Dapatkan berbagai hadiah langsung dengan mengirimkan komentar dan Ceritamu! Ayo cek di sini!

23 September 2014

Taufik Hidayat

Galeri

Lihat Semua
2.5

Rating Pengguna

10 Votes

1 2 3 4 5

Review

(13 Review)
Tulis Review

sunting

Biografi

Taufik Hidayat lahir di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1981, putra pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini, mulai berlatih olahraga bulutangkis pada usia 7 tahun. Taufik kecil bersekolah di SD pangalengan I, lalu dia melanjutkan bersekolah di SMP Pasundan I, dan setahun kemudian dia pindah ke SMP Taman Siswa Bandung. Pertama kali dia meraih gelar juara pada Kejuaraan Piala Aqua di Solo. Dia dapat menjadi atlet profesional seperti sekarang karena displin tinggi yang diterapkan orangtuanya sejak kecil.

Saat umur 13 tahun dia mulai meraih gelar juara untuk pertama kalinya, yakni di kejuaraan Aqua Master. Di tahun 1996 dia menjadi yang terbaik pada Kejuaraan Piala Suryanaga di Surabaya. Lalu di bulan November, dia direkrut masuk Pelatnas Cipayung dan ditangani oleh pelatih Mulyo Handoyono.

Tahun-tahun pertama di Cipayung, dia merasa tidak nyaman karena sering diplonco seniornya. Cara penanganan Mulyo terhadap Taufik begitu tepat karena di tengah lapangan Mulyo adalah pelatih dan di luar dia bisa bertindak seperti orangtua sekaligus sahabat karib. Gelar pertama yang diraih sesudah masuk Pelatnas adalah Kampiun di Kejuaraan Asia Junior tahun 1997, dia juga memenangkan turnamen Jerman Terbuka Junior.

Taufik sukses memetik gelar pertamanya di kancah seri Grand Prix IBF setelah menjuarai turnamen Brunei Darussalam Terbuka. Di tahun 1999 dia memenangi gelar Indonesia Terbuka. Di tahun 2002, gelar Taiwan Terbuka, Asian Games XIV, dan Indonesia Terbuka berhasil diraih.

Di tahun 2000, pencapaian yang diukirnya makin banyak yaitu memenangkan Indonesia Terbuka, Malaysia Terbuka, dan Kejuaraan Asia JVC. Kisah sukses berlanjut di tahun 2002, sukses itu pun terasa manis karena karena setelah memenangi Kejuaraan Indonesia Terbuka, selang bulan Taufik langsung meraih emas Asian Games XIV. Turnamen Indonesia Terbuka ternyata memiliki daya tarik tersendiri untuknya karena dia memilki ambisi besar untuk mengejar rekor Ardy B. Wiranata yang telah enam kali menjadi juara.

Tahun 2000 merupakan debut Taufik dalam Kejuaraan Piala Thomas, dia merupakan pemain paling muda yang berusia 19 tahun. Taufik menampilkan permainan yang begitu cemerlang dan sempurna, sehingga mengundang decak kagum. Meskipun menjadi penentu kemenangan, Taufik tidak mau di sebut sebagai pahlawan karena menurutnya kemenangan ini diraih karena kekompakan dan kebersamaan seluruh pemain, pelatih, dan ofisial.

Taufik juga tidak luput dari cerita pahit karena kalah dan tersingkir merupakan kosa kata yang akrab dalam dirinya. Dalam usia 17 tahun, dia sukses masuk final turnamen bergengsi All England. Meskipun gagal meraih juara, penampilan Taufik yang dingin, tenang, dan nyaris tanpa ekspresi mengundang decak kagum. Dia pemain termuda sepanjang sejarah 100 tahun penyelenggaraan All England yang mampu bertanding di partai puncak.

Dua kali taufik masuk final namun tetap mengalami kegagalan meraih gelar All England, dia sangat menyesali kegagalan ini akibat dari mentalnya belum stabil dan tegang menjalani tugas yang sedemikian berat. Dari kegagalan itu dia bertekat harus belajar membenahi mentalnya. Taufik yang ketika itu sebagai pemain yang menduduki peringkat pertama IBF yang diharapkan berjaya justru main buruk, sehingga harus mengalami kegagalan di Olimpiade Sydney 2000.

Bolehlah pemain berusaha, namun terkadang takdir menetukan lain, hal ini dialami Taufik ketika berlaga pada Kejuaraan Dunia 2001 di Spanyol. Dia mengalami cidera hamstring paha kanan yang mengakibatkan dia terpaksa untuk tidak meneruskan pertandingan dan memberikan kemenangan bagi lawannya. Dia keluar lapangan dengan air matanya yang terus berderai karena gagal menjadi juara, padahal dia ingin mempersembahkan kemenangan tersebut kepada sang pelatih, Mulyo Handoyo yang kontraknya akan habis.

