitasnya sudah dipenuhi, silakan saja kalau mau meneruskan. Dirinya mengaku tidak takut jika perusahaannya dipegang oleh orang lain, toh semua aset, cadangan tidak ke mana-mana. Meskipun kini sudah menjadi "raja minyak", Arifin Panigoro memegang prinsif: kaya itu relatif. 

Dia mengaku tak pernah menghitung, apakah dirinya kaya atau tidak, sebab semua hidup yang dijalani terus menggelinding. Baginya, disebut kaya itu relatif, kalau di Indonesia, seperti dirinya memang sudah menonjol. Sebagai orang yang beberapa kali dicekal untuk bepergian ke luar negeri, ia pun bertanya untuk apa kekayaan itu.

Sebagai orang yang romantis, ia mengaku merasa benar-benar kaya, kalau berada dalam satu konser musik yang benar-benar disukai. Seperti saat ini, setelah bisa menikmati alunan gamelan Jawa, maka setiap mendengar musik Jawa itu sebelum tidur, dia merasa kaya. Jadi, baginya kaya cukup sederhana, bukan harta melimpah atau kekuasaan. Arifin juga sadar, suatu saat akan pensiun sebagai orang perminyakan. Namun, tidak berarti ia akan berdiam diri. Ia merencanakan untuk memfokuskan ke Medco yang lain yaitu di bidang agrobisnis. Ya, bisnis pertanian akan menjadi tujuan Arifin berikutnya.



(inspired by: tokohindonesia.com) Baca Selengkapnya ..

Info Tambahan
Anggota Keluarga
  • sunting

    Meski suskes di bidang pembisnis, ternyata Arifin Panigoro tergiur dengan politik. Dunia politik yang sering dibilang sebagai dunia kelam, ternyata tak membuatnya takut atau pun gentar dalam menghadapinya. Tahun 1997 di Yogyakarta, ia menggelar pertemuan dengan beberapa elit politikus. Namun pertemuan itu menimbulkan efek yang luar biasa, karena ia dituduh berupaya menggagalkan sidang umum MPR yang ketika itu akan mengesahkan Soeharto menjadi presiden RI ketujuh kalinya.

    Keadaan itu semakin memanas, ditandai dengan aksi demo besar-besaran dari mahasiswa yang meminta agar presiden Soeharto segera lengser dari kursi kepresidenan. Bahkan Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di gedung DPR. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa dia lah dibelakang aksi atau cukong mahasiswa.

    Cobaan terhadap langkahnya di dunia politik terus berlanjut. Di era presiden Habibie, ia kembali dijerat dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatnnya dengan gerakan mahasiswa. Bahkan pada saat pemerintahan Megawati Soekarno Putri, Arifin Panigoro kembali dicoba untuk dijerat lewat perkara di Kejaksaan.

    Perkenalan lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika parpol-parpol bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Soeharto dari kursi presiden. Pada awalnya Arifin Panigoro menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh yang sudah lama dikenal maupun yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru diluncurkan, ia sering menghadirinya. Namun akhirnya pilihannya jatuh ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Bersama partai berlambang banteng inilah ia melenggang ke senayan.

    Karirnya di politik terus melejit, ia pernah duduk di jajaran DPP PDIP. Selain itu, Arifin juga pernah memimpin lintas fraksi dan menjadi ketua fraksi di DPR. Namun, dunia politik memang seperti cuaca yang cepat berubah. Loyalitasnya terhadap PDIP pun terus berkurang dan mulai memihak kepada lawan politiknya bernaung. Ia yang dulu dianggap sebagai inspirator pembangunan jalan ulus bagi Megawati menuju kursi presiden, kini dianggap sebagai anak yang nakal. Bahkan muncul isu dirinya akan dipecat dari keanggotaan PDIP.

    Meskipun siap untuk dikeluarkan, namun mengenai masa depan politiknya masih belum jelas dan dirinya pun belum memutuskan kemana ia akan berlabuh selanjutnya. Arifin menganggap dirinya sebagai seorang oportunis yang iseng-iseng. Atau ia hanya ingin ada lima tahun periode yang lain, tidak hanya menjadi seorang pengusaha. Jika benar-benar mundur dari politik, kemungkinan ia akan relaksasi dan bermain golf di Paris atau mencari sekolah khusus untuk mereka yang sudah berumur di kota yang mempunyai makanan yang enak-enak.

    Selain berpolitik, Arifin Panigoro juga terjun ke dunia pesepakbolaan Indonesia. Dia adalah pendiri dari Liga Premier Indonesia (LPI) yang beberapa waktu lalu diributkan karena tidak memiliki izin dari FIFA. Hal ini pun diduga menjadi kendala bagi Arifin untuk mengajukan diri menjadi ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Padahal ketika itu, ia mendapatkan dukungan 12 pengurus provinsi PSSI. Tidak hanya itu, di tingkat komisi banding, Panigoro dan wakilnya George Toisutta kembali gagal. Meski begitu, keduanya tetap mendapatkan dukungan.

    Kisruh PSSI pun semakin memanas hingga terbentuklah beberapa komite untuk menyelesaikan hal ini. Namun semua itu tidak berhasil, sehingga FIFA akhirnya membentuk Komite Normalisasi yang diketuai oleh Agum Gumelar. Selain Arifin dan Toisutta, dua calon lainnya juga mengalami hal yang sama mereka adalah Nirwan Bakrie dan Nurdin Halid. Komite Normalisasi pun akhirnya terbang ke Swiss untuk menanyakan lagi soal pencalonan keempatnya, tapi hasilnya semua calon ditolak oleh FIFA.

    Nurdin Halid jelas terganjal statuta karena pernah terkena kasus hukum. Sedangkan Arifin ditolak karena terkait keterlibatan dalam LPI. FIFA tidak mengizinkan penyelenggara gila di luar naungan otoritas PSSI. Namun sayangnya dua nama lainnya tidak dijelaskan poin statuta mana yang digunakan untuk menggugurkannya. Karena hal itu lah, banyak pihak meminta kepada Arifin dan Toisutta untuk legowo dan berbesar hati mundur dari kancah penclaonan ketua umum PSSI. Dan akhirnya Arifin Panigoro pun mundur.

    (sumber : beritajatim.com / tokohindonesia.com)

  • sunting

    Ayah : Jusuf Panigoro

    Istri : Raisis A Panigoro

    Anak :

    • Maera Hanafiah
    • Yaser Raimi

Review

Lihat Semua
(1 Review)
  1. Mustopa Ditulis pada tanggal 03 Desember 2012 12:30

    semoga anda bisa mewakili keinginan rakyat, bung terutama tentang sepak bola indonesia

    1 orang setuju review ini dan 0 orang tidak setuju

Laporkan Cerita