Dikalangan bulutangkis nasional, Taufik memang terkenal kritis, berani, dan lantang bicara apa adanya, bahkan cenderung emosional. Ketua Umum PB PBSI, Subagyo Hadisiswoyo pernah dikritik di muka umum oleh Taufik, pernyataan Taufik tersebut membuatnya di jatuhi skorsing, sehingga tidak dikirim ke pertandingan Korea Terbuka dan Final Grand Prix di Brunei Darussalam 2001 oleh PBSI. Mengenai kasus tersebut, dia menyatakan kepada pers akan intropeksi diri dan tidak akan surut untuk megkritik hal-hal yang salah di pelatnas.

Taufik memutuskan untuk mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung pada bulan Oktober 2001, sebulan berikutnya Taufik memutuskan untuk memperkuat Singapura. Taufik kembali ke pelatnas atas kesepakatan dengan pihak PBSI di Jakarta, Senin 11 Maret 2002 untuk persiapan ke Piala Thomas dan diikutkan dalam pertandingan Korea Terbuka dan Jepang Terbuka.

Gosip dan kedekatan dengan sejumlah wanita rupanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Taufik, dia dianugrahi wajah tampan, prestasi yang baik, dan memiliki banyak kenalan gadis-gadis. Kini setelah sukses, Taufik kerap berganti-ganti mobil mewah, mendirikan perusahaan kontraktor bersama rekannya, memilki rumah mewah, dua tanah yang cukup luas, dapat membiayai ibadah haji kedua orangtua, dan membantu biaya pendidikan sang adik. Kunci sukses Taufik adalah latihan keras untuk menjadi juara, sehingga uang banyak dan materi berlimpah tidak mustahil bisa diperoleh.

Ia menikahi Ami Gumelar, putri Agum Gumelar dan Linda Amalia Sari. Mereka telah dikaruniai seorang putri pada tanggal 3 Agustus 2007, yang kemudian diberi nama Natarina Alika Hidayat. Kelahiran putrinya ini tepat beberapa hari sebelum ia berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengikuti Kejuaraan Dunia. Kemudian mereka telah dikaruniai seorang putra pada tanggal 11 Juni 2010, yang kemudian diberi nama Nayutama Prawira Hidayat.

Dia juga senang dengan kehidupan malam, dugem bukanlah suatu hal yang asing baginya namun sebagai atlet profesional, dia cukup dewasa dalam menentukan sikap dan bertanggungjawab atas profesinya. Taufik memiliki hobi bermain sepakbola dan biliar, dengan hobinya tersebut dia memperoleh manfaat besar. Menyalurkan hobi baginya merupakan sarana membuang jenuh, memperluas pergaulan, dan menambah wawasan. Taufik memiliki kepribadian yang sangat luwes, memilki karisma, easy going, dan loyal terhadap teman-temannya. Taufik berharap Bangsa Indonesia dapat lebih menghargai seorang atlet profesional sebagai aset bangsa ini yang memilki nilai tinggi. Baca Selengkapnya ..

Info Tambahan
Penghargaan
Profil Ranking
  • sunting

    Dalam konferensi pers yang dilakukan di kediaman sang ayah mertua, Agum Gumelar, di kawasan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (15/8) kemarin, Taufik Hidayat memang sempat mengumumkan terkait pengunduran dirinya sebagai pebulutangkis. Akan tetapi, nyatanya ia langsung buru-buru meralat melalui akun twitter pribadi miliknya @taufikhidayat_1. Hal ini ia lakukan setelah ia melihat adanya kesalahan penafsiran yang dilakukan oleh sejumlah media.

    Memang tak sedikit yang menganggap bahwa usai mengumumkan pensiun, dirinya akan langsung berhenti dari dunia bulutangkis. Padahal maksudnya yaitu ia masih akan aktif bermain sebagai pebulutangkis profesional hingga tahun 2013 dimana pada Indonesia Open 2013 ia canangkan sebagai turnamen terakhirnya sebagai atlet.

    "Saya belum gantung raket, masih ada 10 turnamen terakhir. Resmi gantung raket setelah Indonesia open 2013," tulisnya dalam akun twitter pribadinya tersebut.

    Setelah pensiun nanti, dirinya mengaku akan mencoba fokus untuk membina atlet-atlet muda berbakat di tempat pelatihan yang ia dirikan di Ciracas, Taufik Hidayat Arena. Tempat pelatihan itu rencananya akan mulai efektif setelah Lebaran nanti. Tujuannya mendirikan tempat pelatihan itu tak lain demi untuk mencari bibit-bibit muda baru berbakat. Nantinya, ia juga akan mempersiapkan 20% dari daya tampung tempatnya untuk dikhususkan bagi atlet yang kurang mampu.

    "Siapapun boleh berlatih di sana. Yang punya talenta justru akan saya bantu. Saya akan menyisakan 20% untuk atlet-atlet yang kurang mampu. Saya akan biayai, mulai dari biaya hidup, makan dan juga biaya sekolah," jelasnya.

    Taufik juga berencana akan menyerahkan tongkat estafet kepada para pemain muda. Ia menyebutkan bahwa ada tiga nama yang ia nilai berpotensi untuk menjadi penerusnya kelak, antara lain yaitu Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan Dionysius Hayom Rumbaka.

    "Saya tentunya bangga jika ada yang menggantikan saya setelah mundur nanti. Ada Simon Santoso yang bisa lebih baik dari segi peringkat dan kualitas. Selain itu ada Sony (Dwi Kuncoro) dan juga Hayom Rumbaka. Saya harap Sony dan Hayom bisa lebih baik lagi," harapnya.

    Taufik sendiri saat ini masih menempati posisi 13 di peringkat BWF per 9 Agustus 2012 lalu. Sedangkan Simon Santoso menjadi pebulutangkis putra Indonesia dengan peringkat terbaik, yakni di posisi 7. Sementara itu, Sony Dwi Kuncoro berada di posisi 29, berdekatan dengan Yunus Alamsyah di posisi 28. Sementara Hayom Rumbaka berada di posisi 20, berjarak tidak jauh dari Tommy Sugiarto yang berada di posisi ke-17. Pada perhelatan ajang Djarum Indonesia Open 2013 merupakan ajang terakhir yang diikuti oleh seorang Taufik Hidayat, dimana setelah itu ia memutuskan akan gantung raket atau pensiun dari dunia yang membesarkan namanya tersebut.
  • sunting

    • 1998: Juara Brunei Open
    • 1999: Juara Indonesia Open, Juara SEA Games
    • 2000: Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open, Juara Kejuaraan Asia
    • 2001: Juara Singapore Open
    • 2002: Juara Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Juara Asian Games
    • 2003: Juara Indonesia Open
    • 2004: Juara Indonesia Open, Juara Kejuaraan Asia, Juara Olimpiade
    • 2005: Juara Singapore Open, Juara Kejuaraan Dunia
    • 2006: Juara Indonesia Open, Juara Asian Games
    • 2007: Juara Kejuaraan Asia, Juara SEA Games
    • 2008: Juara Macau Open
    • 2009: Juara US Open, Juara India Open
    • 2010: Juara Canada Open, Juara Indonesia GP Gold, Juara French Open SS
    • 2011: Semifinalis VICTOR- BWF Superseries Finals, Runner Up PROTON MALAYSIA OPEN SUPER SERIES, Semifinalis Victor Korea Open Super Series Premier, Semifinalis Yonex – Sunrise India Open Superseries, Perempat final Indonesia Open Superseries Premier 2011, perempat final 2011 Yonex OCBC US Open Grand Prix Gold, Runner - up 2011 Yonex Canada Open, Semi final Bankaltim Indonesia Open GP Gold 2011, Juara India Open Grand Prix Gold 2011
    • 2012: Semifinal MAYBANK Malaysia Open Presented by PROTON, Perempat final YONEX All England Open Badminton Championships 2012, Semi final Swiss Open 2012, Perempat final 2012 Yonex Australian Open GP Gold, Perempat final Yonex Sunrise India Open 2012, Perempat final YONEX Open Japan 2012.

     

  • sunting

    Periode Ranking Total Main Total Poin 10/6/2013 6 9 31180 3/6/2013 6 9 31180 27/5/2013 6 10 36685 7/12/2012 2 10 71929 4/12/2012 2 10 71929 30/11/2012 2 10 70739

     

Review

Lihat Semua
(13 Review)
  1. khorina Ditulis pada tanggal 02 Agustus 2012 13:46

    yach faktor umur dah ketuaan kali ya jadi loyo selalu kalah terus

  2. LYDIA ASTRID C. Ditulis pada tanggal 19 Juli 2012 20:40

    keren+ganteng+pintar+baik....semangat terus yaaa...kamu andalan Indonesia...............good luck terus...............GBU.............

  3. Facebook ID - 100000277646192 Ditulis pada tanggal 26 Juni 2012 09:28

    Mingkin faktor usia kali ya,.jadi wajar lah udah gk fit kyk dulu,tapi walau gimana pun taufik hidayat udah banyak memenangi kejuaran2,seperti olimpiade,thomas cup,kejuaran dunia,super seris,.sungguh pertasi yg membangga kan,baik secara pribadi mau pun negara

Laporkan Cerita